Penjelasan Hadits Muslim No. 1773 tentang Surat Nabi kepada Heraklius mengajak masuk Islam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah panjang tentang surat Nabi ﷺ kepada Heraklius, Kaisar Romawi, yang berisi ajakan masuk Islam. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Sufyan bin Harb—saat itu masih musuh Nabi ﷺ—yang kebetulan berada di Syam. Dialog antara Heraklius dan Abu Sufyan berisi pertanyaan-pertanyaan cerdas tentang sifat-sifat Nabi ﷺ, dan jawaban jujur Abu Sufyan—meski saat itu ia masih membenci Islam—justru menjadi bukti kebenaran kenabian Muhammad ﷺ. Heraklius sendiri akhirnya mengakui dalam hatinya bahwa Muhammad ﷺ adalah Nabi yang telah dinubuatkan, namun ia tidak beriman karena takut kehilangan kekuasaan dan tekanan kaumnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jihad dan Perang, Bab Surat Nabi ﷺ kepada Heraklius (no. 1773). Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 7) dari jalur yang sama.

Di dalam hadits ini terdapat potongan ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Heraklius dari surat Nabi ﷺ, yaitu firman Allah Ta'ala:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Katakanlah: 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (kepada) suatu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan jangan ada di antara kita yang menjadikan orang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: 'Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 64)

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk mukjizat Nabi ﷺ yang nyata, karena berisi kabar tentang peristiwa yang terjadi jauh di negeri Syam, dan Allah memberitahukannya kepada Nabi ﷺ. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya menulis surat dakwah kepada para raja dan pemimpin.

Penjelasan Rinci

Hadits ini sangat agung dan mengandung banyak pelajaran. Mari kita bedah bersama:

Pertama: Konteks Sejarah

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 7 H, setelah Perjanjian Hudaibiyah. Nabi ﷺ mengirim surat dakwah kepada para raja dan pemimpin dunia, termasuk Heraklius—Kaisar Romawi Timur yang berkuasa atas wilayah Syam. Ini menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak hanya untuk orang-orang biasa, tetapi juga harus disampaikan kepada para penguasa.

Kedua: Kejujuran Abu Sufyan

Abu Sufyan saat itu adalah pemimpin Quraisy yang masih memusuhi Islam. Ia mengaku: "Demi Allah, kalau bukan karena takut aib kebohongan akan dinisbahkan kepadaku, pasti aku akan berbohong." Namun karena ia adalah orang yang memiliki harga diri dan kedudukan di kaumnya, ia memilih jujur. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa kejujuran ini—meski berasal dari musuh—justru menjadi bukti yang lebih kuat, karena tidak ada kecurigaan bahwa ia memuji karena cinta atau fanatisme.

Ketiga: Analisis Heraklius

Heraklius menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Ia bertanya tentang:

  1. Nasab Nabi ﷺ — dijawab: beliau dari keluarga terhormat. Heraklius berkata: "Begitulah para rasul diutus dari kalangan keluarga terhormat kaumnya."
  2. Apakah ada raja dari leluhurnya? — dijawab tidak. Ini menepis tuduhan bahwa Muhammad ﷺ ingin merebut kerajaan nenek moyangnya.
  3. Apakah pernah menuduhnya bohong sebelumnya? — dijawab tidak. Ini membuktikan bahwa beliau adalah orang yang jujur sebelum kenabian, sehingga mustahil ia tiba-tiba berbohong atas nama Allah.
  4. Pengikutnya dari kalangan siapa? — dijawab: orang-orang lemah. Heraklius berkata: "Begitulah pengikut para rasul." Ini karena orang-orang yang merasa cukup dengan dunia dan kekuasaan jarang mau mengikuti kebenaran, sedangkan orang-orang yang sederhana lebih mudah menerima hidayah.
  5. Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang? — bertambah. Ini adalah ciri kebenaran, karena agama yang batil akan ditinggalkan pengikutnya.
  6. Apakah ada yang murtad? — tidak ada. Ini menunjukkan keimanan yang kokoh telah meresap ke dalam hati.
  7. Pernahkah berkhianat? — tidak pernah. Ini adalah sifat para nabi; mereka tidak pernah mengkhianati perjanjian.
  8. Apakah ada yang mengaku nabi sebelumnya? — tidak ada. Ini menepis tuduhan bahwa Muhammad ﷺ hanya meniru orang sebelumnya.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa jawaban-jawaban Abu Sufyan ini—yang semuanya berpihak pada kebenaran—adalah hikmah Allah yang luar biasa. Musuh Nabi ﷺ sendiri yang menjadi saksi atas kejujuran dan keluhuran akhlak beliau, tanpa ia sadari.

