Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1855 tentang Ciri pemimpin baik dan buruk serta batas ketaatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang saling mencintai dan mendoakan dengan rakyatnya, sedangkan pemimpin buruk adalah sebaliknya. Namun, meskipun pemimpin itu buruk, kita tidak boleh memberontak atau melawan mereka dengan kekerasan selama mereka masih menegakkan shalat. Yang diperintahkan hanyalah membenci perbuatan buruk mereka, bukan menarik diri dari ketaatan dalam hal yang baik.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. An-Nisa' [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara kalian."

Hadits:

Hadits riwayat Shahih Muslim no. 1855 dari 'Auf bin Malik Al-Asyja'i radhiyallahu 'anhu. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Kitab Al-Imarah (Kepemimpinan), Bab: "Khairul A'immah wa Syiraruhum" (Pilihan Pemimpin yang Baik dan Buruk).

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/228-229) menjelaskan hadits ini secara rinci. Beliau berkata: "Hadits ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang memiliki sifat saling mencintai dan mendoakan dengan rakyatnya. Adapun pemimpin yang buruk adalah yang sebaliknya. Namun, meskipun demikian, tidak boleh memberontak terhadap mereka selama mereka masih menegakkan shalat."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa (35/7-8) menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil tentang kewajiban taat kepada pemimpin dalam hal kebaikan, dan larangan memberontak meskipun pemimpin tersebut memiliki kekurangan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari daftar rujukan:

1. Kriteria Pemimpin Baik dan Buruk

Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Mufhim (4/148) menjelaskan bahwa sifat pemimpin baik adalah:

  • Saling mencintai dengan rakyatnya (تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ)
  • Saling mendoakan kebaikan (يُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ)

Adapun pemimpin buruk memiliki sifat sebaliknya: saling membenci dan saling mengutuk.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjah Qulub Al-Abrar (hal. 87) menjelaskan: "Cinta antara pemimpin dan rakyat adalah tanda kebaikan, karena cinta akan melahirkan kepercayaan, kerjasama, dan kemaslahatan bersama. Sebaliknya, kebencian akan melahirkan perpecahan dan kerusakan."

2. Larangan Memberontak Meskipun Pemimpin Buruk

Ini adalah poin paling penting dalam hadits. Ketika para sahabat bertanya: "Haruskah kita menggulingkan mereka dengan pedang?" Rasulullah ﷺ menjawab tegas: "Tidak, selama mereka mendirikan shalat di antara kalian."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/229) menjelaskan makna "mendirikan shalat" di sini: "Maknanya adalah selama mereka masih menampakkan keislaman dan tidak menampakkan kekufuran yang nyata. Karena shalat adalah tiang agama dan pembeda antara muslim dan kafir."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As-Sunnah (4/527) menegaskan: "Hadits ini menunjukkan bahwa pemimpin yang zalim sekalipun tidak boleh dilawan dengan pedang selama mereka masih muslim. Yang diperintahkan hanyalah membenci perbuatan buruk mereka, bukan memberontak."

3. Sikap yang Benar Terhadap Pemimpin yang Buruk

Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari pemimpin kalian, maka bencilah perbuatannya, tetapi janganlah kalian menarik diri dari ketaatan."

Imam Al-Barbahari (w. 329 H) dalam Syarh As-Sunnah (no. 146) menjelaskan: "Kita tetap taat kepada pemimpin dalam hal kebaikan, meskipun mereka berbuat zalim. Kita membenci kezaliman mereka, tetapi tidak boleh keluar dari ketaatan. Inilah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah."

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab At-Tauhid (Bab: Min Asy-Syirki Isti'anah bi Ghairillah) menukil hadits ini dan menjelaskan bahwa larangan memberontak adalah untuk menjaga persatuan umat dan mencegah pertumpahan darah.

4. Pengecualian: Kekufuran yang Nyata

Para ulama menjelaskan bahwa larangan memberontak ini berlaku selama pemimpin masih muslim. Jika pemimpin menampakkan kekufuran yang nyata (seperti meninggalkan shalat atau menghalalkan yang haram), maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Masa'il (riwayat Abu Dawud) ditanya tentang memberontak pemimpin yang zalim, beliau menjawab: "Tidak boleh, selama mereka masih mendirikan shalat. Adapun jika mereka meninggalkan shalat, maka mereka telah kafir."

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (no. 1855) menjelaskan: "Hadits ini menjadi dalil bahwa pemimpin yang meninggalkan shalat secara total telah keluar dari Islam, dan boleh diperangi. Namun, jika mereka masih shalat meskipun berbuat zalim, maka tidak boleh memberontak."

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih (no. 7144) dan Imam Muslim (no. 1849) dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan taat, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan semangat maupun malas, dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang berhak, serta untuk mengatakan kebenaran di mana pun kami berada."

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (13/7) menjelaskan: "Baiat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah kewajiban, dan tidak boleh memberontak meskipun pemimpin berbuat zalim. Yang diperintahkan hanyalah menasihati mereka dengan cara yang baik."

Kisah lain datang dari sahabat 'Auf bin Malik sendiri, perawi hadits ini. Beliau adalah seorang sahabat yang ikut dalam Perang Tabuk dan dikenal sebagai ahli ibadah. Suatu hari, beliau melihat seorang pemimpin yang berbuat zalim, lalu beliau hanya berkata: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada pemimpin kami." Beliau tidak pernah mengajak untuk memberontak, karena memahami hadits yang beliau riwayatkan sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah pemimpin yang baik dan doakan mereka, karena cinta dan doa adalah tanda kebaikan bersama.
  2. Bencilah perbuatan buruk pemimpin, bukan pribadinya. Jangan sampai kebencian terhadap perbuatan buruknya membuat kita keluar dari ketaatan dalam hal yang baik.
  3. Jangan memberontak terhadap pemimpin muslim selama mereka masih menegakkan shalat, meskipun mereka berbuat zalim. Ini adalah ajaran Ahlus Sunnah untuk menjaga persatuan.
  4. Tetaplah taat dalam hal kebaikan, karena ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  5. Nasihatilah pemimpin dengan cara yang baik dan sembunyi-sembunyi, sebagaimana diajarkan oleh para ulama salaf.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.