Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa Isra' Mi'raj, perjalanan agung Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu naik ke langit-langit hingga Sidratul Muntaha. Di sana Allah mewajibkan shalat lima puluh waktu, lalu setelah Nabi ﷺ berulang kali kembali kepada Allah atas saran Nabi Musa, akhirnya kewajiban itu diringankan menjadi lima shalat sehari-semalam, namun pahalanya tetap seperti lima puluh. Hadits ini menegaskan agungnya kedudukan shalat dan luasnya rahmat Allah bagi umat ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan peristiwa ini antara lain:
QS. Al-Isra' [17]: 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan: "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
QS. An-Najm [53]: 13-14
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ ۞ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ
Terjemahan: "Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (Jibril) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha."
QS. Maryam [19]: 57
وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا
Terjemahan: "Dan Kami angkat dia (Idris) ke tempat yang tinggi." (Ayat ini disebutkan dalam hadits terkait Nabi Idris di langit keempat.)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits pokok tentang Isra' Mi'raj dan kewajiban shalat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas panjang peristiwa ini ketika menjelaskan hadits-hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan peristiwa Isra' Mi'raj sebagai salah satu mukjizat terbesar Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:
Pertama, tentang al-Buraq. Nabi ﷺ menyebutkan bahwa al-Buraq adalah hewan putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, yang langkahnya sejauh pandangan matanya. Ini menunjukkan kecepatan luar biasa yang Allah berikan, di luar kebiasaan manusia. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat yang tidak bisa diukur dengan logika biasa, dan wajib bagi kita menerimanya karena datang dari riwayat yang shahih.
Kedua, Nabi ﷺ shalat dua rakaat di Masjidil Aqsha dan mengikat al-Buraq di cincin tempat para nabi mengikat. Ini menunjukkan kemuliaan Masjidil Aqsha dan hubungan para nabi dengan tempat tersebut. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini juga menunjukkan bahwa Masjidil Aqsha adalah tempat ibadah yang telah lama dimuliakan.
Ketiga, pilihan Nabi ﷺ terhadap susu daripada anggur. Jibril berkata, "Engkau telah memilih fitrah." Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa susu melambangkan fitrah (agama yang lurus), sedangkan anggur melambangkan hal yang melalaikan. Ini isyarat bahwa Nabi ﷺ dan umatnya berada di atas fitrah yang suci.
Keempat, pertemuan dengan para nabi di setiap langit: Adam, Isa dan Yahya, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Ini menunjukkan kedudukan tinggi para nabi dan bahwa Nabi ﷺ adalah penutup mereka. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa urutan ini memiliki hikmah tersendiri, dan setiap nabi menyambut Nabi ﷺ dengan baik.
Kelima, kewajiban shalat. Allah mewajibkan lima puluh shalat, lalu Nabi ﷺ berulang kali kembali kepada Allah atas saran Nabi Musa hingga akhirnya menjadi lima shalat dengan pahala lima puluh. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat ini, dan betapa pentingnya shalat sehingga perintahnya langsung dari Allah tanpa perantara wahyu biasa.
Keenam, kaidah pahala dan dosa: niat baik yang tidak dikerjakan dicatat satu kebaikan, jika dikerjakan dicatat sepuluh; niat buruk yang tidak dikerjakan tidak dicatat, jika dikerjakan dicatat satu dosa. Ini adalah kaidah agung yang disebutkan dalam hadits ini dan dijelaskan oleh Imam an-Nawawi serta Ibnu Hajar sebagai bentuk kemurahan Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah peristiwa Isra' Mi'raj, ketika pagi tiba, Nabi ﷺ menceritakan peristiwa itu kepada penduduk Makkah. Orang-orang yang lemah imannya langsung mencemooh dan tidak percaya, sementara Abu Bakar radhiyallahu 'anhu langsung membenarkan tanpa ragu. Ketika ditanya bagaimana ia bisa percaya begitu cepat, Abu Bakar berkata bahwa jika Nabi ﷺ mengatakan hal yang lebih jauh dari itu, ia tetap akan membenarkannya. Kisah ini disebutkan dalam riwayat-riwayat yang dibahas oleh Ibnu Hajar dan Ibn Katsir, dan menjadi pelajaran tentang kejujuran iman dan tawadhu kepada Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Shalat adalah ibadah yang paling agung, karena perintahnya langsung dari Allah dalam peristiwa Mi'raj.
- Lima shalat sehari-semalam memiliki pahala lima puluh, jadi jangan pernah meremehkannya.
- Niat baik sudah dicatat sebagai kebaikan, maka perbanyaklah niat baik.
- Niat buruk yang tidak dikerjakan tidak dicatat, maka jangan takut selama belum dikerjakan.
- Percayalah pada perkara ghaib yang shahih, sebagaimana Abu Bakar membenarkan tanpa ragu.
- Jangan berlebihan dalam membahas hal-hal yang tidak dijelaskan oleh dalil, cukupkan dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.