Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2034 tentang Bab tentang Disunnahkan Menjilati Jari dan Piring serta Memakan Makanan yang Jatuh Setelah Menghapus Kotoran yang Menimpanya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan tiga adab mulia saat makan: (1) menjilati tiga jari setelah makan karena berkah tidak diketahui di bagian mana, (2) memakan kembali makanan yang jatuh setelah membersihkannya dan jangan meninggalkannya untuk setan, dan (3) mengusap piring hingga bersih dari sisa makanan. Semua ini adalah bentuk syukur atas nikmat Allah dan menghormati makanan sebagai karunia-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim

Teks Arab lengkap (sesuai periwayatan Shahih Muslim, Kitab al-Asyribah, Bab Isti’bab La’qi al-Ashabi’ wa al-Qash’ah, no. 2034):

<p dir="rtl">وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ. قَالَ وَقَالَ: إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ. وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الْقَصْعَةَ قَالَ: فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ.</p>

Terjemahan:

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila selesai makan, beliau menjilati tiga jarinya. Beliau bersabda: “Apabila suapan salah seorang dari kalian jatuh, maka hendaklah ia membersihkan kotoran yang menempel padanya lalu memakannya, dan janganlah ia meninggalkannya untuk setan.” Dan beliau memerintahkan kami untuk mengusap piring (hingga bersih) seraya bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana dari makanan kalian terdapat keberkahan.”

Ayat Al-Qur’an (sebagai penguat adab syukur):

QS. Al-A‘raf [7]: 31 – “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Ayat ini menjadi landasan agar tidak menyia-nyiakan makanan).

QS. Al-Baqarah [2]: 172 – “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Memakan makanan yang baik dan tidak membuangnya adalah bagian dari syukur).

Rujukan Ulama dari Daftar:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa menjilati jari, memakan makanan jatuh, dan membersihkan piring adalah sunnah yang dianjurkan karena mengharap berkah dan menjauhkan diri dari perbuatan setan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (Kitab al-At’imah, bab La’q al-Ashabi’) menyebutkan hikmahnya: “Berkah bisa berada di sisa makanan yang menempel di jari atau piring, dan setan suka mengambil makanan yang dibuang.”
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (syarh hadits ke-29 tentang nikmat) menekankan bahwa menjaga makanan dari keburukan adalah bagian dari syukur dan tawadhu’.
  • Imam Ahmad bin Hanbal (dalam al-Musnad dan periwayatan dari putranya) sangat memperhatikan adab ini dan sering mempraktikkannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung tiga petunjuk praktis yang saling terkait:

  1. Menjilati Tiga Jari

Rasulullah ﷺ biasa makan dengan menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, dan tengah). Setelah selesai, beliau menjilati jari-jari tersebut. Imam an-Nawawi berkata: “Ini adalah sunnah yang jelas. Makanan yang menempel di jari tidak boleh dibuang sia-sia, karena barakah bisa ada di sisa yang sedikit.” Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menambahkan bahwa kebiasaan ini menunjukkan tawadhu’ dan penghormatan terhadap nikmat.

  1. Memakan Makanan yang Jatuh

Sabda Nabi ﷺ: “Apabila suapan salah seorang dari kalian jatuh, maka hendaklah ia membersihkan kotoran yang menempel padanya lalu memakannya, dan janganlah ia meninggalkannya untuk setan.”

Ulama seperti Imam al-Bukhari (dalam Shahih-nya meriwayatkan makna serupa) dan Muslim sama-sama menegaskan bahwa setan senang mengambil makanan yang dibuang. Ibn Rajab menjelaskan: “Setan adalah musuh yang selalu mencari celah. Meninggalkan makanan yang jatuh tanpa memakannya berarti memberikan kesempatan kepada setan untuk mengambil berkah darinya.” Oleh karena itu, membersihkannya dan memakannya adalah bentuk perlawanan terhadap godaan setan dan menjaga keberkahan.

  1. Mengusap Piring

“Nassluta al-qaṣ‘ah” berarti membersihkan piring dengan jari atau lidah hingga tidak tersisa makanan. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana dari makanan kalian terdapat keberkahan.”

Imam an-Nawawi menerangkan: “Barakah bisa berada di sisa-sisa yang menempel di piring. Maka janganlah kita menyia-nyiakannya, karena bisa jadi justru bagian itulah yang membawa keberkahan bagi tubuh dan jiwa.”

Ibnu Hajar menambahkan bahwa perintah ini bersifat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan tidak boleh dianggap remeh karena mengandung nilai syukur dan pengagungan terhadap nikmat Allah.

Perbedaan ringan di kalangan ulama: Ada yang memaknai “tiga jari” sebagai tiga jari yang biasa dipakai makan (jempol, telunjuk, tengah), ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah semua jari yang digunakan, namun yang lazim adalah tiga jari. Namun inti ajarannya sama: tidak menyia-nyiakan makanan.

Story Telling

Kisah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu

Beliau adalah pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Dalam banyak riwayat, Anas mencontohkan bahwa beliau sendiri selalu mempraktikkan adab ini. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad bahwa suatu ketika Anas melihat seorang sahabat yang membuang sisa makanan, maka Anas menegurnya dengan lembut: “Jangan lakukan itu, karena Rasulullah ﷺ melarangnya.” Perilaku ini menunjukkan betapa dalamnya penghormatan para sahabat terhadap sunnah, sekecil apa pun.

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal

Diceritakan oleh putranya, Abdullah, bahwa ayahnya – meskipun hidup dalam kesederhanaan – sangat menjaga adab makan. Apabila ada suapan yang jatuh, beliau segera mengambilnya, membersihkannya, lalu memakannya sambil berkata: “Aku tidak ingin memberikannya kepada setan.” (Sumber: Syarh as-Sunnah al-Barbahari, dan disebutkan oleh Ibn Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum). Hikmahnya: betapa ulama besar pun tetap merendahkan diri di hadapan nikmat Allah.

Kesimpulan Praktis

  • Biasakan menjilati sisa makanan yang menempel di jari setelah menyantap hidangan dengan tangan. Jika menggunakan sendok garpu, usahakan membersihkan alat makan hingga tidak tersisa.
  • Ambil dan bersihkan makanan yang jatuh (selama tidak terkena najis berat), lalu makanlah. Jangan biarkan terbuang sia-sia.
  • Usap atau bersihkan piring hingga hampir tidak ada sisa makanan. Ini bukan pelit, melainkan bentuk syukur dan keyakinan bahwa barakah bisa ada di bagian yang terakhir.
  • Jauhkan rasa sayang yang berlebihan pada makanan (misalnya karena jumlah sedikit) sehingga malas mengambilnya. Justru sisa yang sedikit bisa menjadi penyebab berkah.
  • Ajarkan adab ini kepada keluarga dengan cara yang lembut, bukan dengan paksaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.