Penjelasan Hadits Muslim No. 2055 tentang Memuliakan tamu dan mengutamakan orang lain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan tentang kemuliaan akhlak Nabi ﷺ dalam menerima tamu, keutamaan mengutamakan orang lain (itsar), bahaya bisikan setan yang membuat seseorang menyesali kebaikan, serta keajaiban doa Nabi ﷺ yang membawa berkah. Kisah Miqdad bin al-Aswad ini juga menunjukkan bahwa Allah membalas orang yang memberi makan dan minum dengan balasan yang lebih baik, dan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada kesalahan hamba-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Insan [76]: 8-9

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩﴾

Terjemahan: "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Asyribah (Minuman), Bab Ikram ad-Dhaif wa Fadhli al-Itsar. Perawi sahabat: Al-Miqdad bin al-Aswad رضي الله عنه.

Hadits lain yang semakna, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ

"Barangsiapa yang Allah beri makan, hendaklah ia memuji Allah." (HR. Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah: keutamaan itsar (mengutamakan orang lain), kemuliaan akhlak Nabi ﷺ, dan anjuran memuliakan tamu.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa doa Nabi ﷺ "Allahumma ath'im man ath'amanī wa asqi man asqānī" adalah doa yang mustajab dan menjadi sebab turunnya berkah.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa itsar adalah derajat tertinggi dalam kedermawanan, yaitu mendahulukan orang lain meskipun diri sendiri membutuhkan.

Penjelasan Rinci

1. Kemuliaan Nabi ﷺ dalam menerima tamu

Ketika Miqdad dan dua temannya datang dalam keadaan sangat lapar hingga kehilangan kemampuan melihat dan mendengar, para sahabat lain tidak ada yang menerima mereka. Namun Nabi ﷺ langsung membawa mereka ke rumahnya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam memuliakan tamu, sebagaimana Allah memuji beliau dalam QS. Al-Qalam [68]: 4: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki kelebihan harta, namun beliau tetap menerima tamu dengan apa yang ada. Tiga ekor kambing adalah sumber makanan beliau dan keluarganya, namun beliau tetap membaginya dengan para tamu.

2. Adab Nabi ﷺ dalam memberi salam di malam hari

Nabi ﷺ memberi salam dengan cara yang tidak membangunkan orang tidur tetapi didengar oleh orang yang terjaga. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa ini adalah adab yang halus: menjaga hak orang yang beristirahat, namun tetap menunaikan hak salam. Ini mengajarkan kita untuk memperhatikan keadaan orang lain dalam berinteraksi.

3. Bisikan setan dan penyesalan Miqdad

Setan membisikkan kepada Miqdad bahwa Nabi ﷺ tidak membutuhkan susu itu karena akan dijamu oleh kaum Ansar. Miqdad pun meminum bagian Nabi ﷺ. Setelah itu, setan justru membangkitkan penyesalan dan rasa takut yang berlebihan. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa setan bekerja dengan dua cara: pertama, mendorong seseorang berbuat dosa dengan alasan yang tampak logis; kedua, setelah dosa terjadi, setan menjatuhkan putus asa dan rasa takut yang berlebihan agar seseorang meninggalkan taubat dan amal.

4. Doa Nabi ﷺ yang penuh rahmat

Ketika Nabi ﷺ tidak menemukan susunya, beliau tidak marah, tidak mencela, dan tidak mengutuk. Beliau justru mengangkat kepala ke langit dan berdoa: "Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang telah memberiku makan dan berikanlah minum kepada orang yang telah memberiku minum." Ini adalah puncak akhlak kenabian. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa doa ini mengandung pelajaran bahwa seorang Muslim hendaknya membalas kebaikan dengan doa, bukan dengan keluhan.

5. Itsar Miqdad dan berkah yang Allah turunkan

Miqdad kemudian menyembelih kambing terbaik dan memerah susu hingga berbuih, padahal sebelumnya kambing-kambing itu tidak dalam kondisi demikian. Ini adalah berkah dari doa Nabi ﷺ. Allah membalas itsar Miqdad dengan kelimpahan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa berkah adalah sesuatu yang nyata dalam kehidupan para nabi dan orang-orang shalih.

