Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa ada tiga golongan manusia yang akan mendapatkan pahala dua kali lipat: (1) Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya lalu juga beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, (2) hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, dan (3) seorang tuan yang mendidik budak wanitanya dengan baik lalu memerdekakan dan menikahinya. Hadits ini juga menunjukkan semangat para salaf dalam menuntut ilmu dan betapa besar perhatian mereka terhadap hadits Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, dari jalur Abu Burdah bin Abu Musa dari ayahnya, Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang disebutkan dalam pertanyaan memuat redaksi lengkapnya. Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan pahala berlipat ganda bagi Ahli Kitab yang beriman, Allah ﷻ berfirman:
QS. Al-Qashash [28]: 52–54
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِن قَبْلِهِ هُم بِهِ يُؤْمِنُونَ
وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ
أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُم مَّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Terjemahan ringkas: "Dan orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Kitab sebelum Al-Qur'an, mereka beriman kepadanya. Dan apabila dibacakan kepada mereka, mereka berkata: 'Kami beriman kepadanya, sesungguhnya ia adalah kebenaran dari Tuhan kami; sesungguhnya kami sebelum kedatangannya adalah orang-orang yang berserah diri.' Mereka itu akan diberi pahala dua kali karena kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan."
Hadits terkait juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dan Imam Muslim meriwayatkannya dalam beberapa jalur. Hadits ini disepakati keshahihannya (muttafaqun 'alaih).
Penjelasan Rinci
Makna Umum Hadits
Hadits ini mengandung tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali lipat:
Pertama: Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan juga beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Maksudnya adalah seorang Yahudi atau Nasrani yang beriman kepada Nabi Musa atau Nabi Isa 'alaihima as-salam dengan iman yang benar, kemudian ia hidup di masa Nabi Muhammad ﷺ atau sampai berita kenabian beliau kepadanya, lalu ia beriman kepada beliau, mengikuti, dan membenarkannya. Orang seperti ini mendapatkan dua pahala: pahala imannya kepada nabi sebelumnya dan pahala imannya kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Ahli Kitab yang tetap berpegang pada keimanan yang benar sebelum diutusnya Nabi ﷺ, lalu beriman kepada beliau ketika beliau diutus. Adapun yang tetap dalam kekafiran setelah datangnya risalah, maka tidak termasuk.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pahala dua kali lipat ini adalah karena mereka beriman kepada dua risalah, dan karena mereka menghadapi dua ujian keimanan.
Kedua: Hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya.
Seorang budak yang tetap taat beribadah kepada Allah ﷻ dan juga menunaikan kewajibannya kepada tuannya dengan baik, maka ia mendapatkan dua pahala: pahala ibadahnya kepada Allah dan pahala ketaatannya kepada tuannya.
Ketiga: Tuan yang mendidik budak wanitanya dengan baik, memerdekakannya, lalu menikahinya.
Ini adalah bentuk ihsan yang sangat tinggi. Seorang tuan yang memberi makan dengan baik, mendidik akhlak budak wanitanya, memerdekakannya, kemudian menikahinya — ia mendapatkan dua pahala: pahala memerdekakan dan pahala menikah.
Perkataan Asy-Sya'bi
Asy-Sya'bi (seorang tabi'in besar, wafat 103 H) berkata kepada penanya dari Khurasan: "Ambillah hadits ini tanpa (memberikan) sesuatu." Maksudnya, ambillah hadits ini secara gratis, tanpa perlu membayar atau bersusah payah. Ini menunjukkan betapa berharganya hadits ini.
Kemudian beliau berkata: "Dahulu seorang lelaki diwajibkan untuk bepergian ke Madinah bahkan untuk hadits yang lebih kecil dari ini." Ini menunjukkan semangat salaf dalam menuntut ilmu — mereka rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu hadits.
Kaitan dengan Ulama dalam Daftar
- Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam Shahih Muslim, Kitab Iman.
- Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan iman kepada Nabi Muhammad ﷺ bagi Ahli Kitab yang beriman kepada nabi sebelumnya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan syarat-syarat Ahli Kitab yang mendapatkan dua pahala.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Qashash [28]: 52–54 menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan mereka mendapatkan pahala dua kali lipat.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa pahala dua kali lipat bagi Ahli Kitab adalah karena mereka beriman kepada kitab-kitab Allah yang terdahulu dan juga beriman kepada Al-Qur'an.
Perbedaan Pendapat
Para ulama dalam daftar tidak berbeda pendapat tentang keutamaan tiga golongan ini. Yang menjadi pembahasan adalah rincian syarat-syaratnya, namun secara umum mereka sepakat bahwa hadits ini shahih dan maknanya jelas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Asy-Sya'bi (Abu Amr, seorang tabi'in besar dari Kufah) pernah didatangi seorang lelaki dari Khurasan. Lelaki itu bertanya tentang pendapat sebagian orang Khurasan yang mengatakan bahwa seseorang yang memerdekakan budak wanitanya lalu menikahinya adalah seperti orang yang menunggangi hewan kurban — yakni sesuatu yang kurang pantas atau aneh.
Maka Asy-Sya'bi pun menceritakan hadits dari Abu Burdah bin Abu Musa dari ayahnya, Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang tiga golongan yang mendapatkan pahala dua kali lipat. Setelah menyampaikan hadits itu, Asy-Sya'bi berkata kepada lelaki Khurasan tersebut: "Ambillah hadits ini tanpa (memberikan) sesuatu."
Kemudian beliau mengingatkan betapa besar semangat para salaf dalam menuntut ilmu. Dahulu, seorang lelaki rela melakukan perjalanan jauh ke Madinah hanya untuk mendapatkan satu hadits — bahkan hadits yang lebih kecil dari ini. Ini menunjukkan bahwa ilmu hadits adalah harta yang sangat berharga, dan para salaf tidak pernah menganggap remeh perjalanan untuk menuntut ilmu.
Hikmah: Semangat menuntut ilmu agama adalah warisan para salaf. Mereka rela bersusah payah demi mendapatkan satu hadits. Maka hendaknya kita juga bersemangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu yang berkaitan dengan iman dan tauhid.
Kesimpulan Praktis
- Bagi Ahli Kitab yang beriman: Hendaknya mereka beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ karena risalah beliau adalah risalah terakhir yang menghapus semua agama sebelumnya. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali Imran [3]: 85: "Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi."
- Bagi hamba sahaya: Hendaknya menunaikan hak Allah dan hak tuannya dengan baik, karena itu akan mendapatkan pahala dua kali lipat.
- Bagi tuan yang memiliki budak: Hendaknya memperlakukan budak dengan baik, mendidiknya, dan jika memerdekakan lalu menikahinya, itu adalah amal yang sangat utama.
- Semangat menuntut ilmu: Hendaknya kita meneladani para salaf dalam semangat menuntut ilmu agama, tidak malas dan tidak menganggap remeh perjalanan untuk menuntut ilmu.
- Mengambil ilmu dari sumber yang benar: Hendaknya kita mengambil ilmu dari ulama yang terpercaya dan mengikuti pemahaman salafus shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.