Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1464 tentang Kebolehan suami menggilir istri sesuai keinginannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan perasaan manusiawi Aisyah radhiyallahu 'anha, yaitu rasa cemburu, ketika turun ayat yang memberikan kelonggaran khusus kepada Nabi ﷺ dalam mengatur giliran istri-istrinya. Rasa cemburu ini adalah hal yang wajar dan tidak mengurangi kedudukan Aisyah. Hadits ini juga menunjukkan betapa Allah ﷻ dengan cepat "memihak" kepada keinginan Nabi-Nya ﷺ, serta mengajarkan adab seorang istri dalam menyampaikan perasaannya kepada suami dengan cara yang santun.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Radha' (Menyusui), Bab Jawaz Hibah Nafsihi li an-Nabi ﷺ wa Bayanihi anna al-Qadhiyyah Khasah bih (Kebolehan Wanita Menghibahkan Dirinya kepada Nabi ﷺ dan Penjelasan bahwa Hukum Ini Khusus Baginya), nomor hadits 1464.

Ayat Al-Qur'an yang Disebut dalam Hadits:

Ayat yang dimaksud adalah firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Ahzab [33]: 51.

Teks Arab (potongan ayat yang relevan):

تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ ۖ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ

Terjemahan: "Engkau (Muhammad) boleh menangguhkan (mengundurkan giliran) siapa yang engkau kehendaki di antara mereka (istri-istrimu), dan engkau boleh mendekatkan (menggilir) siapa yang engkau kehendaki. Dan jika engkau ingin mendekati istri yang telah engkau jauhkan, maka tidak ada dosa bagimu."

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai kelonggaran khusus bagi Nabi ﷺ untuk tidak wajib membagi giliran secara adil di antara istri-istrinya, dan beliau boleh menggilir atau menunda sesuai kehendaknya. Ini adalah kekhususan bagi beliau ﷺ, bukan untuk umatnya. Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari juga membahasnya dalam konteks sirah dan keistimewaan Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

  1. Kebolehan Rasa Cemburu: Rasa cemburu Aisyah adalah fitrah seorang wanita. Ini menunjukkan bahwa rasa cemburu dalam batas wajar tidaklah tercela. Bahkan, para ulama menyebutkan bahwa kecemburuan Aisyah ini adalah sebab turunnya wahyu yang menegaskan kesucian beliau dari tuduhan fitnah (haditsul-ifki). Namun, kecemburuan itu harus dikelola dengan adab dan tidak melampaui batas.
  2. Kekhususan bagi Nabi ﷺ: Ayat ini memberikan pilihan kepada Nabi ﷺ untuk mengatur giliran istri-istrinya. Imam An-Nawawi menjelaskan, "Para ulama berkata: Ayat ini adalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, karena Allah ﷻ telah memberikan pilihan kepada beliau untuk menunda atau menggilir istri-istrinya tanpa kewajiban membagi rata. Adapun umatnya, maka wajib berlaku adil di antara istri-istri mereka."
  3. Adab Aisyah dalam Menyampaikan Perasaan: Ucapan Aisyah, "Sepertinya Tuhanmu bersegera untuk memenuhi keinginanmu" bukanlah bentuk protes atau penolakan terhadap wahyu. Ini adalah ungkapan kekaguman dan pengakuan atas kedudukan Nabi ﷺ di sisi Allah ﷻ. Aisyah menyadari betapa Allah ﷻ sangat memuliakan dan memudahkan urusan Nabi-Nya. Ini adalah adab yang tinggi, di mana perasaan cemburu disampaikan dengan bahasa yang tetap menghormati dan mengagungkan wahyu.
  4. Kedudukan Aisyah: Hadits ini juga menunjukkan kedudukan Aisyah yang sangat istimewa. Beliau adalah istri yang paling dicintai Nabi ﷺ, dan Allah ﷻ menurunkan wahyu yang sesuai dengan perasaan cemburunya. Ini sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahwa wahyu seringkali turun membenarkan atau mendukung apa yang dirasakan oleh Aisyah.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil hikmah dari kisah Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki perasaan yang halus. Ketika beliau merasa cemburu, beliau tidak menyimpan perasaan itu hingga menjadi dendam, tetapi beliau menyampaikannya kepada Nabi ﷺ dengan terus terang, namun tetap dalam koridor adab dan penghormatan.

Bayangkan, saat wahyu turun memberikan kelonggaran kepada Nabi ﷺ, Aisyah tidak lantas marah atau merasa tersisihkan. Justru beliau mengakui dengan jujur, "Wahai Rasulullah, sepertinya Tuhanmu benar-benar bersegera memenuhi keinginanmu." Ini adalah pengakuan yang tulus dari seorang istri yang shalihah, bahwa suaminya adalah kekasih Allah yang sangat dimuliakan. Sikap ini menunjukkan bahwa kecemburuan tidak boleh menghalangi seorang istri untuk tunduk dan ridha terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Rasa cemburu adalah fitrah, namun harus disalurkan dengan cara yang baik dan tidak merusak hubungan.
  2. Ayat ini adalah kekhususan bagi Nabi ﷺ, dan tidak berlaku bagi umatnya. Seorang suami tetap wajib berlaku adil kepada istri-istrinya.
  3. Teladanilah adab Aisyah dalam menyampaikan perasaan, yaitu dengan jujur, santun, dan tetap menghormati otoritas syariat.
  4. Yakinilah bahwa Allah ﷻ selalu memuliakan hamba-hamba-Nya yang shalih, sebagaimana Dia memuliakan Nabi-Nya ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.