Penjelasan Hadits Muslim No. 183 tentang Melihat Allah pada Hari Kebangkitan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa kaum mukmin akan melihat Allah ﷻ pada Hari Kiamat secara nyata, sebagaimana mereka melihat matahari dan bulan tanpa kesulitan. Hadits ini juga menggambarkan peristiwa besar di Hari Kiamat: setiap umat mengikuti apa yang mereka sembah, orang-orang yang menyembah selain Allah jatuh ke neraka, lalu Allah datang kepada orang-orang beriman dalam bentuk yang mereka kenali, dan terjadilah syafaat serta keluarnya orang-orang berdosa dari neraka. Ini adalah hadits agung tentang tauhid, rukyatullah (melihat Allah), dan luasnya rahmat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۞ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Terjemahan: "Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat."

QS. An-Nisa [4]: 40

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah tidak menzalimi (seseorang) walau sebesar biji zarah. Dan jika ada satu kebaikan, Dia akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه. Imam Muslim bin al-Hajjaj (wafat 261 H) menempatkannya dalam kitab shahihnya, dan para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai dalil pokok penetapan rukyatullah (melihat Allah) bagi kaum mukmin di akhirat.

Penjelasan Rinci

1. Penetapan rukyatullah (melihat Allah) di akhirat

Hadits ini adalah salah satu dalil paling jelas bahwa kaum mukmin akan melihat Allah ﷻ di Hari Kiamat dengan mata kepala mereka. Nabi ﷺ menyerupakan kemudahan melihat Allah dengan kemudahan melihat matahari di siang cerah dan bulan purnama di malam cerah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah pendapat Ahlus Sunnah, berbeda dengan kelompok yang mengingkari rukyatullah. Ibn Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Qiyamah: 22-23 menegaskan bahwa ayat ini adalah dalil tegas bahwa orang beriman akan melihat Allah di akhirat.

2. Setiap umat mengikuti apa yang disembah

Pada Hari Kiamat, penyeru menyerukan agar setiap umat mengikuti sesembahannya. Penyembah berhala dan batu jatuh ke neraka. Orang Yahudi mengaku menyembah Uzair, orang Nasrani mengaku menyembah Isa, keduanya didustakan karena Allah tidak memiliki anak atau pasangan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini menunjukkan batilnya klaim mereka dan bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberi manfaat.

3. Allah datang kepada orang beriman dalam bentuk yang dikenali

Allah ﷻ datang kepada orang-orang beriman yang tersisa dalam bentuk yang mereka kenali. Awalnya mereka berlindung kepada Allah karena khawatir tertipu (sebagaimana mereka pernah tertipu oleh sesembahan batil), lalu Allah menampakkan tanda berupa tersingkapnya "sāq" (betis) — yang menurut Ibn Katsir dan Ibn Taymiyyah dipahami sesuai dengan keagungan Allah tanpa menyerupakan dengan makhluk. Lalu orang-orang yang bersujud dengan ikhlas diizinkan bersujud, sedangkan yang bersujud karena riya' tidak mampu bersujud. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa ini adalah pembalasan bagi orang yang beramal karena pamer.

4. Syafaat dan keluarnya orang berdosa dari neraka

Hadits ini juga menetapkan syafaat para malaikat, para nabi, dan orang-orang mukmin, serta rahmat Allah yang terakhir. Allah mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali, lalu mereka dimasukkan ke sungai kehidupan di pintu surga. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya rahmat Allah dan bahwa tauhid tetap bermanfaat meskipun pelakunya bermaksiat. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya tentang akhirat menjelaskan bahwa ini adalah puncak keadilan dan rahmat Allah.

5. Perbedaan pendapat di antara ulama

Para ulama Ahlus Sunnah sepakat tentang penetapan rukyatullah dan syafaat. Perbedaan hanya pada rincian teknis seperti makna "sāq" dan bentuk kedatangan Allah, namun semuanya sepakat bahwa Allah tidak menyerupai makhluk (QS. Asy-Syura: 11). Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam dalil tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil, sebagaimana dijelaskan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim.

Story Telling

Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal kejujurannya. Ketika menyampaikan hadits ini, beliau berkata: "Jika kalian tidak mempercayaiku tentang hadits ini, maka bacalah jika kalian mau: 'Sesungguhnya Allah tidak menzalimi sebesar biji zarah...'" (QS. An-Nisa: 40). Ini menunjukkan betapa beliau sangat menjaga keakuratan riwayat dan mengajak orang untuk memverifikasi dengan Al-Qur'an. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjadikan sikap ini sebagai contoh adab dalam menyampaikan ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan keyakinan bahwa kaum mukmin akan melihat Allah di akhirat — ini adalah aqidah Ahlus Sunnah.
  2. Jauhi syirik dalam segala bentuk, karena pada Hari Kiamat setiap umat mengikuti sesembahannya.
  3. Ikhlaslah dalam beribadah — sujud karena riya' tidak akan bermanfaat di akhirat.
  4. Jangan putus asa dari rahmat Allah — hadits ini menunjukkan bahwa tauhid dan iman tetap berbuah surga meskipun seseorang berdosa.
  5. Perbanyak syafaat dan doa untuk diri dan saudara-saudara mukmin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?