Keempat: Isi Surat Nabi ﷺ

Surat Nabi ﷺ kepada Heraklius berisi:

  1. Basmalah
  2. "Dari Muhammad Rasulullah kepada Heraklius pembesar Romawi"
  3. Salam bagi yang mengikuti petunjuk
  4. Ajakan masuk Islam: "Aslim taslam" (Masuklah Islam, engkau akan selamat)
  5. Janji pahala dua kali lipat bagi Ahli Kitab yang beriman
  6. Peringatan dosa bagi yang berpaling
  7. Ayat Al-Qur'an (QS. Ali 'Imran: 64) sebagai dalil ajakan kepada kalimat yang sama

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa surat ini menunjukkan kebijaksanaan dakwah: dimulai dengan salam dan penghormatan, kemudian ajakan yang lembut, lalu janji pahala, kemudian peringatan, dan ditutup dengan dalil yang kuat.

Kelima: Sikap Heraklius

Heraklius akhirnya berkata: "Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka dia adalah seorang nabi... Aku tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka dia berasal dari kalian. Kalau aku tahu aku bisa menemuinya, pasti aku akan menemuinya. Dan kalau aku bersamanya, pasti aku akan membasuh kedua kakinya."

Ini menunjukkan bahwa Heraklius secara intelektual yakin akan kebenaran Nabi ﷺ, namun ia tidak beriman. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa sebab keengganan Heraklius adalah karena ia takut kehilangan kerajaannya dan tekanan dari kaumnya. Ini pelajaran berharga: terkadang seseorang tahu kebenaran, tetapi hawa nafsu dan kepentingan dunia menghalanginya untuk mengikutinya.

Keenam: Hikmah di Balik Kisah

  1. Dakwah kepada penguasa adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ.
  2. Kejujuran adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim, meski terhadap musuh.
  3. Kebenaran akan tetap terbukti meski datang dari lisan orang yang membencinya.
  4. Ilmu dan kecerdasan tidak cukup untuk selamat; yang dibutuhkan adalah keikhlasan dan mengikuti kebenaran.
  5. Tanda-tanda kenabian yang disebut Heraklius adalah bukti-bukti rasional yang bisa dipahami oleh siapa saja yang berakal.

Story Telling

Ada kisah menarik tentang bagaimana surat Nabi ﷺ sampai ke tangan Heraklius. Dihyah al-Kalbi—sahabat Nabi ﷺ yang terkenal tampan—diutus membawa surat tersebut kepada gubernur Busra. Gubernur Busra kemudian meneruskannya kepada Heraklius yang saat itu sedang berada di Baitul Maqdis (Yerusalem) untuk bersyukur atas kemenangannya atas Persia.

Ketika Heraklius membaca surat tersebut, ia mengumpulkan para pembesar Romawi dan berkata: "Wahai kaum Romawi, aku ingin kalian mengikuti orang ini dan membenarkannya, demi Allah, ia adalah nabi yang dinantikan. Mari kita ikuti dia!" Namun para pembesar Romawi marah dan menolak. Heraklius melihat reaksi mereka, lalu berkata: "Kalian benar, aku hanya menguji keimanan kalian kepada agama kalian." Ia pun berpura-pura menarik ucapannya, padahal hatinya telah yakin.

Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa setelah peristiwa ini, Abu Sufyan berkata kepada teman-temannya: "Sungguh urusan Ibnu Abi Kabsyah (maksudnya Nabi ﷺ) telah menjadi besar. Raja Romawi saja takut kepadanya." Abu Sufyan mengaku bahwa sejak saat itu ia yakin Rasulullah ﷺ akan menang, hingga akhirnya Allah memberinya hidayah masuk Islam pada saat Penaklukan Makkah.

Hikmah dari kisah ini: hidayah adalah milik Allah. Heraklius yang cerdas dan dekat dengan kebenaran justru tidak mendapat hidayah, sementara Abu Sufyan yang awalnya memusuhi Islam akhirnya mendapat hidayah dan menjadi sahabat yang mulia. Ini mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dalam berdakwah dan tidak pernah meremehkan siapa pun, karena hidayah bisa datang kepada siapa saja yang Allah kehendaki.

Kesimpulan Praktis

  1. Dakwah harus disampaikan kepada semua kalangan, termasuk para pemimpin dan penguasa, dengan cara yang bijaksana dan santun.
  2. Jadilah pribadi yang jujur, karena kejujuran adalah modal dakwah yang paling utama. Abu Sufyan yang jujur—meski membenci Islam—justru menjadi saksi kebenaran Nabi ﷺ.
  3. Pelajari sirah Nabi ﷺ untuk memahami bagaimana dakwah disampaikan dengan hikmah dan argumen yang kuat.
  4. Jangan tertipu oleh kecerdasan dan kekuasaan; yang menyelamatkan adalah keikhlasan mengikuti kebenaran, bukan sekadar tahu bahwa itu benar.
  5. Jangan berputus asa dalam berdakwah, karena hidayah di tangan Allah. Abu Sufyan yang tadinya musuh besar Islam akhirnya menjadi muslim yang mulia.
  6. Dakwah dimulai dengan kasih sayang dan penghormatan, sebagaimana surat Nabi ﷺ dimulai dengan salam dan ajakan yang lembut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?