Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa Islam pertama kali muncul dalam keadaan asing (sedikit pengikut dan dianggap asing oleh masyarakat), dan di akhir zaman akan kembali dalam keadaan asing seperti semula. Namun, meskipun asing, Islam akan “menyusut” dan berkumpul di sekitar dua masjid suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi), bagaikan ular yang masuk ke dalam lubangnya untuk berlindung. Ini mengajarkan kita untuk tetap teguh berpegang pada Islam meski kita merasa asing di tengah kebanyakan manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab dengan harakat lengkap:
<blockquote dir="rtl">
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، وَالْفَضْلُ بْنُ سَهْلٍ الْأَعْرَجُ، قَالَا: حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، حَدَّثَنَا عَاصِمٌ – وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الْعُمَرِيُّ – عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
«إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، وَهُوَ يَأْرِزُ بَيْنَ الْمَسْجِدَيْنِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا.»
</blockquote>
Terjemahan:
“Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia dimulai. Dan ia akan berkumpul (menyusut) di antara dua masjid sebagaimana ular masuk ke dalam lubangnya.”
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/45) menjelaskan bahwa makna “gharib” (asing) adalah sedikitnya jumlah pemeluk Islam pada awal kemunculannya, dan mereka dianggap asing oleh kaum musyrikin. Pada akhir zaman nanti, keadaan itu akan terulang: orang-orang beriman menjadi sedikit dan diasingkan oleh kebanyakan manusia.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (13/291) menambahkan bahwa “yā’rizu” artinya berkumpul dan kembali ke asalnya. “Baina al-masjidayni” adalah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, yang menjadi tempat berlindungnya orang-orang beriman ketika fitnah merajalela.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (2/107) menafsirkan “seperti ular masuk ke lubangnya” sebagai simbol ketakutan dan perlindungan. Orang-orang mukmin di akhir zaman akan bersembunyi di dua tanah suci karena keamanan iman mereka terancam dari luar.
Penjelasan Rinci
Makna “asing” (gharīb) dalam hadits
Para ulama salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, Mujahid, dan Qatadah, memaknai gharīb dalam konteks ini dengan dua sisi: (1) dari segi jumlah – sedikit yang memeluk Islam; (2) dari segi perasaan – mereka merasa asing di tengah masyarakat yang tidak sepaham, bahkan kadang dimusuhi. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa sifat asing ini akan terus ada hingga hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: “Islam mulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (Shahih Muslim, no. 145)
Makna “yā’rizu baina al-masjidayni”
Kata yā’rizu berasal dari āraza yang berarti menghimpun diri, menyusut, atau kembali ke asal. Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab menjelaskan bahwa maksudnya adalah pada akhir zaman, Islam akan terkonsentrasi di sekitar dua masjid suci: Makkah dan Madinah. Orang-orang yang masih berpegang teguh pada kebenaran akan berlindung di sana, karena fitnah dan kesesatan merajalela di tempat lain.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama
Ada yang menafsirkan “dua masjid” sebagai Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, ada pula yang menafsirkan sebagai kota Makkah dan Madinah. Namun Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim cenderung kepada makna luas: wilayah Haramain menjadi benteng terakhir bagi kaum mukminin. Pendapat ini didukung oleh banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Dajjal tidak bisa memasuki Makkah dan Madinah.
Hikmah dari perumpamaan ular
Ular masuk ke lubangnya untuk melindungi diri dari ancaman. Demikian pula Islam di akhir zaman – ia akan “bersembunyi” di tempat yang aman (dua masjid) karena tekanan musuh dan sedikitnya pembela. Ini mengajarkan kita bahwa keadaan asing bukanlah aib, melainkan ujian dan kemuliaan bagi yang sabar.
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam az-Zuhd bahwa Abdullah bin al-Mubarak (w. 181 H) – salah satu ulama besar dari generasi tabi’ut tabi’in – pernah ditanya tentang hadits ini. Beliau menjawab: “Orang-orang asing itu adalah mereka yang berpegang teguh pada sunnah di saat manusia meninggalkannya.” Kemudian beliau menangis dan berkata, “Betapa beruntungnya mereka! Dunia ini sangat asing bagi mereka, namun akhirat adalah tempat tinggal mereka."
Cerita ini menunjukkan bahwa sejak dulu para ulama telah memahami betul beratnya menjadi asing dalam menjalankan agama, namun mereka tetap istiqamah dan bersabar. Semangat inilah yang harus kita teladani ketika kita merasa sendirian dalam kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Istiqamah meski asing – Jangan pernah meninggalkan ajaran Islam hanya karena merasa sendirian. Hadits ini justru memotivasi kita untuk bangga menjadi “orang asing” yang berpegang pada sunnah.
- Mencintai dua tanah suci – Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah benteng iman. Usahakan untuk sering beribadah di sana jika mampu, atau minimal hati kita selalu terikat dengan keduanya.
- Bersabar menghadapi celaan – Orang beriman sering diolok-olok karena keteguhannya. Ingatlah bahwa Nabi ﷺ juga dianggap asing oleh kaumnya, namun beliau tetap sabar.
- Berpegang pada jamaah dan ulama – Meski jumlah sedikit, carilah teman-teman yang saleh dan para ulama pewaris nabi agar iman kita tetap kuat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.