Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ memperlakukan tawanan dengan lembut, menawarkan pilihan, dan tidak tergesa-gesa menghukum. Thumamah bin Utsal, pemimpin Yamamah, akhirnya masuk Islam bukan karena paksaan, tetapi karena melihat akhlak mulia Nabi ﷺ. Hadits ini juga menunjukkan bahwa hidayah adalah urusan Allah, dan kelembutan dakwah lebih membekas daripada kekerasan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Jihad dan Perang, Bab Mengikat Tahanan dan Memperbolehkan Memberi Kebaikan (no. 1764), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.
Ayat yang sangat relevan dengan tema dakwah dengan kelembutan:
QS. Ali 'Imran [3]: 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Terjemahan: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."
QS. Al-Baqarah [2]: 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Kelembutan Nabi ﷺ terhadap tawanan
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak langsung membunuh Thumamah meskipun ia adalah pemimpin musuh, tetapi menahan dan berbicara dengannya dengan lembut. Ini menunjukkan bahwa tujuan penawanan bukan balas dendam, melainkan perbaikan dan dakwah.
2. Kebebasan memilih dan tidak memaksa
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak memaksa Thumamah untuk masuk Islam. Beliau hanya menawarkan kebaikan dan membebaskannya. Ini sejalan dengan QS. Al-Baqarah [2]: 256 tentang tidak ada paksaan dalam beragama. Hidayah adalah urusan Allah, bukan paksaan manusia.
3. Akhlak yang mengubah hati
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa perubahan hati Thumamah terjadi karena ia melihat langsung akhlak Nabi ﷺ. Thumamah yang awalnya membenci Nabi ﷺ, agamanya, dan kotanya, berubah total setelah melihat kelembutan dan kemuliaan akhlak beliau. Ini menunjukkan bahwa dakwah dengan akhlak lebih kuat daripada dakwah dengan kata-kata.
4. Thumamah sebagai pemimpin yang berpengaruh
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa Thumamah bin Utsal adalah pemimpin Yamamah yang sangat berpengaruh. Setelah masuk Islam, ia menggunakan pengaruhnya untuk membantu dakwah, bahkan menghalangi pasokan gandum ke Mekkah hingga Nabi ﷺ mengizinkan. Ini menunjukkan bahwa hidayah seorang pemimpin bisa membawa manfaat besar bagi umat.
5. Sikap Thumamah setelah masuk Islam
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa pernyataan Thumamah tentang wajah, agama, dan kota Nabi ﷺ yang berubah dari paling dibenci menjadi paling dicintai adalah bukti kejujuran imannya. Ini juga menunjukkan bahwa iman yang benar akan mengubah perasaan seseorang secara mendasar.
Perbedaan pendapat ulama:
Para ulama dalam daftar rujukan tidak berbeda pendapat tentang keutamaan hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ, kebolehan menahan tawanan, dan kebolehan membebaskannya tanpa tebusan jika ada maslahat. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ sengaja menunda keputusan untuk memberi kesempatan Thumamah berpikir dan melihat akhlak Islam secara langsung.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Thumamah bin Utsal, pemimpin Yamamah, adalah orang yang sangat membenci Nabi ﷺ. Ketika pasukan berkuda Nabi ﷺ menangkapnya di Najd, ia dibawa ke Madinah dan diikat di salah satu tiang masjid. Nabi ﷺ mendatanginya tiga hari berturut-turut, menanyakan hal yang sama: "Apa yang ada padamu, wahai Thumamah?"
Thumamah menjawab dengan jawaban yang sama setiap kali: "Jika engkau membunuhku, engkau membunuh orang yang telah menumpahkan darah. Jika engkau berbuat baik, engkau berbuat baik kepada orang yang bersyukur. Jika engkau ingin harta, mintalah, engkau akan diberi."
Pada hari ketiga, Nabi ﷺ berkata: "Bebaskan Thumamah."
Thumamah pergi ke kebun kurma dekat masjid, mandi, lalu masuk masjid dan mengucapkan syahadat. Ia kemudian berkata: "Wahai Muhammad, demi Allah, tidak ada wajah yang lebih aku benci daripada wajahmu, tetapi sekarang wajahmu adalah yang paling aku cintai. Tidak ada agama yang lebih aku benci daripada agamamu, tetapi sekarang agamamu adalah yang paling aku cintai. Tidak ada kota yang lebih aku benci daripada kotamu, tetapi sekarang kotamu adalah yang paling aku cintai."
Thumamah kemudian pergi ke Mekkah untuk Umrah. Ketika orang-orang Quraisy bertanya apakah ia telah berpindah agama, ia menjawab: "Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Rasulullah ﷺ. Demi Allah, tidak akan kalian dapatkan sebutir gandum pun dari Yamamah hingga Rasulullah ﷺ mengizinkannya."
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah serta Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad.
Kesimpulan Praktis
- Berlaku lembut terhadap tawanan dan orang yang berbeda pendapat — kelembutan lebih membekas daripada kekerasan.
- Tidak memaksa orang masuk Islam — hidayah adalah urusan Allah, tugas kita hanya menyampaikan dengan akhlak mulia.
- Bersabar dalam berdakwah — Nabi ﷺ menunggu tiga hari, tidak tergesa-gesa.
- Akhlak adalah dakwah yang paling kuat — Thumamah masuk Islam karena melihat langsung akhlak Nabi ﷺ.
- Manfaatkan pengaruh untuk kebaikan — Thumamah menggunakan pengaruhnya untuk membantu dakwah setelah masuk Islam.
- Jangan menilai seseorang dari masa lalunya — Thumamah yang dulu membenci Islam menjadi pembela Islam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.