Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu mukjizat dan keistimewaan Nabi Muhammad ﷺ serta kota Madinah. Ketika kembali dari Perang Tabuk dan melihat kota Madinah dari kejauhan, beliau menunjukkan Gunung Uhud dan bersabda bahwa gunung tersebut "mencintai kita dan kita mencintainya". Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin, di mana benda mati pun diberikan kemampuan untuk merasakan cinta. Hadits ini juga mengajarkan kita tentang keutamaan Madinah dan kecintaan seorang mukmin kepada tempat-tempat yang mulia karena Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab "Uhud adalah Gunung yang Mencintai Kita dan Kita Mencintainya" (no. 1392), dari sahabat Abu Humaid As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.
Terdapat juga riwayat lain yang semakna dalam Shahih al-Bukhari (no. 2889) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ"
Artinya: "Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya."
Adapun dalil dari Al-Qur'an tentang keutamaan Madinah dan bahwa Allah telah menetapkan keberkahan di sekitarnya, Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya' [21]: 71:
وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ
"Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam."
Para ulama menafsirkan bahwa negeri yang diberkahi tersebut adalah negeri Syam, dan Madinah juga termasuk negeri yang diberkahi karena menjadi tempat hijrah Nabi ﷺ dan pusat penyebaran Islam.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Mukjizat Nabi ﷺ dan Karamah Gunung Uhud
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa gunung Uhud diberikan pemahaman dan perasaan oleh Allah, sehingga ia mencintai Nabi ﷺ dan kaum mukminin. Ini adalah bentuk mukjizat yang nyata, sebagaimana batu-batu kecil bertasbih di tangan beliau, dan pohon kurma yang merindukan beliau ketika beliau berpindah ke mimbar.
2. Keutamaan Kota Madinah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Madinah dan gunung Uhud. Kecintaan gunung ini kepada Nabi ﷺ dan umatnya adalah bentuk penghormatan Allah kepada kota hijrah ini. Madinah adalah kota yang diberkahi, tempat Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Islam pertama.
3. Makna "Cinta" dalam Hadits Ini
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya tentang makna cinta gunung ini. Beliau menjelaskan bahwa ini adalah perkara gaib yang kita imani sebagaimana adanya, tanpa mempertanyakan caranya. Allah Maha Kuasa memberikan pemahaman dan perasaan kepada makhluk-Nya yang kita tidak ketahui hakikatnya. Kita tidak boleh menakwilkan cinta ini dengan makna kiasan semata, karena Nabi ﷺ mengabarkannya sebagai berita yang benar.
4. Pelajaran Adab dan Akhlak
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada Uhud dan Madinah adalah bentuk kecintaan seorang hamba kepada tempat-tempat yang Allah muliakan. Ini mengajarkan kita untuk mencintai tempat-tempat ibadah, kota-kota suci, dan segala sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya cintai.
5. Perbedaan dengan Kecintaan Manusia
Perlu dipahami bahwa cinta gunung Uhud kepada Nabi ﷺ bukanlah seperti cinta manusia yang disertai kehendak dan pilihan. Akan tetapi, Allah menciptakan pada gunung tersebut sifat tertentu yang merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan kepada Nabi ﷺ. Ini sebagaimana firman Allah tentang gunung-gunung yang bertasbih bersama Nabi Daud 'alaihissalam.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"هَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ"
"Ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya."
Kemudian beliau berdoa:
"اللَّهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي أُحَرِّمُ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا"
"Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Mekkah, dan sesungguhnya aku mengharamkan apa yang ada di antara dua tanah berbatu (Madinah)."
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika Perang Uhud terjadi, gunung Uhud bergetar karena banyaknya pasukan yang berlarian di atasnya. Maka Nabi ﷺ bersabda sambil menghentakkan kakinya:
"اثْبُتْ أُحُدُ، فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ"
"Tenanglah wahai Uhud, tidak ada di atasmu melainkan seorang Nabi, seorang shiddiq, atau dua orang syahid."
Di atas Uhud saat itu ada Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu 'anhum. Ini menunjukkan kemuliaan gunung Uhud yang menjadi saksi perjuangan kaum muslimin.
Kesimpulan Praktis
- Mengimani mukjizat Nabi ﷺ dan segala berita gaib yang beliau sampaikan, termasuk cinta gunung Uhud kepada beliau dan umatnya.
- Menghormati dan mencintai Madinah sebagai kota hijrah Nabi ﷺ, serta tidak merendahkan atau melecehkan tempat-tempat yang Allah muliakan.
- Meneladani kecintaan Nabi ﷺ kepada tempat-tempat yang mulia dengan cara berziarah, beribadah, dan menjaga kesuciannya.
- Tidak menakwilkan berita-berita gaib dengan akal semata, tetapi menerimanya dengan iman dan kepasrahan kepada Allah.
- Menjaga adab ketika berada di Madinah dan di dekat Gunung Uhud, karena tempat tersebut memiliki keutamaan yang agung di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.