Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kondisi Rasulullah ﷺ dan para sahabat saat Perang Ahzab (Khandaq), di mana mereka menggali parit dengan susah payah. Di tengah kelelahan dan rasa lapar, Rasulullah ﷺ mengucapkan syair yang berisi pengakuan bahwa segala petunjuk, sedekah, dan shalat hanyalah karena Allah. Beliau memohon ketenangan (sakinah) dan menegaskan penolakan terhadap kebatilan. Ini adalah pelajaran tentang keikhlasan, kesabaran, dan doa dalam menghadapi kesulitan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Perang, Bab Perang Ahzab (Khandaq), no. 1803, dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (bagian inti):
وَعَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ الْبَرَاءَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ وَهُوَ يَقُولُ: وَاللَّهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا، فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا، إِنَّ الْأُلَى قَدْ أَبَوْا عَلَيْنَا
Terjemahan: "Dari Abu Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Al-Bara' berkata: 'Rasulullah ﷺ pada hari Ahzab ikut memindahkan tanah bersama kami. Sungguh, tanah telah menutupi putihnya perut beliau, dan beliau mengucapkan: "Demi Allah, jika bukan karena Engkau, kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak shalat. Maka turunkanlah ketenangan atas kami. Sesungguhnya kaum (yang menentang) telah menolak kami."'"
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Al-Fath [48]: 4
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa syair ini diucapkan Rasulullah ﷺ dalam kondisi bekerja keras, sebagai bentuk pengakuan kelemahan diri di hadapan Allah dan permohonan pertolongan-Nya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini menunjukkan tawadhu' Nabi ﷺ yang ikut bekerja bersama para sahabatnya, tidak merasa lebih tinggi dari mereka.
Penjelasan Rinci
1. Konteks Perang Ahzab (Khandaq)
Perang Ahzab terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah, ketika kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya (suku-suku Arab) bersekutu untuk menyerang Madinah. Atas usul Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat menggali parit (khandaq) di sekitar Madinah sebagai strategi pertahanan. Penggalian ini dilakukan dalam kondisi cuaca dingin, perut lapar, dan tubuh lelah.
2. Makna Syair Nabi ﷺ
Syair yang diucapkan Nabi ﷺ ini memiliki makna yang dalam:
- "Demi Allah, jika bukan karena Engkau, kami tidak akan mendapat petunjuk" — Pengakuan bahwa hidayah hanyalah dari Allah semata. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Qashash [28]: 56 bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
- "Tidak bersedekah dan tidak shalat" — Ini menunjukkan bahwa amal ibadah pun adalah taufik dari Allah. Manusia tidak mampu beribadah kecuali dengan pertolongan Allah.
- "Maka turunkanlah ketenangan atas kami" — Permohonan sakinah (ketenangan hati) di tengah ujian berat. Ini sesuai dengan QS. Al-Fath [48]: 4 di atas.
- "Sesungguhnya kaum (yang menentang) telah menolak kami" — Ini adalah pernyataan bahwa musuh-musuh Islam menolak kebenaran dan menentang dakwah.
3. Pelajaran dari Ulama
Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan beberapa hal:
- Bolehnya bekerja keras dalam urusan yang mubah dan jihad.
- Nabi ﷺ adalah pemimpin yang tidak merasa gengsi untuk bekerja bersama rakyatnya.
- Doa dan dzikir tetap dilakukan di tengah aktivitas berat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa syair ini mengandung tauhid rububiyyah dan uluhiyyah — pengakuan bahwa segala kebaikan berasal dari Allah, dan permohonan hanya kepada-Nya.
4. Hikmah di Balik Peristiwa Ini
Peristiwa ini mengajarkan bahwa:
- Kesulitan adalah ujian keimanan — Para sahabat tetap sabar dan ikhlas meski menghadapi kondisi sulit.
- Pemimpin harus menjadi teladan — Nabi ﷺ tidak hanya menyuruh, tetapi ikut bekerja.
- Doa adalah senjata utama — Di tengah usaha maksimal, doa tetap dipanjatkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada saat penggalian Khandaq, para sahabat mengalami kelaparan yang sangat berat. Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa mereka mengikat batu di perut mereka karena lapar. Ketika melihat Rasulullah ﷺ yang juga kelaparan, Jabir pulang ke rumahnya dan memasak seekor kambing muda. Ia mengundang Nabi ﷺ dan para sahabat, namun Nabi ﷺ meminta semua pekerja parit untuk ikut. Maka Allah memberkahi makanan yang sedikit itu sehingga semua orang kenyang.
Dalam kondisi seperti inilah Nabi ﷺ mengucapkan syair tersebut — bukan keluhan, melainkan pengakuan kelemahan di hadapan Allah dan permohonan kekuatan. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin di tengah ujian terberat sekalipun, lisannya dipenuhi dzikir dan hatinya dipenuhi harapan kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Teladani semangat kerja keras Nabi ﷺ — Jangan merasa gengsi untuk bekerja keras dalam kebaikan.
- Perbanyak doa di tengah kesulitan — Seperti Nabi ﷺ yang memohon ketenangan kepada Allah.
- Sadari bahwa segala kebaikan dari Allah — Hidayah, kemampuan beribadah, dan pertolongan semuanya dari Allah.
- Jadikan kesulitan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah — Bukan sebagai alasan untuk berputus asa.
- Teguh dalam kebenaran — Seperti Nabi ﷺ yang menegaskan bahwa kaum penentang tidak akan menggoyahkan keimanan beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.