Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang dua hal penting: pertama, kenabian telah berakhir dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, dan kedua, setelah beliau wafat akan ada banyak pemimpin (khalifah) yang memerintah umat. Petunjuk Nabi ﷺ kepada kita dalam menghadapi kondisi ini adalah memenuhi bai'at kepada pemimpin yang pertama (terdahulu) dan memberikan hak-hak mereka, karena Allah akan meminta pertanggungjawaban dari para pemimpin tersebut atas amanah yang mereka emban. Ini adalah bagian dari manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah kepemimpinan dan ketaatan kepada pemimpin muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Imarah (Kepemimpinan), Bab "Wajibnya Memenuhi Bai'at Para Khalifah Pertama dan Seterusnya", no. 1842, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
QS. An-Nisa' [4]: 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu."
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya menaati khalifah yang telah dibai'at, dan jika terjadi perselisihan, maka yang didahulukan adalah yang pertama kali dibai'at. Ini juga sejalan dengan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Minhajus Sunnah tentang kewajiban menaati pemimpin muslim dalam kebaikan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Berakhirnya Kenabian dan Dimulainya Kekhalifahan
Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim (12/229) menjelaskan bahwa hadits ini mengabarkan bahwa Bani Isra'il selalu dipimpin oleh para nabi, setiap nabi wafat digantikan nabi yang lain. Namun, setelah Nabi Muhammad ﷺ, tidak ada lagi nabi. Maka kepemimpinan umat ini beralih kepada para khalifah yang mengikuti jejak kenabian. Ini menunjukkan keutamaan para sahabat yang menjadi khalifah setelah beliau, sebagaimana disabdakan dalam hadits lain bahwa khilafah setelah beliau berjalan di atas manhaj kenabian.
2. Perintah Memenuhi Bai'at yang Pertama
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Minhajus Sunnah (4/140) menjelaskan bahwa jika terjadi dua orang yang dibai'at di dua tempat yang berbeda, maka yang wajib ditaati adalah yang pertama kali dibai'at. Ini adalah prinsip Ahlus Sunnah dalam menjaga persatuan umat dan mencegah perpecahan. Beliau juga menegaskan bahwa memenuhi bai'at kepada pemimpin yang sah adalah kewajiban, selama pemimpin tersebut tidak memerintahkan kemaksiatan.
3. Memberikan Hak-Hak Pemimpin
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam (1/464) menjelaskan bahwa di antara hak pemimpin adalah ditaati dalam kebaikan, dinasihati dengan cara yang baik, dan didoakan kebaikan untuknya. Ini bukan berarti kita diam terhadap kezaliman, tetapi cara mengingkari kemungkaran yang dilakukan pemimpin adalah dengan nasihat yang baik, bukan dengan memberontak yang justru akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
4. Pertanggungjawaban Pemimpin di Hadapan Allah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas apa yang dipercayakan kepadanya. Ini menjadi peringatan bagi para pemimpin agar berlaku adil, dan menjadi penghibur bagi rakyat bahwa kezaliman pemimpin tidak akan luput dari perhitungan Allah.
Peringatan Penting:
Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin muslim adalah kewajiban selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, tetapi kewajiban kita tetap menjaga persatuan dan tidak memberontak dengan cara yang merusak. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Barbahari (w. 329 H) dalam Syarhus Sunnah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi fitnah besar di akhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, sebagian sahabat bertanya kepada sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang sikap yang harus diambil. Abu Hurairah yang telah meriwayatkan hadits ini dari Nabi ﷺ menjawab dengan tenang: "Dengarkan dan taatilah pemimpin kalian dalam kebaikan. Jika mereka berbuat baik, maka itu untuk kebaikan kalian dan mereka. Jika mereka berbuat buruk, maka mereka yang akan memikul dosanya, dan kalian tetap menjalankan kewajiban kalian untuk taat dalam kebaikan."
Ini menunjukkan pemahaman para sahabat tentang pentingnya menjaga persatuan umat dan tidak mudah terprovokasi untuk memberontak, karena mereka tahu bahwa perpecahan akan membawa kehancuran yang lebih besar.
Kesimpulan Praktis
Poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir — tidak ada nabi setelah beliau, dan siapa yang mengaku nabi setelah beliau adalah dusta.
- Menjaga persatuan umat dengan tidak memecah belah kepemimpinan muslim, selama pemimpin tersebut muslim dan menegakkan syariat.
- Menaati pemimpin dalam kebaikan dan memberikan hak-hak mereka, seperti didoakan, dinasihati dengan baik, dan tidak menyebarkan aib mereka.
- Tidak memberontak kepada pemimpin selama mereka masih menegakkan shalat, karena akibat dari pemberontakan adalah kerusakan yang lebih besar.
- Meyakini bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas amanah yang diembannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.