Penjelasan Hadits Muslim No. 1794 tentang Gangguan orang musyrik terhadap Nabi saat shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bagaimana Nabi ﷺ pernah diganggu secara fisik dan dihina saat sedang shalat di dekat Ka'bah oleh Abu Jahl dan kawan-kawannya, namun beliau tetap sabar, melanjutkan shalat, lalu berdoa kepada Allah. Doa beliau dikabulkan: semua nama yang beliau sebutkan tewas dalam Perang Badar. Pelajarannya: kesabaran dalam menghadapi gangguan, larangan membalas dengan cara yang zalim, dan keyakinan bahwa doa orang yang terzalimi itu mustajab.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hijr [15]: 94–95

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴿٩٤﴾ إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ ﴿٩٥﴾

Terjemahan: "Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu (dari kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)."

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan janji Allah kepada Nabi ﷺ bahwa Allah sendiri yang akan menghadapi para pengejek beliau — dan itu terbukti pada Perang Badar.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Jihad wa as-Siyar, dari sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ mendoakan tiga kali dan menguatkan bahwa doa beliau terhadap orang-orang zalim itu dikabulkan Allah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Ibnu Mas'ud menceritakan sebuah peristiwa di Makkah. Nabi ﷺ sedang shalat di dekat Ka'bah. Abu Jahl dan kawan-kawannya duduk mengawasi. Mereka baru saja menyembelih unta, dan Abu Jahl menghasut: siapa yang berani mengambil kotoran/janin unta itu dan meletakkannya di punggung Nabi ﷺ saat beliau sujud? Yang bangkit adalah "orang paling celaka di antara mereka" — dan ia melakukannya. Mereka tertawa terbahak-bahak hingga saling bersandar.

Ibnu Mas'ud berkata: "Aku berdiri melihat, seandainya aku punya kekuatan (pembela), pasti aku lemparkan benda itu dari punggung Rasulullah ﷺ." Ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas'ud saat itu masih lemah dan tidak mampu melawan, namun hatinya menolak.

Fatimah radhiyallahu 'anha datang (saat itu masih kecil) dan melemparkan kotoran itu dari punggung ayahnya, lalu memarahi mereka. Nabi ﷺ tetap sujud, tidak mengangkat kepala sampai benda itu dilemparkan.

Setelah selesai shalat, Nabi ﷺ mengangkat suara dan berdoa. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa mendoakan tiga kali dan meminta tiga kali. Beliau bersabda: "Ya Allah, kepada-Mu lah Quraisy." Tiga kali. Mendengar itu, tawa mereka hilang dan mereka takut. Lalu beliau menyebut nama: Abu Jahl bin Hisham, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al-Walid bin 'Uqbah, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abi Mu'ait, dan satu nama lagi yang tidak dihafal Ibnu Mas'ud.

Ibnu Mas'ud bersumpah: demi Allah yang mengutus Muhammad dengan kebenaran, ia melihat semua yang disebut Nabi ﷺ itu tergeletak di Badar, lalu diseret ke lubang (qalib) Badar.

Catatan sanad: Abu Ishaq (As-Sabi'i) menyatakan bahwa penyebutan "Al-Walid bin 'Uqbah" dalam hadits ini adalah kekeliruan — yang benar adalah Al-Walid bin Al-Mughirah. Ini menunjukkan ketelitian ulama hadits dalam menjaga akurasi riwayat, sebagaimana disebutkan Imam Muslim sendiri dalam kitabnya.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  • Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim): Hadits ini menunjukkan bolehnya mendoakan keburukan (doa) terhadap orang zalim yang menyerang Islam, dan bahwa doa Nabi ﷺ mustajab. Juga menunjukkan kesabaran Nabi ﷺ yang luar biasa.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari, saat membahas riwayat serupa di Bukhari): Menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi sebelum hijrah, dan merupakan salah satu bentuk ujian berat yang dihadapi Nabi ﷺ di Makkah.
  • Ibn Katsir (Al-Bidayah wan Nihayah): Mengisahkan peristiwa ini sebagai bukti kenabian, karena doa Nabi ﷺ dikabulkan secara persis — semua nama yang disebut tewas di Badar.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Zad al-Ma'ad): Menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ bukanlah balas dendam pribadi, melainkan doa seorang rasul yang dizalimi, dan Allah mengabulkannya sebagai pembelaan terhadap agama-Nya.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keabsahan hadits ini dan maknanya. Yang paling kuat: Nabi ﷺ tidak membalas saat itu karena belum ada izin berperang, dan beliau menyerahkan urusan kepada Allah — lalu Allah membalasnya di Badar.

Story Telling

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu — sahabat yang mulia, ahli Al-Qur'an — menceritakan kisah ini dengan mata kepalanya sendiri. Bayangkan: seorang Nabi sedang sujud kepada Allah, punggungnya diletakkan kotoran unta, dan orang-orang kafir tertawa. Ibnu Mas'ud muda berdiri, hatinya panas, tetapi tangannya tak mampu. Ia berkata, "Seandainya aku punya pembela, aku akan lemparkan itu dari punggung Rasulullah ﷺ."

Lalu datang Fatimah kecil, putri beliau, membersihkan punggung ayahnya dan memarahi mereka. Nabi ﷺ tidak mengangkat kepala dari sujudnya — beliau menahan semuanya untuk Allah.

Setelah shalat, beliau tidak mengutuk dengan emosi, tetapi berdoa dengan tenang, menyebut nama satu per satu. Dan Ibnu Mas'ud bersumpah: ia melihat sendiri jasad-jasad itu tergeletak di Badar, diseret ke lubang. Allah membalas untuk Nabi-Nya.

Hikmahnya: kesabaran bukan kelemahan. Diamnya orang yang dizalimi sambil menyerahkan kepada Allah adalah kekuatan yang paling dahsyat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersabar saat dizalimi, terutama dalam urusan ibadah — jangan tinggalkan shalat karena gangguan orang.
  2. Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman jika belum ada kemampuan dan izin syar'i; serahkan kepada Allah.
  3. Doa orang yang terzalimi itu mustajab — jangan remehkan doa, dan jangan menzalimi orang lain karena takut doanya dikabulkan.
  4. Meneladani Nabi ﷺ yang tetap tenang, tidak mengutuk dengan emosi, dan berdoa dengan penuh adab.
  5. Mencintai keluarga Nabi ﷺ — Fatimah kecil membela ayahnya, dan itu dicatat dalam hadits.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?