Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah "diperlihatkan" (seolah melihat) dua nabi sebelumnya, yaitu Musa عليه السلام dan Yunus عليه السلام, di dua tempat berbeda dalam perjalanan beliau. Keduanya digambarkan sedang bertalbiyah (menyeru "Labbaik") kepada Allah. Hadits ini menegaskan kemuliaan para nabi, kebenaran peristiwa Isra' Mi'raj, serta kaitan erat antara perjalanan itu dengan kewajiban shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Isra' Rasulullah ﷺ ke langit dan kewajiban shalat (no. 166), dari sahabat Ibnu Abbas رضي الله عنهما, melalui jalur Abu al-'Aliyah.
Hadits ini berkaitan dengan ayat tentang Isra':
QS. Al-Isra' [17]: 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemah ringkas: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj adalah benar dan merupakan salah satu mukjizat besar Nabi ﷺ, serta menjadi dasar penetapan kewajiban shalat lima waktu.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab keutamaan para nabi dan tanda-tanda kenabian yang Allah perlihatkan kepada Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan dua peristiwa dalam perjalanan Nabi ﷺ:
Pertama, ketika melewati Wadi al-Azraq, Nabi ﷺ bersabda seolah-olah beliau melihat Musa عليه السلام turun dari jalan pegunungan (ats-tsaniyyah) sambil bertalbiyah dengan suara yang keras (ju'ar) kepada Allah. Talbiyah adalah ucapan "Labbaik Allahumma Labbaik" — kalimat yang biasa diucapkan jamaah haji.
Kedua, ketika melewati Tsaniyyah Harsya, Nabi ﷺ bersabda seolah-olah melihat Yunus bin Matta عليه السلام menaiki unta merah yang bagus, mengenakan jubah wol, dengan tali kekang dari serat pohon kurma (khulbah), juga sedang bertalbiyah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penglihatan ini adalah bagian dari "ru'yah" (penglihatan) yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ pada malam Isra', sebagai bentuk pemuliaan dan penguatan iman. Ini bukan klaim bahwa Musa dan Yunus masih hidup di dunia saat itu, melainkan Allah memperlihatkan keadaan mereka kepada Nabi ﷺ sebagai tanda kebesaran-Nya.
Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa perjalanan Isra' Mi'raj penuh dengan tanda-tanda kebesaran Allah, termasuk diperlihatkannya para nabi di berbagai tempat, dan puncaknya adalah kewajiban shalat lima waktu yang diterima langsung dari Allah tanpa perantara.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa Isra' Mi'raj adalah malam yang penuh berkah, dan shalat adalah warisan paling agung dari perjalanan itu. Karena itu, siapa yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah menyia-nyiakan buah termulia dari Isra' Mi'raj.
Hikmah penting:
- Para nabi semuanya bertalbiyah, menunjukkan bahwa tauhid dan ibadah adalah inti dakwah seluruh nabi.
- Nabi ﷺ diperlihatkan para nabi sebelumnya untuk meneguhkan kedudukannya sebagai penutup para nabi.
- Kaitan dengan shalat: setelah peristiwa ini, Nabi ﷺ menerima perintah shalat lima waktu, sehingga shalat menjadi ibadah paling utama setelah syahadat.
Story Telling
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما (sebagaimana dalam hadits ini) bahwa ketika Nabi ﷺ melewati Wadi al-Azraq dalam perjalanan Isra', beliau seolah melihat Musa عليه السلام turun dari lereng gunung sambil mengumandangkan talbiyah dengan suara yang penuh kerinduan kepada Allah. Suara itu menggema di lembah, mengingatkan pada saat Musa berbicara langsung dengan Allah di Thur Sina.
Kemudian di Tsaniyyah Harsya, Nabi ﷺ melihat Yunus عليه السلام — nabi yang pernah ditelan ikan besar — menaiki unta merah dengan jubah wol sederhana dan tali kekang dari serat kurma, juga bertalbiyah. Keduanya, meski berbeda zaman dan tempat, sama-sama mengagungkan Allah dengan kalimat tauhid.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa para nabi adalah satu umat dalam tauhid, meski syariat mereka berbeda. Dan Nabi ﷺ, sebagai penutup, membawa syariat yang paling sempurna, termasuk shalat lima waktu yang menjadi tiang agama.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah pada Isra' Mi'raj sebagai peristiwa benar yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih.
- Jaga shalat lima waktu — inilah warisan utama dari Isra' Mi'raj. Ibnul Qayyim menyebut shalat sebagai "buah dari perjalanan malam yang penuh berkah."
- Teladani tauhid para nabi — mereka semua bertalbiyah, mengesakan Allah. Hindari syirik dalam segala bentuk.
- Hidupkan talbiyah saat haji/umrah sebagai wujud kerinduan kepada Allah, meneladani Musa dan Yunus عليهما السلام.
- Renungkan kebesaran Allah — Dia memperlihatkan tanda-tanda-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, termasuk kepada Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.