6. Sikap Nabi ﷺ terhadap kesalahan Miqdad

Nabi ﷺ berkata: "Ini tidak lain hanyalah rahmat dari Allah. Mengapa kamu tidak memberitahuku agar kita bisa membangunkan dua temanmu dan mereka juga mendapat bagian?" Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menghukum, tetapi mengarahkan dengan lembut. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa ini adalah contoh nasihat yang penuh hikmah: tidak mencela pelaku, tetapi menunjukkan jalan yang lebih baik.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Miqdad berdosa karena meminum bagian Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa perbuatan Miqdad adalah kelalaian yang dimaafkan karena setan membisikinya, dan Nabi ﷺ sendiri tidak menyalahkannya. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa Miqdad tidak berdosa karena ia telah bertaubat dan Nabi ﷺ mendoakannya dengan doa kebaikan.

Story Telling

Al-Miqdad bin al-Aswad رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang mulia, termasuk golongan awal yang masuk Islam. Dalam kisah ini, ia dan dua temannya datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sangat lapar. Para sahabat lain tidak mampu menerima mereka karena keterbatasan, namun Nabi ﷺ dengan tangan terbuka membawa mereka ke rumahnya.

Malam itu, Miqdad tergoda oleh bisikan setan. Ia meminum susu yang seharusnya untuk Nabi ﷺ. Setelah itu, ia diliputi penyesalan yang luar biasa. Ia tidak bisa tidur, sementara dua temannya tidur nyenyak. Ia membayangkan Nabi ﷺ akan marah dan mendoakan keburukan untuknya.

Namun ketika Nabi ﷺ datang dan tidak menemukan susunya, beliau tidak marah. Beliau justru berdoa: "Ya Allah, berikanlah makan kepada orang yang telah memberiku makan dan berikanlah minum kepada orang yang telah memberiku minum." Doa ini adalah doa yang penuh kasih, seolah-olah Nabi ﷺ tidak melihat kesalahan Miqdad, tetapi melihat kebaikan yang pernah ia lakukan.

Miqdad kemudian bergegas menyembelih kambing dan memerah susu. Allah memberikan berkah pada susu itu hingga berbuih. Nabi ﷺ meminumnya hingga puas, dan Miqdad tertawa bahagia hingga jatuh ke tanah. Nabi ﷺ berkata dengan lembut: "Miqdad, ini pasti salah satu kejahatanmu." Miqdad pun menceritakan apa yang terjadi, dan Nabi ﷺ tidak menghukumnya, tetapi mengajarinya untuk berbagi dengan dua temannya.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan menjadi pelajaran abadi tentang kemuliaan akhlak Nabi ﷺ, keutamaan itsar, dan luasnya rahmat Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Muliakan tamu meskipun kita memiliki keterbatasan, karena memuliakan tamu adalah sunnah Nabi ﷺ dan tanda kemuliaan akhlak.
  2. Berhati-hatilah dengan bisikan setan yang membuat kita menyesali kebaikan atau merasa takut berlebihan setelah berbuat salah. Segera bertaubat dan jangan berputus asa dari rahmat Allah.
  3. Balaslah kebaikan dengan doa, bukan dengan keluhan atau celaan. Doa Nabi ﷺ "Allahumma ath'im man ath'amanī wa asqi man asqānī" adalah doa yang baik untuk diamalkan.
  4. Utamakan orang lain (itsar) dalam hal yang bermanfaat, karena itsar adalah derajat tertinggi dalam kedermawanan.
  5. Bersikap lembut dalam menasihati orang yang berbuat salah, sebagaimana Nabi ﷺ tidak menghukum Miqdad tetapi mengarahkannya dengan kasih sayang.
  6. Yakinlah bahwa berkah itu nyata, dan Allah akan membalas setiap kebaikan dengan balasan yang lebih baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?