Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab sederhana namun penuh hikmah: jika tali sandal salah satu kaki putus, jangan memaksakan diri berjalan hanya dengan satu sandal di kaki yang lain. Perintah ini bukan sekadar aturan sopan santun, tetapi mengandung makna menjaga penampilan, menghindari celaan orang, dan tidak meniru cara berjalan setan. Ini adalah bagian dari syariat Islam yang sempurna, yang mengatur bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Pakaian dan Perhiasan, Bab "Disunnahkannya Memakai Sandal di Kaki Kanan Terlebih Dahulu dan Melepasnya dari Kaki Kiri Terlebih Dahulu serta Makruh Berjalan dengan Satu Sandal" (no. 2098), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalam riwayat lain, lafaz hadits ini berbunyi:
<p>إِذَا انْقَطَعَ شِسْعُ أَحَدِكُمْ فَلَا يَمْشِ فِي الْأُخْرَى حَتَّى يُصْلِحَهَا</p>
Artinya: "Jika tali sandal salah seorang di antara kalian putus, maka janganlah ia berjalan dengan sandal yang lain sampai ia memperbaikinya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5855) dan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4137) dengan lafaz yang semakna.
Adapun dalil dari Al-Qur'an yang relevan dengan prinsip menjaga penampilan dan tidak menimbulkan celaan adalah firman Allah Ta'ala:
<p>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ</p>
QS. Al-A'raf [7]: 31
Artinya: "Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid."
Ayat ini menunjukkan perhatian Islam terhadap penampilan yang baik dan tidak menimbulkan kesan buruk di hadapan orang lain.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Larangan Berjalan dengan Satu Sandal
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kemakruhan berjalan dengan satu sandal ketika sandal yang lain putus talinya. Beliau berkata, "Makna hadits ini adalah larangan berjalan dengan satu sandal saja. Alasannya, hal itu membuat seseorang terlihat aneh dan tidak seimbang dalam berjalan, serta dapat mengundang ejekan dan celaan orang lain."
2. Hikmah di Balik Larangan Ini
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa syariat Islam datang untuk menyempurnakan akhlak dan adab, termasuk dalam hal berpakaian dan berhias. Berjalan dengan satu sandal adalah perbuatan yang menyelisihi kebiasaan manusia yang berakal dan dapat menimbulkan kesan buruk. Beliau juga menegaskan bahwa perintah memperbaiki sandal sebelum melanjutkan perjalanan menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya berada dalam keadaan yang tidak layak di hadapan manusia.
3. Perintah Memperbaiki, Bukan Membiarkan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung pelajaran tentang pentingnya memperbaiki apa yang rusak. Beliau berkata, "Islam tidak hanya melarang berjalan dengan satu sandal, tetapi juga memerintahkan untuk memperbaikinya. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya selalu dalam keadaan yang rapi dan tidak membiarkan kekurangan yang bisa diperbaiki."
4. Adab Memakai dan Melepas Sandal
Dalam bab yang sama, Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
<p>إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ</p>
Artinya: "Jika salah seorang di antara kalian memakai sandal, hendaknya memulai dengan yang kanan, dan jika melepas, hendaknya memulai dengan yang kiri."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hikmah memulai dengan kanan saat memakai adalah karena memakai adalah perbuatan yang baik, dan hal-hal yang baik disunnahkan dimulai dengan yang kanan. Adapun saat melepas, dimulai dengan yang kiri agar yang kanan tetap memakai lebih lama, karena ia lebih mulia.
5. Menghindari Tasyabbuh (Meniru) Setan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa berjalan dengan satu sandal termasuk perbuatan yang dilarang karena menyerupai cara berjalan setan. Beliau berkata, "Setan berjalan dengan satu sandal, dan seorang mukmin dilarang meniru perbuatan setan dalam segala hal."
Story Telling
Ada kisah menarik yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat hadits ini, beliau keluar menemui orang-orang dan memukul dahinya dengan tangannya, lalu berkata: "Sesungguhnya kalian berbicara di antara kalian bahwa aku berdusta atas Rasulullah ﷺ untuk membimbing kalian ke jalan yang benar. Jika demikian, aku sendiri akan sesat. Dengarkan. Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda..."
Kisah ini menunjukkan kejujuran dan keteguhan Abu Hurairah dalam menyampaikan hadits. Beliau tidak takut dituduh berdusta, karena beliau yakin bahwa apa yang beliau sampaikan benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya kejujuran dalam menyampaikan ilmu, dan keberanian untuk tetap berada di atas kebenaran meskipun ada yang meragukan.
Kesimpulan Praktis
- Perhatikan penampilan dalam keadaan apa pun — jangan berjalan dengan satu sandal ketika sandal yang lain putus, karena itu menimbulkan kesan buruk dan mengundang celaan.
- Segera perbaiki yang rusak — jika sandal atau pakaian rusak, perbaikilah sebelum melanjutkan aktivitas.
- Jaga adab memakai dan melepas sandal — dahulukan kaki kanan saat memakai, dan kaki kiri saat melepas.
- Jauhi perbuatan yang menyerupai setan — termasuk berjalan dengan satu sandal.
- Teladani kejujuran para sahabat — dalam menyampaikan ilmu, jangan takut pada celaan selama berada di atas kebenaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.