Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Qudsi yang sangat agung. Ia menunjukkan betapa luasnya rahmat dan karunia Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Intinya, jika seorang hamba berniat melakukan kejahatan tetapi tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah, maka tidak dicatat sebagai dosa, bahkan bisa dicatat sebagai kebaikan. Sebaliknya, jika berniat melakukan kebaikan, maka dicatat sebagai satu kebaikan, dan jika melaksanakannya, dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Idza Hamma al-'Abdu bi Sayyi'ah..." (Jika Seorang Hamba Berniat Berbuat Keburukan), no. 128, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab "Man Hamm bi Sayyi'ah..." no. 6491, dari sahabat Abu Hurairah juga.
Terdapat ayat Al-Qur'an yang senada dengan makna hadits ini, yaitu firman Allah ﷻ:
QS. Al-An'am [6]: 160
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar gembira bagi umat Islam. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan Allah yang melipatgandakan kebaikan, dan keadilan-Nya yang tidak melipatgandakan keburukan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan penuh berkah. Mari kita bedah maknanya:
1. Makna "Al-Hamm" (Niat/Berniat)
Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa kata "hamm" di sini berarti keinginan yang kuat dan bulat untuk melakukan suatu perbuatan. Ini bukan sekadar lintasan pikiran atau was-was yang lewat di hati tanpa disengaja. Lintasan pikiran yang tidak disengaja tidak dihisab, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hati mereka selama tidak diucapkan atau diamalkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2. Niat Melakukan Kejahatan (Sayyi'ah)
Jika seorang hamba bertekad untuk melakukan kejahatan, maka ada dua keadaan:
- Jika tidak jadi melakukannya karena takut kepada Allah ﷻ, maka tidak dicatat sebagai dosa. Bahkan, sebagian ulama seperti Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan, jika ia meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka ia dicatat sebagai satu kebaikan. Ini berdasarkan riwayat lain dalam Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Ia meninggalkannya karena Aku (Allah)."
- Jika ia benar-benar melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan saja, tidak dilipatgandakan. Ini adalah keadilan Allah yang sempurna.
3. Niat Melakukan Kebaikan (Hasanah)
Jika seorang hamba berniat melakukan kebaikan, maka ada dua keadaan:
- Jika tidak jadi melakukannya, maka tetap dicatat sebagai satu kebaikan penuh. Ini adalah karunia Allah yang luar biasa. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, ini menunjukkan bahwa niat yang tulus untuk berbuat baik sudah bernilai ibadah di sisi Allah, meskipun tidak sempat direalisasikan karena halangan yang dibenarkan.
- Jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih. Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 261 tentang perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, yang dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat.
4. Hikmah di Balik Hadits Ini
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak ingin menyulitkan hamba-Nya, tetapi justru membuka pintu kebaikan seluas-luasnya. Bahkan niat baik yang tidak terlaksana pun diberi pahala, sementara niat buruk yang tidak terlaksana diampuni. Ini semua adalah murni karunia dan keutamaan dari Allah, bukan karena hak hamba atas Allah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari juga menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa amalan hati (niat) dihisab oleh Allah, dan bahwa Allah membalas sesuai dengan keadilan-Nya untuk keburukan, dan sesuai dengan karunia-Nya untuk kebaikan.
Story Telling
Dahulu, ada seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Ia kemudian bertanya kepada seorang alim (ahli ibadah) apakah taubatnya masih diterima. Orang alim itu menjawab, "Tidak diterima." Maka laki-laki itu membunuhnya dan genaplah seratus orang yang ia bunuh.
Kemudian ia bertanya lagi kepada seorang ulama lain. Ulama itu menjawab, "Siapa yang menghalangimu untuk bertaubat? Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-Nya. Pergilah ke negeri ini, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah, maka beribadahlah bersama mereka. Dan janganlah engkau kembali ke negerimu karena itu adalah negeri yang buruk."
Maka berangkatlah laki-laki itu menuju negeri yang dituju. Namun di tengah perjalanan, ia meninggal dunia. Malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, "Ia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan hatinya." Malaikat azab berkata, "Ia belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun."
Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka jadikan ia sebagai penengah. Ia berkata, "Ukurlah jarak antara kedua negeri itu. Ke arah mana yang lebih dekat, maka itulah yang berhak atasnya." Mereka mengukurnya dan mendapati ia lebih dekat ke negeri yang ia tuju, maka malaikat rahmat pun mencabut nyawanya dan membawanya.
Dalam riwayat lain disebutkan, Allah memerintahkan negeri yang ia tinggalkan untuk menjauh, dan negeri yang ia tuju untuk mendekat, sehingga ia lebih dekat ke negeri kebaikan. (HR. Al-Bukhari no. 3470 dan Muslim no. 2766, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri)
Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Niat baik untuk bertaubat dan berubah, meskipun belum sempat direalisasikan secara sempurna, tetap dihargai oleh Allah dengan rahmat-Nya yang luas. Ini sejalan dengan hadits di atas bahwa niat baik yang tidak sempat terlaksana pun dicatat sebagai kebaikan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga niat baik. Niat yang tulus untuk berbuat kebaikan sudah bernilai pahala di sisi Allah, meskipun belum terlaksana.
- Jauhi niat buruk. Jika terlintas niat buruk, segera beristighfar dan berpaling darinya karena takut kepada Allah. Meninggalkannya karena Allah akan dicatat sebagai kebaikan.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Dosa sebesar apa pun masih bisa diampuni jika kita bertaubat dengan sungguh-sungguh.
- Perbanyak amal kebaikan. Karena satu kebaikan dilipatgandakan minimal sepuluh kali lipat, sedangkan keburukan dibalas setimpal saja.
- Jangan meremehkan niat baik sekecil apa pun. Karena Allah Maha Mengetahui isi hati dan membalas dengan karunia-Nya yang tak terduga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.