Penjelasan Hadits Muslim No. 177 tentang Aisyah menegaskan Nabi tidak melihat Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan penegasan Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ tidak pernah melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia. Dua ayat yang sering disalahpahami—"dia melihatnya di ufuk yang jelas" dan "dia melihatnya pada penurunan yang lain"—keduanya merujuk kepada Malaikat Jibril, bukan kepada Allah. Ini adalah pemahaman yang dikuatkan oleh para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, dan Ibnu Taimiyyah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dikutip 'Aisyah radhiyallahu 'anha:

Firman Allah tentang penglihatan yang tidak dapat menjangkau-Nya:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Terjemah: "Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan. Dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am [6]: 103)

Firman Allah tentang cara Allah berbicara kepada manusia:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Terjemah: "Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang rasul lalu dia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana." (QS. Asy-Syura [42]: 51)

Firman Allah tentang kewajiban menyampaikan risalah:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Terjemah: "Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak engkau lakukan, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari gangguan manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir." (QS. Al-Ma'idah [5]: 67)

Firman Allah tentang ilmu ghaib:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Terjemah: "Katakanlah, 'Tidak ada yang mengetahui yang ghaib di langit dan di bumi kecuali Allah.' Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml [27]: 65)

Hadits terkait: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, dari jalan Masruq dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tegas bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia, dan bahwa yang beliau lihat pada dua kesempatan tersebut adalah Jibril dalam bentuk aslinya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

'Aisyah radhiyallahu 'anha menegaskan tiga perkara yang jika seseorang mengucapkannya, maka ia telah melakukan kedustaan besar terhadap Allah:

  1. Mengklaim Nabi ﷺ melihat Allah dengan mata kepala di dunia. Ini bertentangan dengan QS. Al-An'am [6]: 103, karena penglihatan mata tidak dapat menjangkau Allah di dunia.
  2. Mengklaim Nabi ﷺ menyembunyikan sebagian wahyu. Ini bertentangan dengan QS. Al-Ma'idah [5]: 67 yang memerintahkan beliau menyampaikan seluruh risalah.
  3. Mengklaim Nabi ﷺ mengetahui hal-hal ghaib yang akan terjadi besok. Ini bertentangan dengan QS. An-Naml [27]: 65 bahwa hanya Allah yang mengetahui yang ghaib.

Pemahaman ulama tentang "melihat Allah":

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini adalah dalil yang jelas bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah pendapat jumhur ulama Ahlus Sunnah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah Nabi ﷺ melihat Allah pada malam Isra' Mi'raj. Namun, pendapat yang dipilih oleh 'Aisyah dan dikuatkan oleh banyak ulama adalah bahwa beliau tidak melihat Allah dengan mata kepala, melainkan dengan hati. Ibnu Hajar juga menukil bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berpendapat Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan matanya.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat "وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى" (QS. An-Najm [53]: 13) ditafsirkan oleh 'Aisyah dan Ibnu Mas'ud sebagai penglihatan terhadap Jibril, bukan terhadap Allah. Ini dikuatkan oleh konteks ayat sebelumnya yang menyebutkan Jibril.

Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa pendapat yang benar adalah Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia, dan bahwa penglihatan dengan mata terhadap Allah hanya terjadi di akhirat bagi orang-orang beriman. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan lainnya.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Hadi al-Arwah menjelaskan bahwa ruh Nabi ﷺ melihat Allah pada malam Mi'raj, tetapi penglihatan dengan mata kepala tidak terjadi di dunia. Beliau membedakan antara penglihatan ruhani dan penglihatan jasmani.

Penjelasan tentang "dua kesempatan melihat Jibril":

Nabi ﷺ menjelaskan bahwa beliau melihat Jibril dalam bentuk aslinya hanya dua kali: pertama di ufuk yang jelas (QS. At-Takwir [81]: 23), dan kedua pada penurunan yang lain (QS. An-Najm [53]: 13). Dalam kedua kesempatan itu, Jibril turun dari langit dan memenuhi ruang antara langit dan bumi dengan kebesaran tubuhnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berpendapat bahwa Nabi ﷺ melihat Allah dengan hatinya pada malam Mi'raj, berdasarkan hadits-hadits lain. Namun, pendapat yang paling kuat dan dikuatkan oleh 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan jumhur ulama adalah bahwa penglihatan dengan mata kepala tidak terjadi di dunia. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menguatkan pendapat ini.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Masruq bin al-Ajda'—seorang tabi'in terpercaya—datang kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan mendapatinya sedang bersandar. Ketika 'Aisyah menyebutkan tiga perkara yang merupakan kedustaan besar terhadap Allah, Masruq yang semula bersandar langsung duduk tegak karena kaget dan penasaran. Ia memohon kepada 'Aisyah untuk tidak terburu-buru dan menjelaskan.

Masruq kemudian mengajukan dalil dari Al-Qur'an tentang ayat "وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ" dan "وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى". Dengan tenang dan penuh ilmu, 'Aisyah menjelaskan bahwa dirinya adalah orang pertama dari umat ini yang bertanya langsung kepada Rasulullah ﷺ tentang hal itu. Beliau ﷺ menjawab bahwa yang dilihat adalah Jibril, bukan Allah. 'Aisyah kemudian menguatkan dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa penglihatan tidak dapat menjangkau Allah dan bahwa hanya Allah yang mengetahui yang ghaib.

Kisah ini menunjukkan kedalaman ilmu 'Aisyah radhiyallahu 'anha dan keberaniannya dalam menegakkan kebenaran, serta kelembutan Masruq dalam bertanya dan menerima penjelasan. (Sumber: Shahih Muslim, Kitab Iman)

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa Nabi ﷺ tidak melihat Allah dengan mata kepala di dunia. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh 'Aisyah, Ibnu Mas'ud, dan jumhur ulama seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, dan Ibnu Taimiyyah.
  2. Pahami bahwa dua ayat tentang "melihat" merujuk kepada Jibril. Jangan menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagai penglihatan terhadap Allah, karena konteksnya menunjukkan Jibril dalam bentuk aslinya.
  3. Hormati perbedaan pendapat ulama dengan adab. Sebagian ulama berpendapat Nabi ﷺ melihat Allah dengan hati, tetapi pendapat yang paling kuat adalah tidak melihat dengan mata kepala.
  4. Jauhi klaim-klaim yang bertentangan dengan Al-Qur'an. Seperti mengklaim Nabi ﷺ menyembunyikan wahyu atau mengetahui hal ghaib secara mutlak.
  5. Teladani keilmuan 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau adalah rujukan dalam masalah aqidah dan tafsir, dan jawabannya selalu berdasarkan dalil Al-Qur'an dan penjelasan langsung dari Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?