Penjelasan Hadits Muslim No. 1806 tentang Pertempuran Salamah bin Al-Akwa' merebut kembali unta Rasulullah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan keberanian Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu ketika mengejar dan merebut kembali unta-unta perah milik Rasulullah ﷺ yang dirampas oleh kabilah Ghatafan. Ketika ia meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk menyerang mereka yang sedang kehausan, Nabi ﷺ justru mengajarkan sikap lembut dan menahan diri dengan sabda: "Wahai Ibn Al-Akwa', engkau telah menguasai mereka, maka bersikap lembutlah." Hadits ini mengajarkan keberanian, kesigapan, sekaligus adab menahan diri dan tidak berlebihan terhadap musuh yang sudah tak berdaya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj rahimahullah dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, Bab Perang Dzi Qarad (no. 1806), dari sahabat Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Yazid bin Abu 'Ubaid.

Hadits ini juga memiliki riwayat pendukung dalam Shahih al-Bukhari dari Salamah bin Al-Akwa' dengan lafaz yang semakna, sehingga kedudukannya sangat kuat.

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab menahan diri dan berbuat baik kepada musuh yang telah kalah, di antaranya:

وَلَا تَعْتَدُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

QS. Al-Baqarah [2]: 190

"Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Juga firman Allah:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّٰبِرِينَ

QS. An-Nahl [16]: 126

"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang setimpal dengan apa yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar."

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang keutamaan menahan diri setelah memperoleh kemenangan, dan tidak menumpahkan darah musuh yang sudah tidak berdaya jika tidak diperlukan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Kesigapan dan keberanian Salamah bin Al-Akwa'. Ia keluar sebelum adzan subuh, mendengar kabar bahwa unta perah Rasulullah ﷺ dirampas oleh kabilah Ghatafan. Tanpa menunggu pasukan, ia segera mengejar sendirian, berteriak "Yaa Shabaahaah" (seruan bahaya di waktu pagi) yang menggema di seluruh Madinah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan Salamah dan kesiapannya membela harta kaum muslimin.

Kedua: Keberanian seorang pemanah. Salamah berkata: "Aku adalah anak Al-Akwa', dan hari ini adalah hari kehancuran bagi para pengecut." Ia melantunkan syair perang (rajaz) untuk memompa semangat dan menakuti musuh. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa syair rajaz dalam peperangan dibolehkan untuk menggetarkan hati musuh.

Ketiga: Sabda Nabi ﷺ "مَلَكْتَ فَأَسْجِحْ" (Malakta fa asjih). Inilah inti hadits. Imam an-Nawawi menjelaskan maknanya: "Engkau telah menguasai mereka, maka bersikap lembutlah" — yakni janganlah engkau terus menyerang mereka yang sudah kalah dan kehausan. Ini adalah pelajaran agung tentang adab menahan diri setelah kemenangan. Imam Ibnu Hajar menambahkan bahwa ini menunjukkan kelembutan hati Nabi ﷺ bahkan terhadap musuh yang telah merampas harta kaum muslimin.

Keempat: Sikap Nabi ﷺ yang mengajak Salamah naik di belakang untanya. Ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabatnya, dan penghargaan atas jasa Salamah. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah bentuk pemuliaan Nabi ﷺ terhadap Salamah.

Kelima: Perbedaan pendapat ulama tentang hukuman terhadap perampok. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam kitab-kitab fiqih mereka membahas hukum qath'u ath-thariq (perampokan). Namun dalam kasus ini, Nabi ﷺ memilih tidak mengejar mereka karena mereka sudah pergi dan tidak ada maslahat dalam pengejaran lebih lanjut. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa kebijakan Nabi ﷺ dalam perang selalu mempertimbangkan maslahat dan menghindari kerusakan yang lebih besar.

Story Telling

Salamah bin Al-Akwa' radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang terkenal keberaniannya. Dalam riwayat lain yang disebutkan Imam al-Bukhari dan Muslim, ia menceritakan bahwa ia pernah berjalan bersama Nabi ﷺ dan para sahabat, lalu mereka beristirahat di suatu tempat. Nabi ﷺ menyuruh seseorang untuk mengumumkan bahwa kaum muslimin boleh beristirahat.

Suatu ketika, Salamah menceritakan bagaimana ia berlari kaki mengejar musuh, sementara Nabi ﷺ dan para sahabat menunggangi unta. Ia berkata: "Aku berlari hingga aku bisa melihat debu di belakangku, dan aku terus mengejar hingga aku menyusul mereka." Ini menunjukkan pengorbanan dan kesungguhannya membela Rasulullah ﷺ.

Yang paling indah dari kisah ini adalah ketika Nabi ﷺ bersabda: "Engkau telah menguasai mereka, maka bersikap lembutlah." Ini adalah pelajaran bahwa kemenangan bukanlah alasan untuk berlaku sewenang-wenang. Islam mengajarkan kelembutan bahkan dalam keadaan menang.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikap sigap dalam membela agama dan harta kaum muslimin, sebagaimana Salamah yang langsung bertindak tanpa menunggu perintah.
  2. Keberanian harus disertai adab dan ilmu, bukan sekadar emosi.
  3. Menahan diri setelah memperoleh kemenangan adalah akhlak mulia yang diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Tidak berlebihan terhadap musuh yang sudah tak berdaya, karena Islam mengajarkan kelembutan dan keadilan.
  5. Menghargai jasa orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ memuliakan Salamah dengan memboncengnya di atas unta.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?