Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1677 tentang Dosa pembunuhan pertama ditanggung pewaris tradisi pembunuhan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa siapa saja yang memulai suatu perbuatan buruk, maka ia akan menanggung dosa perbuatan tersebut dan juga dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Dalam konteks hadits ini, Nabi Qabil (anak Nabi Adam) disebut sebagai orang pertama yang melakukan pembunuhan, sehingga setiap pembunuhan zalim yang terjadi setelahnya, ia mendapat bagian dosanya. Ini adalah peringatan keras agar kita tidak pernah menjadi pelopor kejahatan, dan sebaliknya, menjadi pelopor kebaikan akan mendapat pahala orang-orang yang mengikutinya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

<p>لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا لأَنَّهُ كَانَ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ</p>

Terjemahan: "Tidak ada seorang pun yang dibunuh secara zalim, melainkan bagian dari (kesalahan ini juga) jatuh kepada anak Adam yang pertama, karena dialah yang pertama kali memperkenalkan pembunuhan." (HR. Muslim, no. 1677, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 32:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Terjemahan: "Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "kifl" (كِفْل) adalah bagian atau porsi dosa. Beliau menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya dosa orang yang memulai suatu perbuatan buruk, karena ia menanggung dosanya sendiri dan dosa orang yang mengikutinya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits semakna yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, dan menjelaskan bahwa "anak Adam yang pertama" adalah Qabil yang membunuh saudaranya Habil, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 27-31.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil penting tentang bahaya memulai kebiasaan buruk. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap jiwa yang terbunuh secara zalim, maka dosanya akan ditanggung juga oleh Qabil, anak Nabi Adam 'alaihissalam, karena dialah yang pertama kali melakukan pembunuhan di muka bumi.

Makna "Kifl" (كِفْل):

Para ulama menjelaskan bahwa kata "kifl" berarti bagian atau porsi. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan bahwa maknanya adalah: "Bagian dari dosa pembunuhan tersebut akan ditimpakan kepada Qabil, karena dia adalah orang yang pertama kali mencontohkan perbuatan ini." Ini bukan berarti dosa si pembunuh berkurang, tetapi Qabil mendapat dosa tambahan karena perannya sebagai pelopor kejahatan ini.

Prinsip "Man Sanna Sunnatan" (Pelopor Kebaikan atau Keburukan):

Hadits ini sejalan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebaikan), maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim, no. 2674)

Penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali:

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar bahaya memulai perbuatan buruk. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa orang yang memulai kebiasaan buruk akan dicatat baginya dosa perbuatan tersebut dan dosa semua orang yang melakukannya setelah dia, hingga hari kiamat. Ini adalah bentuk keadilan Allah, karena orang tersebut adalah sebab utama terjadinya perbuatan itu.

Kisah Qabil dan Habil:

Kisah ini disebutkan dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 27-31, ketika dua putra Nabi Adam mempersembahkan kurban. Kurban Habil diterima karena keikhlasannya, sedangkan kurban Qabil tidak diterima. Karena iri dan dengki, Qabil membunuh Habil. Setelah membunuhnya, Qabil bingung menguburkan mayat saudaranya, lalu Allah mengirim seekor burung gagak yang menggali tanah untuk menguburkan burung gagak lain yang mati. Melihat itu, Qabil menyesal dan berkata, "Celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini?" (QS. Al-Ma'idah [5]: 31).

Hikmah dari Hadits:

  1. Peringatan untuk tidak menjadi pelopor kejahatan - Siapa pun yang memulai kebiasaan buruk, ia akan menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya.
  2. Dorongan untuk menjadi pelopor kebaikan - Sebaliknya, siapa yang memulai kebaikan, ia akan mendapat pahala orang-orang yang mengikutinya.
  3. Menunjukkan keadilan Allah - Allah tidak mengurangi dosa pelaku asli, tetapi pelopor mendapat dosa tambahan karena perannya sebagai penyebab.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada seorang pun yang dibunuh secara zalim, melainkan bagian dari (kesalahan ini juga) jatuh kepada anak Adam yang pertama, karena dialah yang pertama kali memperkenalkan pembunuhan.'" (HR. Muslim)

Kisah ini mengingatkan kita pada peristiwa pertama pembunuhan dalam sejarah manusia. Qabil, karena dorongan hawa nafsu dan kedengkian, tega membunuh saudaranya sendiri, Habil. Padahal Habil adalah orang yang saleh dan jujur. Sejak saat itu, tradisi buruk pembunuhan menyebar di muka bumi, dan Qabil menanggung dosa setiap pembunuhan yang terjadi karena dialah pelopornya.

Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya, beliau termasuk ulama yang diakui) menyebutkan bahwa ketika Qabil membunuh Habil, bumi bergetar dan gunung-gunung hampir runtuh karena peristiwa besar ini. Ini menunjukkan betapa besarnya dosa pembunuhan di sisi Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah menjadi pelopor kejahatan - Hindari memulai perbuatan dosa, karena dosanya akan berlipat dengan dosa orang-orang yang mengikutinya.
  2. Jadilah pelopor kebaikan - Mulailah kebiasaan baik, sekecil apa pun, karena pahalanya akan terus mengalir selama orang-orang mengikutinya.
  3. Jauhi sifat iri dan dengki - Kisah Qabil dan Habil mengajarkan bahwa iri dan dengki adalah awal dari kehancuran.
  4. Hargai nyawa manusia - Membunuh satu jiwa tanpa hak adalah dosa besar yang setara dengan membunuh seluruh manusia.
  5. Segera bertaubat dari dosa - Jika pernah berbuat zalim, segera bertaubat dan perbaiki diri sebelum ajal menjemput.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.