Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2035 tentang Menjilati jari setelah makan untuk mendapatkan berkah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia ketika makan, yaitu menjilati jari-jari tangan setelah selesai makan karena kita tidak mengetahui di jari mana keberkahan makanan itu berada. Ini termasuk sunnah yang dianjurkan sebagai bentuk syukur dan menghargai nikmat Allah, sekaligus mengambil berkah yang tersisa.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Hadits:

Rasulullah ﷺ bersabda:

<p>إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَلْعَقْ أَصَابِعَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي فِي أَيَّتِهِنَّ الْبَرَكَةُ</p>

"Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menjilati jari-jarinya, karena ia tidak mengetahui di jari yang mana keberkahan itu berada." (HR. Muslim no. 2035, dari Abu Hurairah)

Dalil Pendukung:

Hadits serupa dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

<p>إِذَا وَقَعَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ</p>

"Apabila suapan salah seorang di antara kalian jatuh, ambillah, lalu bersihkan kotoran yang menempel padanya, kemudian makanlah, jangan ia biarkan untuk setan." (HR. Muslim no. 2034)

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Minuman, Bab Disunnahkan Menjilati Jari dan Piring. Para ulama menjelaskan bahwa perintah menjilati jari ini bersifat sunnah, bukan wajib. Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan:

"Hadits ini menunjukkan anjuran menjilati jari setelah makan. Alasannya adalah karena kita tidak tahu di jari mana keberkahan itu berada. Berkah di sini bisa berarti manfaat, kebaikan, atau keberkahan materi dan spiritual yang terkandung dalam makanan." (al-Minhaj, 13/208)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keberkahan makanan bisa berada di sisa-sisa yang menempel di jari, piring, atau bahkan suapan yang jatuh. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengambil dan memakannya.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) berkata: "Perintah menjilati jari merupakan bagian dari kesempurnaan adab makan, yaitu tidak menyia-nyiakan makanan sekecil apa pun, karena makanan adalah nikmat Allah yang wajib disyukuri." (Jami' al-Ulum wa al-Hikam, 2/456)

Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menegaskan bahwa hadits ini sahih dan diamalkan oleh para sahabat dan salaf. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama menganjurkan untuk menjilati piring setelah makan, sebagaimana hadits dari Anas bin Malik.

Adapun perbedaan pendapat di kalangan ulama: sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah tidak mewajibkan, namun tetap menganjurkan. Sementara Imam Malik dan Imam Ahmad memandang perbuatan ini sebagai sunnah yang sangat dianjurkan. Semua sepakat bahwa tujuannya adalah untuk mengambil berkah dan tidak menyia-nyiakan nikmat Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه – perawi hadits ini – bahwa ia sangat memperhatikan adab makan. Suatu hari, ia melihat seorang pemuda yang setelah makan langsung mencuci tangan tanpa menjilati jari-jarinya. Maka Abu Hurairah menegurnya dengan lembut:

"Wahai anakku, sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menjilati jari-jari setelah makan, karena kami tidak tahu di jari mana keberkahan itu berada." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat telaten dalam mengajarkan sunnah kepada generasi sesudahnya, tanpa marah atau mencela, melainkan dengan nasihat yang penuh kasih.

Kesimpulan Praktis

  1. Lakukanlah sunnah menjilati jari setelah makan sebagai bentuk syukur dan mengharap berkah.
  2. Jangan menyia-nyiakan makanan, bahkan sisa di jari dan piring, karena bisa jadi di situlah keberkahan.
  3. Ajarkan adab ini kepada keluarga dengan lembut, tanpa memaksa, sebagai bagian dari akhlak Islam.
  4. Iringi dengan doa setelah makan sebagaimana sunnah, misalnya membaca alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana minal muslimin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.