Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 132 tentang Waswas dalam hati adalah tanda iman

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa bisikan was-was dalam hati tentang perkara yang buruk atau menentang keimanan bukanlah tanda lemahnya iman, melainkan justru bukti kuatnya iman seseorang. Karena seorang mukmin yang hatinya bersih akan merasa sangat berat dan terganggu dengan bisikan seperti itu, dan ia tidak akan pernah mengucapkannya. Ini adalah kabar gembira bagi setiap muslim yang mengalami gangguan pikiran seperti ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud adalah:

Hadits Riwayat Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab Bayan al-Waswasah fi al-Iman, no. 132

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

<p>حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ.</p>

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ datang kepada beliau dan berkata: 'Sesungguhnya kami merasakan dalam diri kami sesuatu yang sangat berat bagi salah seorang dari kami untuk mengucapkannya.' Beliau bersabda: 'Benarkah kalian merasakannya?' Mereka menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Itulah iman yang nyata (sharih al-iman).'"

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan makna ini adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-A'raf [7]: 201

<p>إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ</p>

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka digoda oleh setan dengan suatu godaan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)."

Ayat ini menunjukkan bahwa orang bertakwa tetap bisa terkena bisikan setan, namun mereka segera sadar dan kembali kepada Allah. Ini selaras dengan hadits di atas.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/153-154), memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang hadits ini.

Pertama: Makna "Sesuatu yang Sangat Berat"

Para sahabat mengeluhkan bisikan yang sangat berat, seperti keraguan tentang Allah, tentang keesaan-Nya, atau tentang keburukan yang sangat besar. Ini adalah bisikan yang sangat mereka benci dan tidak pernah terlintas di hati orang kafir. Imam an-Nawawi berkata, "Yang dimaksud adalah bisikan was-was dari setan tentang keagungan Allah, tentang kekuasaan-Nya, dan hal-hal yang membuat hati merasa berat, seperti ucapan 'Siapa yang menciptakan ini?' dan seterusnya."

Kedua: Makna "Sharih al-Iman" (Iman yang Nyata)

Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa bisikan itu adalah iman, melainkan bahwa perasaan berat dan penolakan terhadap bisikan itu adalah bukti iman yang nyata. Imam an-Nawawi menjelaskan, "Maknanya adalah bahwa perasaan berat yang kalian rasakan terhadap bisikan itu, dan penolakan kalian terhadapnya, serta kebencian kalian untuk mengucapkannya, itulah bukti iman yang sebenarnya. Karena setan hanya membisikkan hal seperti itu kepada orang yang sudah putus asa untuk menyesatkannya dengan maksiat biasa. Maka ia membisikkan hal yang lebih besar agar ia terjerumus ke dalamnya, atau agar ia bersedih karenanya."

Imam al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh an-Nawawi) berkata: "Sabda beliau 'Itulah iman yang nyata' maksudnya adalah bahwa kebencian kalian terhadap bisikan ini dan ketakutan kalian untuk mengucapkannya adalah tanda iman yang murni dan kuat."

Ketiga: Bukan Tanda Lemah Iman

Ini adalah kabar gembira besar. Banyak orang awam yang merasa was-was dan mengira imannya lemah. Padahal, justru sebaliknya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa (7/288) menjelaskan bahwa was-was seperti ini adalah ujian yang justru menguatkan iman. Beliau berkata, "Bisikan-bisikan seperti ini tidak membahayakan selama seseorang tidak mengucapkannya dengan lisannya atau meyakininya dalam hatinya. Bahkan, perasaan berat dan benci terhadapnya adalah bukti keimanan."

Keempat: Sikap yang Tepat

Para ulama, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan ats-Tsauri, mengajarkan bahwa ketika seseorang mengalami was-was, ia harus:

  1. Tidak peduli dan tidak melanjutkan pemikiran itu.
  2. Berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
  3. Menyibukkan diri dengan dzikir dan ibadah.
  4. Yakin bahwa ini adalah bisikan setan, bukan dari dirinya sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sendiri pernah mengalami hal serupa. Suatu ketika, ia berkata kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku merasakan sesuatu dalam hatiku yang aku tidak suka untuk mengatakannya." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan urusannya (was-was) hanya pada perasaan (tidak sampai terucap)." (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat yang paling mulia pun tidak luput dari bisikan ini. Namun, mereka tidak membiarkannya berkembang. Mereka segera melaporkan kepada Nabi ﷺ dan mendapatkan penjelasan yang menenangkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan cemas jika Anda mengalami bisikan was-was tentang Allah, agama, atau hal-hal buruk lainnya. Itu adalah tanda iman Anda masih hidup dan kuat.
  2. Jangan pernah mengucapkan bisikan tersebut dengan lisan Anda, karena itu yang berbahaya. Cukup abaikan dan jangan dipikirkan.
  3. Segera berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk dan bacalah ta'awudz (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ).
  4. Yakinlah bahwa perasaan benci dan berat terhadap bisikan itu adalah bukti keimanan Anda yang nyata, sebagaimana sabda Nabi ﷺ.
  5. Perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur'an, karena hati yang dipenuhi dengan cahaya iman akan sulit dimasuki oleh bisikan gelap setan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.