Penjelasan Hadits Muslim No. 208 tentang Dakwah terbuka Nabi kepada kerabat terdekatnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan momen penting ketika Nabi ﷺ diperintahkan Allah untuk mengumumkan dakwah secara terang-terangan kepada keluarga terdekatnya. Beliau mengumpulkan kerabatnya di bukit Shafa dan berseru kepada mereka, mengajak mereka kepada tauhid sebelum datangnya azab yang pedih. Kisah ini juga menunjukkan kebenaran Nabi ﷺ yang telah dikenal jujur oleh kaumnya, serta bagaimana Abu Lahab menolak seruan tersebut hingga Allah menurunkan surat Al-Lahab sebagai bentuk penghinaan dan ancaman baginya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

  1. QS. Asy-Syu'ara' [26]: 214

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."

  1. QS. Al-Lahab [111]: 1

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia."

Hadits: Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab "Qauluhu Ta'ala: Wa Andzir 'Asyirataka Al-Aqrabin", no. 208, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kewajiban berdakwah dimulai dari keluarga terdekat, dan bahwa Nabi ﷺ melakukannya dengan hikmah dan kelembutan. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas peristiwa ini dalam konteks penafsiran surat Al-Lahab.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Urutan Dakwah Dimulai dari Keluarga

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika ayat "Wa andzir 'asyirataka al-aqrabin" turun, Nabi ﷺ memulai dakwahnya kepada keluarga terdekatnya. Ini menunjukkan bahwa dakwah harus dimulai dari yang terdekat, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Tahrim [66]: 6 tentang menjaga keluarga dari api neraka. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di juga menegaskan bahwa mendakwahi keluarga adalah kewajiban pertama sebelum masyarakat luas.

2. Metode Dakwah Nabi ﷺ yang Bijaksana

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggunakan metode yang sangat efektif: beliau memanggil kerabatnya dengan seruan "Ya Shabahah!" (peringatan akan datangnya musuh di waktu subuh) yang merupakan kebiasaan orang Arab saat ada bahaya. Ini membuat mereka segera berkumpul. Kemudian beliau bertanya tentang kepercayaan mereka kepadanya, dan mereka mengakui kejujurannya. Ini adalah metode muqaddimah (pembukaan) yang baik sebelum menyampaikan pesan inti.

3. Pengakuan Kaum Quraisy atas Kejujuran Nabi ﷺ

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa pengakuan Abu Lahab dan yang lain—"Kami tidak pernah mendapati dusta darimu"—adalah bukti bahwa Nabi ﷺ dikenal sebagai Al-Amin (yang terpercaya) sebelum kenabian. Ini menjadi modal dakwah yang sangat kuat. Ketika orang yang selama 40 tahun dikenal jujur berkata tentang wahyu, maka akal sehat akan menerimanya.

4. Reaksi Abu Lahab dan Turunnya Surat Al-Lahab

Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwa Abu Lahab dengan sombongnya berkata, "Celaka engkau, apakah hanya untuk ini engkau mengumpulkan kami?" Maka Allah menurunkan surat Al-Lahab yang mengabadikan kehinaannya. Ini menunjukkan bahwa Allah membela Nabi-Nya dan menghukum orang yang menghina dakwah. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa surat ini adalah mukjizat karena mengabarkan kematian Abu Lahab dalam keadaan kafir, dan memang demikianlah yang terjadi.

5. Makna "Peringatan Sebelum Azab yang Pedih"

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengingatkan kerabatnya tentang azab akhirat, bukan azab dunia. Ini menunjukkan bahwa tujuan dakwah adalah menyelamatkan manusia dari siksa neraka. Beliau tidak menakut-nakuti dengan hal duniawi, tetapi dengan hal yang lebih besar dan kekal.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan bahwa setelah peristiwa di bukit Shafa ini, Nabi ﷺ terus berusaha mendakwahi pamannya, Abu Thalib, yang sangat melindunginya. Ketika Abu Thalib menjelang wafat, Nabi ﷺ mendatanginya dan berkata, "Wahai pamanku, ucapkanlah La ilaha illallah, satu kalimat yang akan aku jadikan hujjah bagimu di sisi Allah." Namun Abu Lahab dan tokoh Quraisy lainnya menghalangi Abu Thalib untuk mengucapkannya, hingga akhirnya Abu Thalib wafat dalam keadaan musyrik. Rasulullah ﷺ bersedih, namun Allah menghiburnya dengan firman-Nya bahwa beliau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang dicintainya, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (QS. Al-Qashash [28]: 56). Kisah ini menunjukkan betapa beratnya perjuangan Nabi ﷺ dalam dakwah, dan bahwa hidayah sepenuhnya di tangan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Mulailah dakwah dari keluarga terdekat — sebelum mengajak orang lain, pastikan keluarga kita telah diajak kepada kebaikan dengan cara yang bijaksana.
  2. Gunakan metode yang tepat — Nabi ﷺ menggunakan pendekatan yang membuat orang tertarik dan tidak langsung menyerang, seperti memulai dengan pengakuan kejujuran beliau.
  3. Jadilah pribadi yang jujur dan terpercaya — karena ini adalah modal dakwah yang paling utama, sebagaimana Nabi ﷺ dikenal sebagai Al-Amin.
  4. Bersabar menghadapi penolakan — dakwah Nabi ﷺ ditolak oleh pamannya sendiri, Abu Lahab, namun beliau tetap istiqamah. Kita pun harus bersabar ketika dakwah kita ditolak.
  5. Yakinlah bahwa Allah akan membela agama-Nya — sebagaimana Allah menurunkan surat Al-Lahab untuk menghibur Nabi ﷺ dan menghina musuh-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?