Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke langit-langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan itu, Allah mewajibkan shalat lima puluh waktu, lalu setelah Nabi ﷺ berulang kali menghadap Allah atas saran Nabi Musa عليه السلام, kewajiban itu diringankan menjadi lima waktu, namun pahalanya tetap lima puluh. Hadits ini mengajarkan betapa besar kasih sayang Allah kepada umat ini dan betapa pentingnya shalat sebagai tiang agama.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra' [17]: 1)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه, yang mendengar dari Abu Dzarr رضي الله عنه. Imam Muslim menempatkannya di awal kitab Shahih-nya karena peristiwa Isra' Mi'raj mengandung pokok-pokok aqidah yang agung, terutama penetapan kewajiban shalat.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi ﷺ dalam keadaan sadar, berdasarkan zahir hadits-hadits shahih.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan kemuliaan shalat dan bahwa ia adalah ibadah pertama yang diwajibkan langsung dari Allah tanpa perantara wahyu di bumi.
- Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah merinci perjalanan ini dan menegaskan kebenaran peristiwa Isra' Mi'raj sebagai mukjizat besar.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan hikmah pengurangan shalat dari lima puluh menjadi lima sebagai bentuk rahmat Allah kepada umat ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah:
Pertama: Pembukaan dada Nabi ﷺ dan pencucian hati dengan air Zamzam.
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah persiapan ruhani sebelum Nabi ﷺ menghadap Allah. Hati beliau dibersihkan dan diisi dengan hikmah dan iman, agar beliau siap menerima wahyu dan perintah agung. Ini menunjukkan bahwa untuk menerima ilmu dan amal yang besar, hati harus bersih terlebih dahulu.
Kedua: Perjalanan melewati langit-langit dan pertemuan dengan para nabi.
Nabi ﷺ bertemu dengan Adam عليه السلام di langit pertama, lalu Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim عليه السلام di langit-langit berikutnya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pertemuan ini menunjukkan kesatuan risalah para nabi dan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ yang diakui oleh para nabi sebelumnya. Adam عليه السلام tertawa ketika melihat keturunannya yang masuk surga dan menangis ketika melihat yang masuk neraka — ini menunjukkan kasih sayang seorang ayah kepada anak-anaknya.
Ketiga: Kewajiban shalat lima puluh waktu dan syafa'at Nabi Musa عليه السلام.
Ini adalah inti hadits. Allah mewajibkan lima puluh shalat, lalu Nabi ﷺ berulang kali kembali kepada Allah atas saran Nabi Musa عليه السلام hingga akhirnya menjadi lima waktu. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa ini bukanlah bentuk "negosiasi" yang mengurangi keagungan Allah, melainkan bentuk kasih sayang Allah yang memang menghendaki keringanan bagi umat ini. Allah berfirman: "Mereka lima dan pada saat yang sama lima puluh" — artinya lima waktu dalam pelaksanaan, tetapi pahalanya tetap lima puluh. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah.
Keempat: Sidratul Muntaha dan masuknya Nabi ﷺ ke surga.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Sidratul Muntaha adalah batas tertinggi yang tidak dapat dilampaui oleh makhluk. Di sana Nabi ﷺ melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Masuknya beliau ke surga menunjukkan kemuliaan beliau di sisi Allah.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat apakah Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh atau hanya ruh saja. Jumhur ulama dari kalangan Ahlus Sunnah — termasuk Ibnu Hajar, Ibnu Katsir, dan Ibnu Qayyim — menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi dengan jasad dan ruh dalam keadaan sadar, berdasarkan zahir hadits-hadits shahih. Pendapat ini yang paling kuat dan dipegang oleh Ahlus Sunnah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi ﷺ menceritakannya kepada penduduk Mekkah. Abu Jahal dan orang-orang musyrik menolak dan menganggapnya mustahil. Mereka lalu mendatangi Abu Bakar رضي الله عنه dan bertanya: "Apakah engkau membenarkan apa yang dikatakan sahabatmu itu?" Abu Bakar menjawab dengan tegas: "Jika ia benar-benar mengatakannya, maka aku membenarkannya." Sejak saat itu beliau dijuluki Ash-Shiddiq (yang membenarkan). Kisah ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan menunjukkan bahwa iman yang benar adalah membenarkan berita Nabi ﷺ tanpa ragu, meskipun akal belum mampu menjangkaunya.
Kesimpulan Praktis
- Dirikan shalat lima waktu dengan penuh kesadaran — karena shalat adalah perintah yang diterima langsung oleh Nabi ﷺ dari Allah di langit, bukan melalui perantara wahyu di bumi. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat.
- Jangan meremehkan shalat — lima waktu yang kita kerjakan adalah hasil dari rahmat Allah yang menghendaki keringanan, namun pahalanya tetap lima puluh. Maka jangan sia-siakan.
- Bersihkan hati sebelum menuntut ilmu dan beribadah — sebagaimana hati Nabi ﷺ dibersihkan dengan air Zamzam sebelum menerima perintah agung, kita pun perlu menjaga hati dari kotoran dosa dan maksiat.
- Teladani kasih sayang Nabi Musa عليه السلام kepada umat Nabi Muhammad ﷺ — beliau menyarankan Nabi ﷺ untuk memohon keringanan, menunjukkan bahwa seorang mukmin harus saling menasihati dalam kebaikan.
- Iman kepada hal-hal ghaib — Isra' Mi'raj adalah bukti bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sebagaimana Abu Bakar membenarkannya tanpa ragu, kita pun harus membenarkan berita-berita Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.