Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits teragung yang menjelaskan tentang melihat Allah ﷻ di akhirat kelak bagi orang-orang beriman. Hadits ini juga menggambarkan secara panjang lebar tentang peristiwa hari kiamat, bagaimana manusia mengikuti sesembahan mereka, keberadaan orang-orang munafik, jembatan (shirath) di atas neraka, syafaat, dan keluarnya orang-orang yang bertauhid dari neraka karena rahmat Allah. Inti dari hadits ini adalah keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka di akhirat dengan jelas, sebagaimana melihat bulan purnama dan matahari yang tidak terhalang awan, serta besarnya rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Ma'rifati Thariqir Ru'yat" (Mengetahui Cara Melihat Allah), no. 182. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7437, 8061) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Hadits ini adalah hadits yang shahih dan menjadi salah satu dalil utama dalam menetapkan ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat bagi orang-orang mukmin.
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
- QS. Al-Qiyamah [75]: 22-23
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ﴿٢٣﴾
"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat."
- QS. Al-Muthaffifin [83]: 15
كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ
"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka." (Ayat ini menunjukkan bahwa orang mukmin tidak terhalang, sehingga mereka dapat melihat-Nya).
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang sangat jelas tentang penetapan ru'yatullah (melihat Allah) bagi orang-orang mukmin di akhirat. Beliau menukil kesepakatan (ijma') Ahlus Sunnah tentang hal ini.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) juga membawakan hadits ini dan menjelaskan bahwa perumpamaan melihat bulan dan matahari adalah untuk menetapkan bahwa melihat Allah itu nyata dan jelas, tanpa ada keraguan, meskipun hakikat cara melihat-Nya tidak sama dengan melihat makhluk. Beliau menukil perkataan Imam Al-Khathabi bahwa perumpamaan ini bukan berarti Allah serupa dengan bulan atau matahari, tetapi hanya untuk menjelaskan kejelasan dan keniscayaan penglihatan tersebut.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Lum'atul I'tiqad menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan sifat melihat bagi Allah ﷻ, dan bahwa orang-orang mukmin akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka sendiri di akhirat. Ini adalah salah satu kenikmatan terbesar di surga.
Penjelasan Rinci
Hadits yang sangat panjang ini mengandung beberapa pelajaran dan penjelasan penting yang perlu kita pahami satu per satu:
1. Penetapan Ru'yatullah (Melihat Allah) di Akhirat
Pertanyaan para sahabat tentang apakah mereka akan melihat Rabb mereka di hari kiamat dijawab oleh Nabi ﷺ dengan perumpamaan yang sangat dekat dengan pengalaman mereka. Beliau bertanya, "Apakah kalian merasa kesulitan melihat bulan purnama atau matahari yang tidak terhalang awan?" Tentu saja tidak. Ini menunjukkan bahwa melihat Allah ﷻ di akhirat adalah sesuatu yang pasti, nyata, dan tidak perlu diragukan lagi. Namun, perlu digarisbawahi bahwa melihat Allah tidaklah sama dengan melihat makhluk. Allah ﷻ tidak serupa dengan sesuatu pun, dan cara kita melihat-Nya adalah dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, yang tidak bisa kita bayangkan. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, berbeda dengan golongan Mu'tazilah dan Khawarij yang mengingkarinya.
2. Hari Berkumpulnya Manusia dan Mengikuti Sesembahan
Ketika Allah ﷻ mengumpulkan seluruh manusia, Dia akan memerintahkan agar setiap orang mengikuti apa yang mereka sembah di dunia. Orang yang menyembah matahari akan mengikuti matahari, yang menyembah bulan akan mengikuti bulan, dan yang menyembah thaghut (sesembahan selain Allah) akan mengikuti thaghut tersebut. Ini adalah bentuk kehinaan bagi mereka. Sementara itu, umat Islam yang ikhlas akan tetap tinggal di tempatnya, menunggu Rabb mereka. Di antara mereka ada juga orang-orang munafik yang secara lahiriah beriman tetapi hatinya tidak, dan mereka akan diuji pada saat itu.
3. Ujian Bagi Umat Islam dan Datangnya Allah dalam Bentuk yang Mereka Kenali
Pada saat menunggu itulah Allah ﷻ datang kepada mereka dalam bentuk yang tidak mereka kenali dan berkata, "Aku adalah Tuhan kalian." Orang-orang mukmin yang teguh akan berlindung kepada Allah dari hal tersebut dan berkata, "Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami sampai Rabb kami datang kepada kami. Jika Rabb kami datang, kami akan mengenal-Nya." Kemudian Allah ﷻ datang kepada mereka dalam bentuk yang mereka kenali (sebagaimana yang Dia kehendaki, bukan berarti Allah memiliki bentuk seperti makhluk) dan berkata, "Aku adalah Tuhan kalian." Maka mereka pun mengenali-Nya dan berkata, "Engkau adalah Rabb kami."
