Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab menerima tamu, keutamaan memuliakan tamu, dan kesederhanaan para sahabat. Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakr dan Umar keluar karena lapar, lalu dijamu oleh seorang Anshar dengan penuh kemuliaan. Di akhir hadits, Nabi ﷺ mengingatkan bahwa nikmat makanan dan minuman itu akan ditanya di Hari Kiamat, sehingga kita harus bersyukur dan tidak berlebihan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Minuman, Bab Diperbolehkannya Mengundang Orang Lain ke Rumah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang disebutkan memuat beberapa pelajaran penting, di antaranya:
- Nabi ﷺ dan dua sahabatnya keluar karena lapar.
- Mereka bertamu ke rumah seorang Anshar yang tidak ada di rumah, lalu istrinya menyambut dengan baik.
- Tuan rumah menyajikan kurma dalam berbagai jenis dan menyembelih kambing.
- Nabi ﷺ melarang menyembelih hewan yang sedang menyusui.
- Nabi ﷺ mengingatkan bahwa nikmat tersebut akan ditanya di Hari Kiamat.
Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang nikmat yang akan ditanya:
QS. At-Takatsur [102]: 8
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Terjemahan: "Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)."
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini mencakup pertanyaan tentang nikmat makanan, minuman, kesehatan, dan segala kenikmatan yang Allah berikan. Hal ini sejalan dengan hadits Abu Hurairah ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:
Pertama: Kejujuran dan kesederhanaan para sahabat.
Ketika Nabi ﷺ bertanya mengapa mereka keluar pada waktu itu, Abu Bakr dan Umar menjawab dengan jujur: "Karena lapar." Mereka tidak mencari alasan atau berbohong. Ini menunjukkan adab mereka dalam berbicara dan kejujuran yang tinggi.
Kedua: Nabi ﷺ juga manusia yang merasakan lapar.
Nabi ﷺ bersabda: "Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, yang mengeluarkan kalian juga mengeluarkan aku." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengklaim dirinya memiliki keistimewaan yang membuatnya tidak merasakan kebutuhan manusiawi. Ini juga mengajarkan tawadhu dan kejujuran.
Ketiga: Adab bertamu dan memuliakan tamu.
Ketika mereka sampai di rumah seorang Anshar, istrinya menyambut dengan "Marhaban wa ahlan" (selamat datang). Ini menunjukkan adab istri dalam menerima tamu meskipun suaminya tidak ada. Kemudian tuan rumah datang dan langsung memuji Allah serta merasa bangga karena memiliki tamu yang mulia. Ia menyajikan kurma dalam tiga jenis: busr (kurma mentah), tamr (kurma kering), dan ruthab (kurma segar). Ini menunjukkan kemurahan hati dan kesungguhan dalam memuliakan tamu.
Keempat: Larangan menyembelih hewan yang sedang menyusui.
Nabi ﷺ bersabda: "Iyyaka wal halub" (hati-hati dengan yang sedang menyusui). Ini adalah larangan menyembelih hewan yang sedang menyusui karena akan menyakiti hewan tersebut dan anaknya. Ini menunjukkan rahmat Islam terhadap hewan.
Kelima: Nikmat akan ditanya di Hari Kiamat.
Setelah mereka makan dan kenyang, Nabi ﷺ mengingatkan: "Kalian pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada Hari Kiamat." Ini bukan larangan menikmati nikmat, tetapi peringatan agar tidak lalai dan tetap bersyukur. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa nikmat yang halal pun akan ditanya, apakah digunakan untuk taat atau tidak.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa pertanyaan tentang nikmat bisa berarti pertanyaan tentang syukur. Apakah hamba bersyukur atas nikmat tersebut atau tidak. Sedangkan Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa pertanyaan ini bisa bersifat umum untuk semua nikmat, dan bisa khusus untuk nikmat tertentu. Namun yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa setiap nikmat akan ditanya, sebagaimana zahir ayat dan hadits.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya karena merasakan lapar yang sangat. Beliau bertemu dengan Abu Bakr dan Umar yang juga keluar karena lapar. Mereka bertiga kemudian pergi ke rumah seorang Anshar. Ketika sampai di sana, tuan rumah sedang tidak ada, tetapi istrinya menyambut mereka dengan penuh hormat.
Tidak lama kemudian, tuan rumah datang membawa air segar. Melihat kedatangan Nabi ﷺ dan dua sahabatnya, ia langsung memuji Allah dan berkata: "Tidak ada orang yang lebih beruntung dariku hari ini, karena aku kedatangan tamu yang paling mulia." Ia segera menyajikan kurma dalam berbagai jenis dan menyembelih kambing untuk mereka.
Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak menyembelih hewan yang sedang menyusui. Setelah mereka makan dan kenyang, Nabi ﷺ bersabda: "Demi Allah, kalian akan ditanya tentang nikmat ini di Hari Kiamat. Lapar yang mengeluarkan kalian dari rumah, kemudian kalian tidak kembali sampai nikmat ini datang kepada kalian."
Hikmah dari kisah ini adalah betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap syukur dan tanggung jawab atas nikmat. Beliau tidak melarang menikmati makanan, tetapi mengingatkan bahwa semua akan dipertanggungjawabkan.
Kesimpulan Praktis
- Jujurlah dalam berbicara, termasuk tentang keadaan diri sendiri.
- Muliakan tamu dengan sebaik-baiknya, sesuai kemampuan.
- Sayangi hewan dan jangan menyakiti mereka, termasuk tidak menyembelih yang sedang menyusui.
- Bersyukurlah atas nikmat makanan dan minuman, karena semua akan ditanya di Hari Kiamat.
- Jangan berlebihan dalam menikmati nikmat, tetapi gunakan untuk ketaatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.