Penjelasan Hadits Muslim No. 1184 tentang Lafaz talbiyah Nabi saat haji

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan lafaz talbiyah yang dibaca Nabi ﷺ saat haji/umrah, yaitu Labbaik Allahumma Labbaik... yang berisi pengakuan tauhid: tidak ada sekutu bagi Allah, segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanya milik-Nya. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menambahkan beberapa kalimat talbiyah, dan hal ini menunjukkan bahwa talbiyah memiliki lafaz pokok dari Nabi ﷺ serta tambahan yang dibolehkan dari sahabat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah haji dan talbiyah:

QS. Al-Hajj [22]: 27

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Terjemahan: "Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Haji, Bab Talbiyah dan Deskripsinya serta Waktunya (no. 1184), dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Nafi' dari Imam Malik.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil lafaz talbiyah yang utama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa talbiyah adalah syiar haji yang paling jelas.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad membahas talbiyah Nabi ﷺ dan tambahan dari Ibnu Umar.

Penjelasan Rinci

Makna talbiyah Nabi ﷺ:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.

Maknanya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang. Aku datang, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanya milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu."

Penjelasan para ulama:

  1. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa talbiyah mengandung tauhid yang murni. Kalimat "laa syariika lak" menegaskan keesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Ini adalah inti dakwah seluruh nabi.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa talbiyah adalah syiar yang paling agung dalam haji, dan membacanya adalah sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) sejak memulai ihram hingga melempar jumrah Aqabah.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terus bertalbiyah dengan suara keras, dan para sahabat juga mengeraskannya. Beliau juga menyebutkan bahwa talbiyah adalah bentuk pengagungan kepada Allah dan pengakuan akan kelemahan diri di hadapan-Nya.
  4. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa talbiyah adalah jawaban atas panggilan Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika Allah memerintahkan beliau menyeru manusia untuk haji.

Tambahan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma:

Ibnu Umar menambahkan:

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

Labbaik labbaik wa sa'daika wal khairu bi yadaika labbaik war raghbaa'u ilaika wal 'amal.

Maknanya: "Aku datang, aku datang, dan kebahagiaan bagi-Mu, segala kebaikan ada di tangan-Mu, aku datang, dan segala harapan serta amal hanya kepada-Mu."

Perbedaan pendapat ulama:

  • Imam Malik (dalam Al-Muwaththa') membolehkan tambahan dalam talbiyah selama tidak keluar dari makna tauhid dan pujian kepada Allah.
  • Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm berpendapat bahwa talbiyah yang paling utama adalah yang diajarkan Nabi ﷺ, namun tambahan seperti yang dilakukan Ibnu Umar tidak mengapa.
  • Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Mughni (diriwayatkan oleh Al-Khallal) menyatakan bahwa talbiyah Nabi ﷺ adalah yang utama, dan tambahan diperbolehkan karena ada dalil dari perbuatan sahabat.

Pendapat yang paling kuat: Talbiyah yang diajarkan Nabi ﷺ adalah yang paling afdhal, namun menambahkan kalimat seperti yang dilakukan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dibolehkan karena beliau adalah sahabat yang mulia dan tidak mungkin menambah dalam ibadah tanpa dasar. Ini juga menunjukkan luasnya makna talbiyah sebagai doa dan pujian kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Ketika beliau menunaikan haji, beliau tidak hanya membaca talbiyah yang diajarkan Nabi ﷺ, tetapi juga menambahkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah. Ini menunjukkan kecintaan beliau yang mendalam kepada Allah dan keinginan untuk memperbanyak dzikir dalam ibadah haji.

Imam Malik dalam Al-Muwaththa' meriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma pernah berkata: "Talbiyah Nabi ﷺ adalah yang paling utama, tetapi aku menambahkan kalimat-kalimat yang aku hafal dari Nabi ﷺ dan dari doa-doa yang baik." Ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengada-ada, tetapi mengikuti apa yang beliau ketahui dari Nabi ﷺ.

Hikmahnya: Seorang mukmin hendaknya mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan penuh kecintaan, dan jika menambahkan amalan yang dibolehkan, hendaknya berdasarkan ilmu dan dalil, bukan hawa nafsu.

Kesimpulan Praktis

  1. Talbiyah adalah syiar haji dan umrah yang dibaca sejak ihram hingga melempar jumrah Aqabah.
  2. Lafaz talbiyah Nabi ﷺ adalah yang paling utama dan mengandung tauhid yang murni.
  3. Tambahan dalam talbiyah seperti yang dilakukan Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dibolehkan selama tidak keluar dari makna pujian kepada Allah.
  4. Hendaknya seorang muslim membaca talbiyah dengan penuh kesadaran akan maknanya, bukan sekadar lisan tanpa hati.
  5. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ adalah jalan terbaik, dan menambahkan amalan yang dibolehkan harus berdasarkan ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?