Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa setiap nabi diberi mukjizat yang sesuai dengan zamannya, dan manusia beriman kepadanya karena mukjizat itu. Namun mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang terbesar dan abadi adalah Al-Qur'an, yaitu wahyu dari Allah. Karena itulah beliau ﷺ berharap menjadi nabi dengan pengikut paling banyak pada hari kiamat, sebab wahyunya kekal hingga akhir zaman dan bisa diakses semua manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Anbiya' [21]: 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Terjemahan: "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
QS. Al-Ma'idah [5]: 48 (potongan yang relevan)
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
Terjemahan: "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi pengawas (penjaga) atas kitab-kitab itu."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Qutaibah bin Sa'id dari al-Laits dari Sa'id bin Abi Sa'id dari ayahnya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah setiap nabi memiliki mukjizat yang membuat kaumnya beriman, sedangkan mukjizat Nabi ﷺ yang paling agung adalah Al-Qur'an yang kekal sepanjang masa.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menegaskan bahwa mukjizat para nabi sebelumnya bersifat indrawi dan berakhir bersama zamannya, sedangkan Al-Qur'an adalah mukjizat maknawi yang abadi.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ bersifat umum untuk seluruh manusia dan jin, tidak terbatas pada satu kaum.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa setiap nabi yang diutus Allah diberi mukjizat (ayat/ tanda-tanda kenabian). Mukjizat itu menjadi sebab kaumnya beriman. Misalnya, Nabi Musa عليه السلام diberi mukjizat membelah laut dan tongkat yang berubah menjadi ular, Nabi Isa عليه السلام menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah, Nabi Shalih عليه السلام dengan unta betina yang keluar dari batu.
Namun mukjizat-mukjizat itu bersifat indrawi, hanya bisa disaksikan oleh orang yang hadir pada zaman itu, dan berakhir setelah nabi tersebut wafat. Sedangkan Nabi Muhammad ﷺ mukjizat utamanya adalah wahyu, yaitu Al-Qur'an. Al-Qur'an bukan hanya mukjizat pada zaman beliau, tetapi tetap ada, bisa dibaca, dihafal, dan ditadabburi hingga hari kiamat.
Pemahaman para ulama:
Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim bahwa makna "yang aku terima adalah wahyu" adalah Al-Qur'an. Keistimewaannya: ia kekal, tidak bisa ditandingi, dan bisa diakses oleh siapa saja di setiap zaman. Karena itulah jumlah pengikut Nabi Muhammad ﷺ akan paling banyak pada hari kiamat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mukjizat Nabi ﷺ tidak hanya Al-Qur'an, tetapi juga peristiwa-peristiwa lain seperti Isra' Mi'raj, terbelahnya bulan, dan lain-lain. Namun yang menjadi mukjizat utama dan abadi adalah Al-Qur'an.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menegaskan bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ adalah risalah penutup yang menghapus (naskh) syariat-syariat sebelumnya dan berlaku untuk seluruh manusia hingga hari kiamat. Inilah yang dimaksud judul bab Imam Muslim: "Kewajiban beriman kepada risalah Nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh manusia dan naskh (penghapusan) agama dengan agamanya."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang paling agung karena:
- Keindahan bahasanya yang tidak bisa ditandingi.
- Kandungannya yang mencakup berita masa lalu dan masa depan.
- Hukum-hukumnya yang sempurna dan adil.
- Ia terjaga dari perubahan dan pemalsuan.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama membahas apakah mukjizat Nabi ﷺ hanya Al-Qur'an atau ada mukjizat lain. Pendapat yang kuat (rajih) adalah bahwa Nabi ﷺ memiliki banyak mukjizat, tetapi mukjizat yang paling utama dan abadi adalah Al-Qur'an. Ini yang ditegaskan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian orang Quraisy pernah menantang Nabi ﷺ untuk mendatangkan mukjizat seperti nabi-nabi terdahulu. Mereka berkata, "Jika engkau benar-benar nabi, tunjukkan kepada kami mukjizat seperti Musa yang membelah laut atau Isa yang menghidupkan orang mati."
Nabi ﷺ tidak menuruti tantangan mereka, karena mukjizat bukanlah permainan yang bisa dipesan sesuka hati. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut [29]: 50-51, yang maknanya: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya? Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada Allah. Dan aku hanyalah pemberi peringatan yang nyata.' Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka?"
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Al-Qur'an sendiri sudah cukup sebagai mukjizat yang agung. Siapa pun yang merenunginya dengan hati yang jernih akan tahu bahwa ia bukan buatan manusia.
Hikmahnya: Al-Qur'an adalah mukjizat yang bisa "disentuh" oleh siapa saja, kapan saja, tanpa perlu menyaksikan kejadian luar biasa. Cukup dengan membuka mushaf, membaca, dan merenungi maknanya.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar Nabi ﷺ yang kekal hingga hari kiamat, dan menjadi bukti kebenaran risalah beliau.
- Perbanyak membaca, menghafal, dan mentadabburi Al-Qur'an — karena inilah mukjizat yang bisa kita akses langsung setiap hari.
- Sadari bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ berlaku untuk seluruh manusia hingga akhir zaman, bukan hanya untuk bangsa Arab.
- Berusahalah menjadi pengikut Nabi ﷺ yang setia, karena beliau berharap memiliki pengikut terbanyak pada hari kiamat — dan kita bisa menjadi bagian dari harapan itu.
- Jangan menuntut mukjizat indrawi seperti umat-umat terdahulu, karena Al-Qur'an sudah cukup sebagai bukti yang terang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.