Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan keutamaan memuliakan tamu, bahkan ketika tuan rumah sendiri dalam keadaan kekurangan. Seorang Anshar dan istrinya rela "berpura-pura makan" agar tamunya merasa nyaman dan bisa makan dengan tenang, padahal makanan itu sebenarnya hanya cukup untuk anak-anak mereka. Allah ﷻ memuji perbuatan mereka, dan Nabi ﷺ menyampaikannya sebagai teladan dalam menjamu tamu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Insan [76]: 8–9
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."
Ayat ini turun berkaitan dengan sikap orang-orang yang berinfak ikhlas, dan para ulama seperti Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini mencakup para sahabat Anshar yang mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Minuman, Bab Memuliakan Tamu dan Keutamaan Mengutamakannya (no. 2054), dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Hadits lain yang semakna, dari Abu Hurairah juga, diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim tentang seorang Anshar yang menjamu tamu dengan hanya air, lalu Allah menurunkan ayat tentang itsar (mengutamakan orang lain). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi tuan rumah yang mengutamakan tamunya meski dalam kesulitan.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sangat lapar (majhud). Nabi ﷺ berusaha mencari makanan dari rumah para istrinya, namun semuanya hanya memiliki air. Lalu Nabi ﷺ menawarkan: "Siapa yang mau menjamu orang ini malam ini, Allah akan merahmatinya?" Seorang Anshar menyanggupinya.
Di rumah, ia bertanya kepada istrinya apakah ada makanan. Istrinya menjawab hanya ada makanan anak-anak. Sang suami lalu mengatur strategi: anak-anak dibuat tidur lebih dulu, lampu dipadamkan saat tamu makan, dan mereka berdua berpura-pura ikut makan agar tamu tidak merasa sungkan. Tamu pun makan hingga kenyang. Paginya, Nabi ﷺ berkata: "Allah kagum (senang) dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian malam ini."
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak pelajaran:
- Keutamaan memuliakan tamu (ikram adh-dhaif).
- Keutamaan itsar (mengutamakan orang lain atas diri sendiri), bahkan dalam kondisi kekurangan.
- Bolehnya menggunakan cara halus (seperti memadamkan lampu) agar tamu tidak merasa malu atau tidak enak makan.
- Kelembutan seorang suami terhadap istri dan kerja sama mereka dalam kebaikan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa di Bukhari) menyebutkan bahwa perbuatan ini menunjukkan husnuzhan (baik sangka) dan kecerdasan dalam menjamu tamu, serta bahwa tujuan utama adalah membuat tamu nyaman, bukan sekadar menyediakan makanan.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat-ayat awal Surah Al-Insan (termasuk ayat 8–9) berkaitan dengan para sahabat Anshar yang mengutamakan orang lain. Beliau menukil riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa itsar adalah akhlak mulia yang dipuji Allah.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya tentang akhlak menekankan bahwa itsar adalah puncak kedermawanan, karena seseorang memberi meski ia sendiri membutuhkan.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama membahas apakah "Allah kagum" di sini bermakna hakiki atau majaz. Ulama Ahlus Sunnah seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim menetapkan sifat "kagum" (ta'ajjub) bagi Allah sebagaimana disebutkan dalam nash, tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Ini termasuk sifat fi'liyah yang ditetapkan sesuai dalil.
Story Telling
Kisah ini sendiri adalah story telling dari Nabi ﷺ. Bayangkan seorang lelaki datang dalam keadaan sangat lapar, wajahnya pucat, dan ia mengadu kepada Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ yang mulia berkeliling ke rumah para istrinya, namun semuanya hanya punya air. Betapa berat hati Nabi ﷺ saat itu.
Lalu seorang Anshar berdiri dengan ringan: "Saya, ya Rasulullah." Ia membawa tamu itu ke rumahnya. Di rumah, ia berbisik kepada istrinya: "Kita hanya punya makanan anak-anak. Tapi malam ini kita punya tamu. Buatlah anak-anak tidur, padamkan lampu saat tamu makan, dan kita pura-pura ikut makan agar ia tidak malu."
Mereka duduk dalam gelap, tangan bergerak seolah mengambil makanan, sementara tamu itu makan dengan tenang hingga kenyang. Tidak ada yang tahu bahwa tuan rumah dan istrinya menahan lapar demi tamu.
Pagi harinya, Nabi ﷺ tersenyum dan berkata: "Allah kagum dengan perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian malam ini."
Hikmahnya: Itsar bukan sekadar memberi, tapi memberi dengan cara yang menjaga harga diri penerima. Dan Allah ﷻ melihat bukan hanya apa yang kita beri, tapi juga bagaimana kita memberi.
Kesimpulan Praktis
- Muliakan tamu meski dalam keterbatasan — yang penting adalah usaha dan ketulusan, bukan kemewahan.
- Utamakan orang lain (itsar) dalam hal kebaikan, terutama tamu dan orang yang membutuhkan.
- Jaga perasaan tamu — sajikan dengan cara yang membuatnya nyaman, tidak merasa membebani.
- Kerja sama suami-istri dalam kebaikan adalah kunci keberkahan rumah.
- Ikhlas karena Allah — pujian Allah jauh lebih berharga daripada pujian manusia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.