Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang dan tidak ekstrem. Nabi ﷺ menegaskan bahwa beliau sendiri menikah, makan daging, tidur, dan beribadah secara seimbang. Siapa yang meninggalkan sunnah beliau dengan sikap berlebihan dalam ibadah hingga meninggalkan hal-hal yang mubah, maka ia tidak termasuk golongan beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 31
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
Hadits:
Hadits riwayat Shahih Muslim no. 1401, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan dalam ibadah hingga meninggalkan sunnah Nabi ﷺ. Beliau berkata: "Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikah dan larangan membujang (tidak menikah) secara mutlak, serta larangan berlebihan dalam ibadah hingga meninggalkan perkara yang mubah."
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa menikah adalah sunnah yang dianjurkan dan tidak boleh ditinggalkan dengan alasan zuhud yang keliru.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menceritakan sekelompok sahabat yang bertanya kepada istri-istri Nabi ﷺ tentang ibadah beliau di waktu malam. Setelah mengetahui banyaknya ibadah beliau, mereka merasa ibadah mereka kurang dan berniat untuk berlebihan dalam ibadah. Sebagian berkata tidak akan menikah, sebagian tidak mau makan daging, dan sebagian lagi tidak mau tidur di ranjang.
Mendengar hal itu, Nabi ﷺ memuji Allah lalu bersabda: "Aku shalat dan juga tidur, aku berpuasa dan berbuka, aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang berpaling dari sunnahku, maka dia tidak ada hubungannya denganku."
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa makna "sunnah" dalam hadits ini adalah jalan hidup Nabi ﷺ yang penuh keseimbangan. Beliau tidak meninggalkan hal-hal yang mubah demi ibadah, karena tubuh memiliki hak, keluarga memiliki hak, dan Allah pun memiliki hak.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak bersikap ghuluw (berlebihan) dalam agama. Islam adalah agama yang mudah dan seimbang. Beribadah dengan meninggalkan hal-hal yang dihalalkan bukanlah tanda ketakwaan, tetapi justru menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang seseorang yang tidak mau menikah karena fokus ibadah. Beliau menjawab: "Orang itu telah menyelisihi sunnah. Menikah adalah sunnah para nabi."
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ada tiga orang sahabat yang datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk menanyakan ibadah beliau. Setelah mengetahuinya, mereka merasa ibadah mereka kurang. Maka berkatalah salah seorang: "Aku akan shalat malam terus dan tidak akan tidur." Yang lain berkata: "Aku akan berpuasa terus dan tidak berbuka." Yang ketiga berkata: "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah."
Maka datanglah Rasulullah ﷺ dan bersabda: "Kaliankah yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Tapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keseimbangan adalah inti ajaran Islam. Berlebihan dalam ibadah justru bisa menjauhkan seseorang dari sunnah Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berlebihan dalam ibadah hingga meninggalkan hal-hal yang dihalalkan Allah.
- Menikah adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi yang mampu, bukan penghalang ketakwaan.
- Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan kehidupan dunia.
- Jangan merasa lebih baik dari Nabi ﷺ dalam hal ibadah, karena beliau adalah teladan terbaik.
- Hindari sikap ghuluw (ekstrem) dalam beragama, karena itu bukan ajaran Islam.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.