Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan jumlah para sahabat yang ikut berbai'at kepada Nabi ﷺ di bawah pohon (Bai'at Ridwan), yaitu sekitar seribu tiga ratus orang. Hadits ini juga menyebutkan bahwa suku Aslam merupakan seperdelapan dari jumlah kaum Muhajirin. Tujuannya adalah menegaskan besarnya dukungan kaum Muslimin saat peristiwa penting itu, dan menunjukkan bahwa bai'at kepada pemimpin saat perang adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan Bai'at Ridwan:
QS. Al-Fath [48]: 18
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Terjemahan: "Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berbai'at kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Kepemimpinan (Al-Imarah), dari sahabat Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu 'anhu.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan jumlah sahabat Bai'at Ridwan dan keutamaan mereka.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas perbedaan riwayat tentang jumlah mereka, dan menyimpulkan bahwa jumlah yang paling shahih adalah seribu tiga ratus atau seribu empat ratus.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menerangkan dua hal penting:
Pertama, jumlah para sahabat yang berbai'at di bawah pohon. Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa mereka berjumlah seribu tiga ratus orang. Dalam riwayat lain disebutkan seribu empat ratus, dan ada pula yang menyebut seribu lima ratus. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perbedaan ini terjadi karena sebagian sahabat menghitung berdasarkan perkiraan, dan yang paling kuat adalah seribu tiga ratus atau seribu empat ratus. Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa semua riwayat ini shahih dan tidak saling bertentangan, karena perbedaan hanya pada cara penghitungan.
Kedua, hadits ini menyebutkan bahwa suku Aslam merupakan seperdelapan dari kaum Muhajirin. Ini menunjukkan bahwa suku Aslam memiliki kontribusi besar dalam peristiwa Bai'at Ridwan. Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam bab tentang disunnahkannya membai'at pemimpin perang dan penjelasan Bai'at Ridwan, yang menunjukkan bahwa bai'at kepada pemimpin saat perang adalah amalan yang disyariatkan.
Para ulama seperti Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa Bai'at Ridwan adalah bai'at khusus yang terjadi pada tahun keenam Hijriah saat Nabi ﷺ dan para sahabat hendak menunaikan umrah, namun dihalangi oleh kaum Quraisy. Bai'at ini bukan bai'at untuk mati, melainkan bai'at untuk tidak melarikan diri dari medan perang. Allah ﷻ kemudian menurunkan ayat di atas sebagai pujian dan keridhaan-Nya kepada para sahabat yang berbai'at.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keridhaan Allah kepada para sahabat yang berbai'at, dan bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga menegaskan bahwa bai'at kepada pemimpin saat perang adalah sunnah yang harus diikuti, dengan syarat pemimpin tersebut adalah pemimpin yang sah dan bai'at dilakukan untuk ketaatan kepada Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa pada tahun keenam Hijriah, Nabi ﷺ dan para sahabat berangkat menuju Makkah untuk menunaikan umrah. Ketika sampai di Hudaibiyah, mereka dihalangi oleh kaum Quraisy. Nabi ﷺ kemudian mengutus Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu untuk bernegosiasi. Ketika tersiar kabar bahwa Utsman terbunuh, Nabi ﷺ mengajak para sahabat untuk berbai'at di bawah sebuah pohon. Mereka berbai'at untuk tidak melarikan diri dari medan perang. Abdullah bin Abu Aufa radhiyallahu 'anhu, yang saat itu masih muda, termasuk di antara mereka. Ia menceritakan bahwa jumlah mereka seribu tiga ratus orang, dan suku Aslam merupakan seperdelapan dari kaum Muhajirin. Allah ﷻ kemudian menurunkan ayat tentang keridhaan-Nya kepada mereka, dan setelah itu tercapai perdamaian Hudaibiyah yang menjadi pintu kemenangan besar bagi Islam. (Sumber: Shahih Muslim, Syarah an-Nawawi, Fathul Bari)
Kesimpulan Praktis
- Bai'at kepada pemimpin saat perang adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ, dengan syarat pemimpin tersebut sah dan bai'at untuk ketaatan kepada Allah.
- Para sahabat Bai'at Ridwan adalah generasi terbaik yang mendapat keridhaan Allah, dan kita wajib mencintai mereka.
- Perbedaan riwayat tentang jumlah mereka tidak mengurangi keutamaan mereka, karena semua riwayat shahih dan saling melengkapi.
- Hendaknya kita meneladani semangat pengorbanan dan kesetiaan para sahabat dalam membela agama Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.