Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik dahulu juga bertalbiyah dengan kalimat tauhid, tetapi mereka mencampurnya dengan kesyirikan dengan menambahkan "kecuali satu sekutu yang Engkau miliki". Rasulullah ﷺ mengingkari tambahan itu dengan ucapan "celakalah kalian". Pelajarannya: ibadah harus murni tauhid, tidak boleh dicampur syirik, sekecil apa pun.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Haji, Bab Talbiyah dan Deskripsinya serta Waktunya (no. 1185), dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
<p>كَانَ الْمُشْرِكُونَ يَقُولُونَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ، فَيَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَيْلَكُمْ قَدْ قَدْ، فَيَقُولُونَ: إِلاَّ شَرِيكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ</p>
Terjemahan: "Orang-orang musyrik mengucapkan: Labbaika laa syariika lak (Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu). Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Celakalah kalian, cukup-cukup!' Lalu mereka berkata: 'Kecuali satu sekutu yang Engkau miliki, engkau menguasainya dan ia tidak menguasai-Mu.'"
Ayat yang menjadi dasar tauhid dalam talbiyah:
<p>وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ</p>
QS. Al-Hajj [22]: 27 — "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh."
Ayat tauhid yang menjadi inti talbiyah:
<p>وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ</p>
QS. Al-Bayyinah [98]: 5 — "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."
Penjelasan Rinci
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa talbiyah adalah syiar tauhid, karena itu Nabi ﷺ mengajarkan kalimat Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak. Kalimat ini menegaskan keesaan Allah secara mutlak.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Quraisy sebenarnya mengakui Allah sebagai Rabb, tetapi mereka menyisipkan sekutu dalam rububiyah dan uluhiyah. Ucapan mereka "kecuali satu sekutu yang Engkau miliki" adalah bentuk syirik yang nyata, karena mereka menjadikan sekutu itu sebagai perantara yang juga memiliki kekuasaan.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "وَيْلكُمْ قَدْ قَدْ" adalah bentuk teguran keras — maknanya "celakalah kalian, cukupkanlah, hentikanlah tambahan itu". Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat mengingkari pencampuran tauhid dengan syirik dalam ibadah talbiyah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitabnya menjelaskan bahwa inti dakwah seluruh nabi adalah tauhid, dan ibadah haji — termasuk talbiyah — adalah momen paling agung untuk memurnikan tauhid. Karena itu, mencampur talbiyah dengan syirik adalah pelanggaran besar terhadap tujuan haji itu sendiri.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa syirik bisa masuk ke dalam ibadah yang secara lahir tampak tauhid, jika niat dan kalimatnya dicampuri penyekutuan kepada Allah. Maka seorang hamba wajib menjaga kemurnian tauhid dalam setiap ibadah, terutama talbiyah.
Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan di antara ulama daftar tentang pengingkaran Nabi ﷺ terhadap tambahan syirik tersebut. Yang ada hanyalah penjelasan tentang bentuk-bentuk syirik yang dilakukan kaum musyrik, dan semuanya sepakat bahwa talbiyah harus murni tauhid.
Story Telling
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat yang dikenal sebagai tarjumanul Qur'an (juru tafsir Al-Qur'an) — menceritakan pemandangan yang ia saksikan sendiri di Masjidil Haram. Orang-orang musyrik Quraisy berthawaf mengelilingi Ka'bah sambil bertalbiyah. Lisan mereka mengucapkan kalimat indah: Labbaika laa syariika lak. Tetapi begitu sampai di tengah kalimat, mereka menyelipkan: illa syariikan huwa lak, tamlikuhu wa maa malak — "kecuali satu sekutu yang Engkau miliki, Engkau menguasainya dan ia tidak menguasai-Mu."
Rasulullah ﷺ yang mendengar itu langsung menegur dengan keras: "Celakalah kalian, cukup-cukup!" Teguran ini bukan sekadar ketidaksukaan, tetapi karena kalimat itu merusak inti tauhid. Mereka mengakui Allah, tetapi juga mengakui sekutu yang mereka anggap memiliki kekuasaan bersama Allah — inilah akar syirik yang diwarisi dari nenek moyang mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Az-Zumar [39]: 3:
<p>وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ</p>
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): 'Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'"
Hikmahnya: syirik sering dibungkus dengan kalimat yang tampak baik. Karena itu, Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama salaf menekankan pentingnya memurnikan tauhid dan menjauhi segala bentuk syirik, baik yang jelas maupun yang tersembunyi.
Kesimpulan Praktis
- Talbiyah harus murni tauhid — ucapkan Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik... tanpa tambahan apa pun yang mencampurkan syirik.
- Waspadai syirik dalam ibadah — jangan pernah menyisipkan keyakinan bahwa ada makhluk yang memiliki kekuasaan bersama Allah, baik dalam doa, niat, maupun ucapan.
- Teladani teguran Nabi ﷺ — beliau tidak diam terhadap kesyirikan, bahkan dalam kalimat yang tampak baik. Ini pelajaran untuk kita menjaga kemurnian aqidah.
- Pelajari tauhid sebelum beribadah — sebagaimana kata Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, "Ilmu sebelum berkata dan beramal."
- Jauhi ghuluw dan taklid buta — ikuti talbiyah sesuai sunnah Nabi ﷺ, bukan menurut tradisi yang menyimpang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.