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa Allah ﷻ bisa "datang" pada hari kiamat dengan cara yang Dia kehendaki. Adapun tentang "bentuk yang mereka kenali", para ulama menafsirkannya sebagai bentuk yang Allah ciptakan untuk memperlihatkan diri-Nya kepada mereka pada saat itu, yang sesuai dengan pengenalan mereka terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya. Ini adalah perkara ghaib yang kita imani tanpa mempertanyakan bagaimana caranya (takyif).
4. Shirath dan Doa Para Rasul
Setelah itu, jembatan (shirath) dibentangkan di atas neraka. Nabi ﷺ dan umatnya adalah yang pertama kali melewatinya. Pada saat itu, tidak ada yang berbicara kecuali para rasul, dan doa mereka adalah, "Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah." Ini menunjukkan betapa dahsyatnya hari itu dan betapa pentingnya memohon keselamatan kepada Allah.
5. Keluarnya Orang-Orang Bertauhid dari Neraka
Di neraka terdapat kait-kait seperti duri tanaman sa'dan yang sangat tajam. Kait-kait ini akan menyambar manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka. Ada yang selamat karena amalnya, dan ada yang tersambar dan terhukum, kemudian diselamatkan. Setelah Allah selesai mengadili para hamba, Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, yaitu mereka yang mengucapkan "Laa ilaaha illallah" (tiada Tuhan selain Allah). Para malaikat mengenali mereka di dalam neraka melalui bekas sujud (atsar as-sujud) mereka. Ini adalah keutamaan besar dari shalat dan sujud kepada Allah. Api neraka diharamkan untuk memakan bekas sujud tersebut. Kemudian mereka dikeluarkan dalam keadaan hangus, lalu disiram dengan air kehidupan (maa'ul hayaat) sehingga mereka tumbuh kembali seperti biji yang tumbuh di aliran banjir.
6. Kisah Orang Terakhir yang Masuk Surga
Bagian akhir hadits ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang menjadi penghuni surga yang paling terakhir masuk. Kisah ini menunjukkan betapa besar rahmat, kasih sayang, dan kesabaran Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Laki-laki ini awalnya hanya meminta agar wajahnya dipalingkan dari neraka. Setiap kali permintaannya dikabulkan, dia selalu meminta lagi yang lebih dekat ke surga, hingga akhirnya dia meminta untuk dimasukkan ke dalam surga. Allah ﷻ mengingatkannya akan janji-janjinya, namun karena rahmat-Nya, Allah tetap mengabulkan permintaannya. Bahkan, ketika laki-laki itu sudah tidak bisa lagi berangan-angan, Allah ﷻ mengingatkannya akan berbagai kenikmatan dan kemudian memberinya semua yang dia minta beserta yang semisalnya lagi. Ini adalah puncak dari kemurahan dan rahmat Allah ﷻ.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan betapa besar karunia-Nya kepada penghuni surga. Ini juga menunjukkan bahwa Allah ﷻ "tertawa" (adh-dhihk) sebagai sifat yang layak bagi-Nya, yang kita imani tanpa menanyakan bagaimana caranya.
Story Telling
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan di akhir hadits disebutkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu juga hadir saat itu. Ketika Abu Hurairah menyampaikan bahwa Allah ﷻ berkata kepada orang terakhir yang masuk surga, "Itu untukmu dan yang semisalnya lagi," Abu Sa'id Al-Khudri langsung mengoreksinya. Beliau berkata, "Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya lagi.'" Maka Abu Hurairah pun menerima tambahan dari Abu Sa'id karena beliau tidak menghafalnya.
Kisah ini menunjukkan betapa telitinya para sahabat dalam menjaga dan menyampaikan hadits Nabi ﷺ. Mereka saling mengingatkan dan melengkapi agar tidak ada satu huruf pun yang hilang atau keliru. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk selalu berhati-hati dalam menyampaikan ilmu, dan juga menunjukkan adab yang mulia di antara para sahabat; mereka tidak saling menyalahkan, tetapi saling melengkapi demi menjaga kemurnian sunnah.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits yang agung ini, ada beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Yakinlah dengan sepenuh hati bahwa kita akan melihat Allah ﷻ di akhirat kelak sebagai kenikmatan terbesar bagi penghuni surga. Keyakinan ini akan menumbuhkan kerinduan untuk berjumpa dengan-Nya dan memotivasi kita untuk beribadah dengan ikhlas.
- Jaga dan peliharalah shalat kita, terutama sujud kita. Karena bekas sujud inilah yang akan menjadi tanda pengenal bagi seorang mukmin di hari kiamat dan menjadi penghalang dari siksa api neraka.
- Perbanyaklah berdoa memohon keselamatan, sebagaimana doa para rasul di atas shirath: "Allahumma sallim, sallim" (Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah).
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Kisah orang terakhir yang masuk surga menunjukkan bahwa rahmat Allah ﷻ jauh lebih luas dari dosa-dosa kita, selama kita meninggal dalam keadaan bertauhid, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.
- Jadilah pribadi yang jujur dan teliti dalam menyampaikan ilmu, sebagaimana para sahabat yang saling menjaga kebenaran hadits Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.