Penjelasan Hadits Muslim No. 1795 tentang Perlakuan kasar kaum kepada Nabi dan tawaran azab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan hari paling berat yang dialami Nabi ﷺ, yaitu ketika beliau berdakwah kepada penduduk Thaif dan ditolak dengan kasar. Meski malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghancurkan mereka, Nabi ﷺ justru mendoakan agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang beribadah kepada Allah. Ini pelajaran tentang kesabaran, kelembutan dakwah, dan harapan yang tidak pernah putus kepada hidayah Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1795), dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) dari Urwah bin az-Zubair.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan kelembutan dakwah Nabi ﷺ:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

QS. Al-Hijr [15]: 97

"Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan."

Dan firman Allah:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

QS. Ali 'Imran [3]: 159

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."

Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai dalil keutamaan akhlak Nabi ﷺ dan kesabarannya dalam berdakwah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga mengangkat hadits serupa sebagai bukti kelembutan Nabi ﷺ terhadap kaum yang menyakitinya. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebut peristiwa Thaif sebagai salah satu ujian terbesar yang dihadapi Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan bahwa hari paling berat bagi Nabi ﷺ bukanlah hari Uhud — meski di Uhud beliau terluka, gigi beliau patah, dan banyak sahabat syahid — melainkan hari di Thaif, ketika beliau mendatangi Ibnu Abd Yalil bin Abd Kulal untuk mengajaknya kepada Islam, namun ditolak dan diusir dengan perlakuan kasar.

Beberapa pelajaran penting menurut para ulama dalam daftar:

Pertama, kesabaran Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak membalas keburukan dengan keburukan, bahkan ketika diberi kesempatan oleh Allah melalui malaikat gunung. Ini menunjukkan puncak akhlak kenabian.

Kedua, kelembutan dalam dakwah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah cerminan ayat "Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (QS. Al-Anbiya [21]: 107). Beliau tidak ingin menghancurkan, tetapi ingin menyelamatkan.

Ketiga, optimisme terhadap hidayah. Nabi ﷺ berkata: "Aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata." Menurut Ibn Qayyim, ini adalah bentuk husnuzhan (baik sangka) kepada Allah bahwa dakwah tidak akan sia-sia, meski hasilnya belum terlihat sekarang.

Keempat, peran az-Zuhri sebagai perawi. Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) adalah salah satu tabi'in yang meriwayatkan hadits ini dari Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah. Ini menunjukkan pentingnya sanad dalam ilmu hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Yahya bin Ma'in dan Ali bin al-Madini.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang makna hadits ini. Semuanya sepakat bahwa ini adalah pelajaran tentang kesabaran, kelembutan, dan harapan kepada Allah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah peristiwa Thaif, Nabi ﷺ berjalan dalam keadaan sedih hingga sampai di Qarn al-Tsa'alib (sebuah tempat di dekat Mekkah). Di sana beliau mengangkat kepala dan melihat awan menaunginya. Ternyata di dalamnya ada Jibril yang menyampaikan bahwa Allah mendengar ucapan kaumnya. Malaikat penjaga gunung pun datang dan menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif dengan dua gunung yang mengapit Mekkah.

Namun Nabi ﷺ menjawab dengan penuh kasih: "Tidak, aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Beberapa tahun kemudian, banyak penduduk Thaif yang masuk Islam, termasuk Urwah bin Mas'ud dan lainnya. Ini membuktikan kebenaran harapan Nabi ﷺ. Kisah ini disebutkan oleh Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah dan Ibn Qayyim dalam Zad al-Ma'ad.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan kesabaran Nabi ﷺ sebagai teladan saat menghadapi penolakan atau perlakuan kasar.
  2. Jangan membalas keburukan dengan keburukan, terutama dalam berdakwah.
  3. Tanamkan optimisme bahwa hidayah adalah urusan Allah; tugas kita hanya menyampaikan dengan lembut.
  4. Doakan orang yang menyakiti kita, sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan kebaikan untuk penduduk Thaif.
  5. Pelajari hadits ini melalui kitab-kitab syarah seperti Syarah Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi dan Fathul Bari karya Ibnu Hajar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?