Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah panduan Nabi ﷺ yang sangat penting tentang bagaimana sikap seorang Muslim ketika menghadapi masa-masa fitnah (kekacauan dan ujian). Intinya, ketika terjadi perpecahan dan muncul para pengajak kepada kesesatan, seorang Muslim diperintahkan untuk tetap berpegang teguh pada jamaah kaum Muslimin dan pemimpinnya. Jika tidak ada jamaah dan pemimpin yang sah, maka ia harus mengasingkan diri dari semua kelompok yang berselisih, menjaga agama dan dirinya, meskipun harus menggigit akar pohon hingga datang kematian. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya menjaga keselamatan iman di tengah kekacauan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Kepemimpinan, Bab "Perintah untuk Mempertahankan Jamaah di Saat Munculnya Fitnah dan Peringatan terhadap Para Pengajak kepada Kekufuran" (No. 1847). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (No. 3606, 7084) dari jalur periwayatan yang berbeda.
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu. Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal [8]: 46)
Ayat ini menegaskan larangan berselisih dan perintah untuk bersatu, yang sejalan dengan inti pesan hadits di atas.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung perintah untuk luzum al-jama'ah (berpegang teguh pada jamaah) dan larangan keluar dari ketaatan kepada pemimpin. Beliau juga menjelaskan makna "dakhan" (asap) sebagai keadaan yang tidak murni, yaitu kebaikan yang tercampur dengan keburukan.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) membahas hadits ini secara panjang lebar, terutama tentang makna "para pengajak di pintu-pintu neraka" dan bagaimana cara mengenali mereka. Beliau menukil penjelasan para ulama bahwa ciri-ciri mereka adalah dari kalangan umat ini sendiri, bukan dari luar.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin dan kitab-kitabnya yang lain sering menjadikan hadits ini sebagai dalil tentang wajibnya berpegang pada jamaah dan menjauhi perpecahan, serta menjelaskan bahwa perintah mengasingkan diri adalah solusi terakhir ketika tidak ada jamaah yang benar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah percakapan antara sahabat mulia Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dengan Rasulullah ﷺ. Hudzaifah dikenal sebagai pemegang rahasia Rasulullah ﷺ tentang orang-orang munafik. Beliau bertanya tentang keburukan, bukan kebaikan, karena ingin tahu bagaimana cara menghindarinya.
Poin-poin penting dalam hadits ini:
- Siklus Kebaikan dan Keburukan: Nabi ﷺ mengabarkan bahwa setelah kebaikan Islam yang dibawa beliau, akan ada keburukan. Namun setelah keburukan itu, akan ada kebaikan lagi, tetapi kebaikan itu tidak murni, ada "asapnya" (dakhan). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "asap" ini adalah keadaan yang tidak bersih, yaitu kebaikan yang tercampur dengan keburukan, atau para pemimpin yang baik tetapi tidak sempurna dalam mengikuti sunnah.
- Ciri Kebaikan yang Bercampur Asap: Nabi ﷺ menggambarkan orang-orang pada masa ini sebagai "kaum yang mengikuti selain sunnahku dan mencari petunjuk selain petunjukku." Mereka adalah orang-orang yang mengaku Muslim, tetapi dalam praktiknya menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah. Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa kita bisa "mengenali dan mengingkari" mereka, artinya kita masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi keadaan mereka tidak murni.
- Keburukan yang Paling Parah: Setelah kebaikan yang bercampur asap itu, akan datang keburukan yang sangat besar, yaitu munculnya "para pengajak di pintu-pintu neraka." Mereka adalah orang-orang yang mengajak manusia kepada kesesatan. Ciri mereka sangat mengejutkan: "kaum dari kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita." Artinya, mereka adalah orang-orang yang berasal dari umat Islam sendiri, bukan orang kafir dari luar. Mereka bisa membaca Al-Qur'an, bisa berpuasa, bisa shalat, tetapi mereka mengajak kepada selain Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah ciri yang paling berbahaya karena mereka menyamar sebagai ulama atau da'i, padahal tujuan mereka adalah menghancurkan agama.
- Solusi Nabi ﷺ: Ketika ditanya apa yang harus dilakukan jika menjumpai masa itu, Nabi ﷺ memberikan dua solusi yang berurutan:
- Pertama: "Tetaplah bersama jamaah kaum Muslimin dan pemimpin mereka." Ini adalah perintah untuk tetap bersatu di bawah kepemimpinan yang sah, selama pemimpin tersebut masih menegakkan syariat Islam. Ini adalah jalan keselamatan utama.
- Kedua: Jika tidak ada jamaah dan pemimpin yang sah, maka "pisahkan dirimu dari semua kelompok itu, meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu." Ini adalah perintah untuk uzlah (mengasingkan diri) dari perpecahan dan fitnah. Menggigit akar pohon adalah kiasan tentang kondisi yang sangat sulit dan menyedihkan, tetapi lebih baik daripada terlibat dalam peperangan atau perpecahan yang menumpahkan darah sesama Muslim.
Pendapat Ulama tentang Makna "Jamaah":
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "jamaah" dalam hadits ini. Sebagian ulama seperti Imam ath-Thabari (yang dinukil oleh Ibnu Hajar) berpendapat bahwa yang dimaksud adalah jamaah kaum Muslimin secara umum, yaitu mayoritas umat. Sebagian lagi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah jamaah yang berada di atas kebenaran, meskipun jumlahnya sedikit. Pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Albani dalam berbagai kitabnya, adalah bahwa "jamaah" itu adalah kelompok yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, meskipun jumlah mereka sedikit. Karena Nabi ﷺ bersabda dalam hadits lain, "Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran..." (HR. Muslim).
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu. Karena beliau sering bertanya tentang keburukan, beliau menjadi sangat waspada. Suatu ketika, di tengah fitnah besar antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma, banyak orang bingung harus berada di pihak mana. Hudzaifah justru mengambil sikap yang sangat hati-hati. Beliau tidak ikut berperang di kedua belah pihak, karena beliau tahu bahwa dalam fitnah seperti itu, darah seorang Muslim sangatlah suci dan tidak boleh ditumpahkan tanpa alasan yang jelas. Beliau lebih memilih untuk menjaga diri dan agamanya, sebagaimana yang beliau tanyakan kepada Nabi ﷺ dalam hadits ini.
Sikap Hudzaifah ini adalah contoh nyata dari penerapan hadits di atas. Ketika terjadi perpecahan dan tidak jelas mana yang benar, seorang Muslim diperintahkan untuk menahan diri dan tidak ikut campur dalam pertumpahan darah. Ini adalah pelajaran tentang wara' (kehati-hatian) dan menjaga keselamatan iman.
Kesimpulan Praktis
- Wajib menjaga persatuan dan berpegang teguh pada jamaah kaum Muslimin dan pemimpinnya selama mereka menegakkan syariat Islam.
- Waspadai para pengajak kesesatan, meskipun mereka berasal dari kalangan umat Islam sendiri dan berbicara dengan bahasa kita. Kenali mereka dari ciri-cirinya: mengajak kepada selain Al-Qur'an dan Sunnah.
- Jika terjadi perpecahan dan tidak ada pemimpin yang sah, maka seorang Muslim diperintahkan untuk mengasingkan diri dari semua kelompok yang berselisih, demi menjaga keselamatan agama dan jiwanya.
- Jangan pernah terlibat dalam pertumpahan darah sesama Muslim karena alasan yang tidak jelas. Lebih baik menderita secara lahiriah daripada terjerumus dalam dosa besar.
- Selalu berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, karena itulah jamaah yang sebenarnya, meskipun jumlah mereka sedikit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.