Penjelasan Hadits Muslim No. 150 tentang Perbedaan iman dan Islam dalam pemberian harta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa keimanan itu bertingkat-tingkat, dan tidak semua orang yang beriman memiliki iman yang sama kuatnya. Nabi ﷺ menegur Sa'd bin Abi Waqqash dengan lembut karena menyebut seseorang "mukmin" secara mutlak, padahal bisa jadi ia hanya "muslim" (baru masuk Islam atau imannya lemah). Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa pemberian beliau kepada sebagian orang yang lemah imannya adalah untuk menguatkan hati mereka agar tidak jatuh ke dalam neraka, bukan karena mereka lebih dicintai.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Ketakutan Terhadap Iman (no. 150), dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Ibnu Abi Umar → Sufyan (bin 'Uyainah) → Az-Zuhri → 'Amir bin Sa'd → ayahnya (Sa'd bin Abi Waqqash).

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perbedaan derajat iman dan Islam:

QS. Al-Hujurat [49]: 14

وَقَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Orang-orang Arab Badui berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka): 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah berislam (tunduk), karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

Ayat ini menjadi dasar bahwa Islam dan Iman bisa berbeda — seseorang bisa disebut "muslim" secara lahir, namun imannya belum meresap ke dalam hati. Inilah yang dipahami oleh Az-Zuhri (perawi hadits ini) dan dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari serta Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Mukmin" dan "Muslim" menurut para ulama

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dalam hadits ini Nabi ﷺ mengoreksi ucapan Sa'd. Sa'd menyebut si Fulan "mukmin" secara mutlak, lalu Nabi ﷺ bersabda "أَوْ مُسْلِمٌ" ("atau muslim?"). Ini menunjukkan bahwa iman lebih tinggi derajatnya daripada Islam secara mutlak, sebagaimana dipahami dari QS. Al-Hujurat: 14.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat: apakah Islam dan Iman itu sama (satu hakikat) atau berbeda? Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan Ahlus Sunnah — termasuk yang dijelaskan oleh Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin — menyatakan bahwa:

  • Jika disebutkan secara terpisah, Islam dan Iman memiliki makna yang sama.
  • Jika disebutkan bersamaan, maka Islam bermakna amal lahiriah (syahadat, shalat, zakat, dll.) dan Iman bermakna keyakinan batin (iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, qadar).

2. Mengapa Nabi ﷺ menegur Sa'd?

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa teguran Nabi ﷺ bukan karena Sa'd salah menilai, tetapi karena:

  • Nabi ﷺ mengetahui keadaan batin orang tersebut lebih dari Sa'd.
  • Nabi ﷺ ingin mengajarkan adab dalam berbicara tentang keimanan seseorang — jangan memastikan seseorang mukmin secara mutlak, karena iman adalah perkara batin yang hanya Allah yang mengetahui hakikatnya.
  • Ini juga bentuk tarbiyah (pendidikan) Nabi ﷺ kepada para sahabat agar tidak mudah menetapkan status iman kepada orang lain.

3. Makna "Aku memberi kepada seseorang padahal yang lain lebih aku cintai"

Ini adalah bagian paling mendalam dari hadits. Nabi ﷺ menjelaskan hikmah di balik pemberian harta kepada sebagian orang yang imannya lemah. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya aku memberi kepada seorang lelaki, padahal yang lain lebih aku cintai darinya, karena khawatir Allah akan menjatuhkannya ke dalam neraka."

Imam an-Nawawi menjelaskan: Nabi ﷺ memberikan harta dunia kepada orang yang imananya masih lemah agar hatinya teguh dan tidak murtad atau jatuh ke dalam kemaksiatan yang mengantarkan ke neraka. Sementara orang-orang yang imannya kuat, mereka tidak membutuhkan "suapan" duniawi karena iman mereka sudah kokoh.

Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan prinsip ini: "Iman itu bisa bertambah dan berkurang" (الإيمان يزيد وينقص). Karena itu, seorang muslim yang lemah imannya perlu dikuatkan — kadang dengan ilmu, kadang dengan harta, kadang dengan perhatian — agar tidak terjerumus.

4. Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar

  • Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar memandang hadits ini sebagai dalil bahwa iman dan Islam berbeda ketika disebut bersamaan.
  • Ibnu Taymiyyah dan Ibnul Qayyim menekankan bahwa perbedaan ini adalah perbedaan derajat, bukan perbedaan hakikat yang saling bertentangan. Seorang mukmin pasti muslim, tetapi tidak setiap muslim mencapai derajat mukmin yang sempurna.
  • As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman saat menafsirkan QS. Al-Hujurat: 14 menegaskan bahwa iman adalah Islam yang disertai keyakinan hati, sedangkan Islam lahiriah bisa ada tanpa iman yang sempurna.

Kesimpulan ilmiah: Yang paling kuat adalah pendapat jumhur — iman dan Islam berbeda derajat, dan seorang muslim wajib berusaha meningkatkan imannya dari sekadar "muslim" menjadi "mukmin" yang sejati.

Story Telling

Dikisahkan oleh Az-Zuhri (seorang tabi'in besar yang menjadi perawi hadits ini) bahwa Sa'd bin Abi Waqqash — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga — suatu hari melihat Rasulullah ﷺ membagikan harta kepada beberapa orang. Sa'd memperhatikan seorang lelaki yang menurut pandangannya layak mendapat bagian, lalu berkata dengan penuh keyakinan: "Wahai Rasulullah, berikanlah kepada si Fulan, karena sesungguhnya dia seorang mukmin."

Namun Nabi ﷺ — yang mengetahui isi hati manusia — hanya tersenyum dan bersabda dengan lembut: "Atau muslim?"

Sa'd mengulangi ucapannya tiga kali, dan setiap kali Nabi ﷺ dengan sabar mengulangi: "Atau muslim?"

Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan hikmahnya: "Aku memberi kepada seseorang, padahal ada orang lain yang lebih aku cintai darinya, karena aku khawatir Allah akan menjatuhkannya ke dalam neraka."

Hikmah: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa cinta beliau tidak diukur dari pemberian dunia. Kadang orang yang paling dicintai justru tidak diberi banyak harta, karena imannya sudah kuat. Sebaliknya, orang yang lemah imannya diberi harta agar tidak tersungkur. Ini adalah pelajaran tentang hikmah dalam berdakwah dan membina umat — setiap orang diperlakukan sesuai keadaannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mudah memastikan status iman seseorang — iman adalah perkara batin yang hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Sebutlah seseorang "muslim" jika kita tidak mengetahui keadaan hatinya.
  2. Iman itu bertingkat — seorang muslim harus terus berusaha meningkatkan imannya dengan ilmu, amal, dan mujahadah (kesungguhan).
  3. Harta bisa menjadi sarana penguat iman — bagi sebagian orang, pemberian duniawi bisa menjadi sebab teguhnya iman. Ini bukan berarti kita materialistis, tetapi memahami hikmah syariat.
  4. Cinta sejati bukan diukur dari pemberian — kadang orang yang kita cintai tidak kita beri banyak, karena kita tahu ia kuat. Sebaliknya, yang lemah kita bantu lebih banyak.
  5. Tegurlah dengan lembut — Nabi ﷺ tidak menghardik Sa'd, tetapi mengoreksi dengan sabar dan penuh hikmah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?