Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 179 tentang Allah tidak tidur dan tirai-Nya adalah cahaya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keagungan dan kesempurnaan Allah ﷻ. Allah tidak tidur dan tidak mungkin bagi-Nya tidur, karena tidur adalah sifat makhluk yang lemah. Hadits ini juga menegaskan bahwa Allah selalu mengawasi dan menerima amal hamba-Nya setiap saat, siang dan malam. Yang terakhir, hadits ini mengabarkan tentang tabir cahaya yang menutupi Allah, yang jika terbuka, maka keagungan wajah-Nya akan menghanguskan seluruh makhluk sejauh pandangan mata.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab: "Dalam Perkataan Beliau ﷺ: 'Sesungguhnya Allah tidak tidur'", no. 179, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang mulia:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالاَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ - وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ النَّارُ - لَوْ كَشَفَهُ لأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ "

Makna ringkasnya: Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan para sahabat dan menyampaikan lima kalimat yang agung: (1) Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya tidur, (2) Allah menurunkan dan mengangkat timbangan (qisth), (3) amal malam diangkat sebelum amal siang dan sebaliknya, (4) tabir Allah adalah cahaya (dalam riwayat lain: api), dan (5) jika tabir itu terbuka, maka keagungan wajah-Nya akan membakar seluruh makhluk sejauh pandangan-Nya.

Ayat Al-Qur'an yang senada dengan makna hadits ini adalah firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Baqarah [2]: 255 (Ayat Kursi):

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

"Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. Tidak mengantuk dan tidak tidur." (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menetapkan sifat Al-Hayy (Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri) bagi Allah, dan bahwa sifat tidur adalah mustahil bagi Allah karena itu adalah kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:

Pertama: Penetapan sifat "tidak tidur" bagi Allah ﷻ

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menetapkan bahwa Allah tidak tidur, dan ini adalah sifat kesempurnaan. Tidur adalah sifat kekurangan yang dimiliki makhluk, karena orang yang tidur tidak dapat mengurus dirinya sendiri apalagi mengurus orang lain. Allah Maha Suci dari sifat tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Allah ﷻ menetapkan bagi diri-Nya sifat-sifat kesempurnaan dan menyucikan diri-Nya dari segala kekurangan. Tidur adalah kekurangan, maka Allah menyucikan diri-Nya darinya.

Kedua: Makna "يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ" (menurunkan dan mengangkat timbangan)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "qisth" di sini. Sebagian ulama seperti Al-Qadhi 'Iyadh (dikutip oleh Imam An-Nawawi) mengatakan bahwa yang dimaksud adalah rezeki, yaitu Allah menurunkan dan mengangkat rezeki bagi hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Ada juga yang mengatakan bahwa ini berkaitan dengan timbangan amal pada hari kiamat. Namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa maknanya adalah Allah mengatur urusan rezeki makhluk-Nya, menurunkan dan mengangkatnya sesuai hikmah-Nya.

Ketiga: Pengangkatan amal siang dan malam

Hadits ini menunjukkan bahwa amal manusia diangkat kepada Allah secara bergantian. Amal di malam hari diangkat sebelum amal di siang hari, dan amal di siang hari diangkat sebelum amal di malam hari. Ini menunjukkan perhatian Allah yang sangat besar terhadap amal hamba-Nya. Allah tidak pernah lalai, tidak tidur, dan tidak pernah lengah dari mengawasi hamba-Nya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah selalu menerima amal hamba-Nya setiap saat, dan ini menunjukkan kedekatan Allah dengan hamba-Nya serta perhatian-Nya yang sempurna.

Keempat: Tabir Allah adalah cahaya

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa tabir Allah adalah cahaya (nuur), dan dalam riwayat lain disebutkan api (naar). Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kedua riwayat ini shahih, dan para ulama menggabungkan keduanya dengan mengatakan bahwa cahaya yang menjadi tabir Allah itu adalah cahaya yang menyilaukan dan membakar, sebagaimana api. Maka tidak ada pertentangan antara kedua riwayat tersebut.

Kelima: "Subuhat Wajhih" (keagungan wajah Allah)

Frasa "سُبُحَاتُ وَجْهِهِ" bermakna keagungan, kemuliaan, dan cahaya wajah Allah ﷻ. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat wajah bagi Allah tanpa menanyakan bagaimana (bila kaifa) dan tanpa menyerupakan dengan makhluk (bila tamsil). Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ar-Rahman [55]: 27:

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

"Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan para ulama salaf menetapkan sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih tanpa ta'thil (menolak), tanpa tamtsil (menyerupakan), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana).

Keenam: Pelajaran tentang keagungan Allah

Hadits ini juga mengajarkan bahwa jika Allah membuka tabir-Nya, maka keagungan wajah-Nya akan menghanguskan seluruh makhluk sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan betapa agung dan dahsyatnya Allah ﷻ. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah kabar tentang kebesaran Allah yang tidak mampu dijangkau oleh akal manusia, dan kita wajib mengimaninya sebagaimana adanya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat mencintai ilmu dan selalu ingin mendengar langsung sabda Rasulullah ﷺ. Dalam hadits ini, beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri di tengah para sahabat dan menyampaikan lima kalimat yang sangat agung ini.

Para ulama menyebutkan bahwa ketika para sahabat mendengar hadits ini, mereka merasakan getaran keimanan yang sangat dalam. Betapa tidak, mereka sedang diajarkan tentang keagungan Allah yang tidak pernah tidur, yang selalu mengawasi, dan yang keagungan-Nya tidak terbayangkan oleh akal.

Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam kitabnya Asy-Syari'ah menyebutkan bahwa para salaf sangat berhati-hati dalam membahas sifat-sifat Allah. Mereka menerima nash-nash Al-Qur'an dan hadits dengan penuh keimanan, tanpa menanyakan bagaimana caranya, dan tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Inilah manhaj yang benar yang harus kita ikuti.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani bahwa Allah tidak tidur — Ini menegaskan kesempurnaan Allah dan bahwa Dia selalu mengawasi kita. Maka hendaknya kita merasa malu untuk berbuat maksiat karena Allah selalu melihat.
  2. Yakinlah bahwa amal kita diangkat kepada Allah — Baik amal siang maupun malam, semuanya dicatat dan diangkat. Maka perbanyaklah amal shalih di kedua waktu tersebut.
  3. Renungkan keagungan Allah — Tabir Allah adalah cahaya yang jika terbuka akan menghanguskan seluruh makhluk. Ini menunjukkan betapa agungnya Allah, sehingga kita harus tunduk dan khusyuk kepada-Nya.
  4. Jangan menanyakan "bagaimana" sifat Allah — Kita tetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menanyakan caranya, sebagaimana manhaj para salaf.
  5. Jaga adab dalam membahas sifat Allah — Jangan memperdebatkan hal-hal yang tidak kita ketahui ilmunya, dan kembalikanlah kepada ulama yang terpercaya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.