Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1888 tentang Bab Keutamaan Jihad dan Pertahanan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa amal utama manusia adalah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Setelah itu, keutamaan kedua adalah seorang mukmin yang mengasingkan diri di celah gunung untuk beribadah kepada Allah dan menjaga manusia dari kejahatannya. Ini mengajarkan bahwa jihad adalah puncak amal, namun di saat fitnah merajalela, menyendiri untuk menjaga agama juga sangat mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait (tentang jihad):

QS. At-Taubah [9]: 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan (balasan) surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang agung."

Ayat tentang menyendiri untuk ibadah (uzlah):

QS. Al-Muzzammil [73]: 2-4

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Terjemahan: "Bangunlah pada malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan."

Hadits yang dijelaskan:

Shahih Muslim, no. 1888, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Lafazh lengkap sebagaimana dalam soal.

Penjelasan ulama:

  • Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (13/34-35) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan jihad di atas segala amal lainnya. Beliau mengutip bahwa jihad adalah puncak keislaman dan amal paling utama setelah iman.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (6/6) menjelaskan bahwa makna "celah gunung" adalah tempat yang terpencil dan aman, dan yang dimaksud adalah seorang mukmin yang mengasingkan diri untuk menyelamatkan agamanya dari fitnah dunia.
  • Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/367-368) menjelaskan bahwa hadits ini mengisyaratkan dua jalan utama bagi orang beriman: berjuang (jihad) dan 'uzlah (menyendiri) ketika fitnah merebak, sebagaimana dilakukan oleh banyak salaf.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan juga dalam kitab-kitab hadits utama lainnya. Pertanyaan seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ, "Siapakah sebaik-baik manusia?" dijawab dengan dua tingkatan.

Pertama: Seorang laki-laki yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Ini menunjukkan bahwa jihad adalah amal yang paling utama dan paling dicintai Allah. Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i menegaskan bahwa jihad fardhu kifayah menjadi fardhu 'ain ketika kaum muslimin diserang. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, "Jihad adalah puncak dari amal. Tidak ada amal yang lebih utama daripada jihad selama seorang mukmin masih hidup." (diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf).

Kedua: Setelah itu, Nabi ﷺ menyebutkan "seorang mukmin yang tinggal di celah gunung, menyembah Tuhannya, dan meninggalkan manusia dari kejahatannya." Ini adalah gambaran orang yang mengasingkan diri (‘uzlah) untuk menjaga agamanya di tengah fitnah dan kerusakan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maksudnya adalah orang yang tidak bercampur dengan manusia, tidak disibukkan oleh urusan dunia, dan fokus ibadah. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa 'uzlah tidaklah lebih utama daripada jihad ketika jihad diwajibkan.

Para ulama membahas bahwa 'uzlah ini utama bagi orang yang tidak mampu melawan keburukan atau tidak mampu menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Ibnu Hajar al-Asqalani menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri, "Di akhir zaman, yang selamat hanyalah orang yang lari ke puncak gunung, seperti dulu orang-orang saleh lari ke gua." (Fathul Bari, 12/240).

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 7087) hadits yang semakna, dengan tambahan bahwa seorang mukmin yang mengasingkan diri itu lebih baik daripada orang yang bercampur dengan manusia tetapi tidak bisa menjaga diri dari kejahatan.

Yang perlu digarisbawahi: hadits ini tidaklah bertentangan dengan perintah untuk bermasyarakat dan berdakwah. Namun, jika seseorang dalam posisi lemah dan fitnah merajalela, maka menyelamatkan diri sendiri dengan 'uzlah menjadi lebih utama. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa para ulama salaf berbeda pendapat; sebagian lebih memilih 'uzlah, sebagian lagi lebih memilih bergaul untuk beramar ma'ruf nahi munkar. Namun, semua sepakat bahwa jihad adalah amal yang paling utama, dan 'uzlah adalah jalan untuk menjaga keselamatan agama ketika jihad tidak mungkin dilakukan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Fudail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in, beliau sering menasihati murid-muridnya tentang pentingnya 'uzlah di akhir zaman. Suatu hari beliau ditanya, "Wahai Abu Ali, apakau yang engkau perintahkan kepada kami?" Beliau menjawab, "Aku perintahkan kalian untuk takut kepada Allah, diam, dan tinggal di rumah. Tahanlah lidahmu, tahanlah tanganmu, tangisilah dosa-dosamu, dan janganlah bergaul dengan masyarakat kecuali untuk kebaikan. Sungguh, akan datang suatu zaman di mana yang selamat hanyalah orang yang menggenggam agamanya seperti menggenggam bara api." (Riwayat Ibn Abi ad-Dunya dalam al-'Uzlah, no. 133, sanad hasan).

Kisah ini mengingatkan kita bahwa di tengah fitnah dunia, menjaga agama adalah prioritas utama. Namun, ini tidak berarti meninggalkan jihad, karena jihad memiliki kedudukan mulia. Fudail sendiri adalah seorang yang sangat warak dan zuhud, namun beliau juga pernah ikut berjihad di perbatasan.

Nabi ﷺ sendiri bersabda dalam hadits lain, "Sebaik-baik amal adalah jihad di jalan Allah, dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang meninggalkan jihad." (Shahih al-Bukhari, no. 2785). Jadi, keseimbangan antara jihad dan 'uzlah harus disesuaikan dengan kondisi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jihad fi sabilillah adalah amal paling utama yang dicintai Allah. Setiap muslim hendaknya berniat dan berusaha untuk berjihad sesuai kemampuannya, baik dengan harta, ilmu, atau jiwa.
  2. Jika seseorang hidup di zaman penuh fitnah dan tidak mampu menjalankan amar ma'ruf nahi munkar tanpa membahayakan agamanya, maka 'uzlah (mengasingkan diri) untuk fokus ibadah dan menjaga diri dari dosa adalah pilihan yang baik.
  3. Jangan sekali-kali meremehkan jihad karena keutamaan agungnya, dan jangan pula menjadikan 'uzlah sebagai alasan untuk tidak peduli dengan sesama muslim.
  4. Hadits ini mengajarkan bahwa keselamatan agama adalah prioritas utama. Maka, pilihlah jalan yang paling menyelamatkan imanmu, baik dengan berjuang aktif atau dengan menjaga diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.