Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah diperlihatkan malam Lailatul Qadar, lalu beliau dilupakan tentang penentuan waktunya. Sebagai tanda, beliau diberi isyarat bahwa beliau akan sujud di atas air dan tanah liat pada pagi malam itu. Tanda tersebut benar-benar terjadi pada malam ke-23 Ramadan, ketika hujan turun dan dahi serta hidung beliau ﷺ terkena air dan tanah. Hadits ini menjadi dalil kuat bahwa malam ke-23 termasuk malam yang sangat diharapkan sebagai Lailatul Qadar, dan bahwa Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Qadr [97]: 1
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Lailatul Qadar."
QS. Ad-Dukhan [44]: 3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah. Sungguh, Kami-lah yang memberi peringatan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, Bab Keutamaan Malam Lailatul Qadar dan Anjuran Mencarinya, dari sahabat Abdullah bin Unais رضي الله عنه.
Hadits lain yang semakna diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, dan ke-29, serta isyarat sujud di atas air dan tanah.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Lailatul Qadar dapat berpindah dari satu malam ke malam lain, dan bahwa tanda sujud di atas air dan tanah adalah kekhususan yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ sebagai penguat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang Lailatul Qadar menunjukkan malam itu berpindah-pindah, dan pendapat yang kuat adalah dianjurkan mencari pada seluruh sepuluh malam terakhir, terutama malam-malam ganjil.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan bahwa hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar adalah agar hamba bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya mengandalkan satu malam saja.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang agung, malam diturunkannya Al-Qur'an, dan malam yang penuh keberkahan serta pengampunan.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Nabi ﷺ diberi tahu tentang waktu Lailatul Qadar, lalu pengetahuan itu diangkat (dilupakan) dari beliau. Ini menunjukkan bahwa penentuan pasti Lailatul Qadar adalah urusan Allah yang sengaja disembunyikan. Namun Allah memberi tanda kepada beliau ﷺ: beliau akan sujud di atas air dan tanah liat pada pagi malam itu. Tanda ini kemudian terjadi pada malam ke-23 Ramadan, ketika hujan turun dan beliau ﷺ shalat bersama para sahabat, lalu dahi dan hidung beliau terkena air dan tanah.
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa Lailatul Qadar tidak selalu pada malam ke-27 saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Beliau menegaskan bahwa malam itu bisa berpindah-pindah, dan hadits Abdullah bin Unais ini menunjukkan terjadinya pada malam ke-23.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang malam yang paling diharapkan. Sebagian menguatkan malam ke-27 berdasarkan hadits Ubay bin Ka'b, sebagian menguatkan malam ke-23 berdasarkan hadits Abdullah bin Unais ini, dan sebagian lain menguatkan malam ke-21. Namun pendapat yang paling kuat menurut beliau adalah bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah, sehingga seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh di seluruh sepuluh malam terakhir.
- Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan hikmah disembunyikannya Lailatul Qadar: agar hamba tidak hanya beribadah pada satu malam saja, tetapi menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan shalat, doa, dzikir, dan istighfar. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar hamba mendapatkan pahala yang banyak.
- Ibn Katsir menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang sangat agung, malam diturunkannya Al-Qur'an, dan malam yang penuh keberkahan. Barangsiapa yang menghidupkannya dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
- Sebagian ulama menguatkan malam ke-27 sebagai malam yang paling diharapkan, berdasarkan hadits Ubay bin Ka'b dan isyarat-isyarat lain.
- Sebagian lain menguatkan malam ke-23, berdasarkan hadits Abdullah bin Unais ini.
- Pendapat yang paling kuat menurut Ibnu Hajar dan an-Nawawi adalah bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah, dan seorang muslim hendaknya mencari pada seluruh malam ganjil di sepuluh malam terakhir, tidak mengandalkan satu malam saja.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan, ketika Nabi ﷺ sedang beri'tikaf dan shalat bersama para sahabat, tiba-tiba hujan turun. Masjid Nabi ﷺ saat itu beratap pelepah kurma, sehingga air hujan merembes dan membasahi tanah di dalam masjid. Ketika Nabi ﷺ sujud, dahi dan hidung beliau ﷺ menyentuh tanah yang basah bercampur air. Para sahabat yang melihat hal itu teringat sabda beliau sebelumnya: "Aku melihat bahwa aku sujud di atas air dan tanah liat." Maka mereka pun menyadari bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar, yaitu malam ke-23 Ramadan.
Abdullah bin Unais رضي الله عنه, yang meriwayatkan hadits ini, selalu mengingat malam itu dan menyebutkan bahwa malam tersebut adalah malam ke-23. Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat perhatian terhadap Lailatul Qadar, dan betapa para sahabat sangat antusias mencari malam tersebut.
Hikmah: Allah menyembunyikan waktu pasti Lailatul Qadar agar hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam. Tanda yang diberikan kepada Nabi ﷺ adalah bentuk penguatan dan penghormatan, bukan untuk membatasi bahwa Lailatul Qadar hanya pada malam ke-23.
Kesimpulan Praktis
- Carilah Lailatul Qadar di seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29). Jangan hanya fokus pada satu malam saja.
- Hidupkan malam-malam tersebut dengan shalat malam, membaca Al-Qur'an, dzikir, doa, dan istighfar. Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, sebagaimana yang beliau ajarkan kepada Aisyah رضي الله عنها: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku). (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
- Jangan bersandar pada tanda-tanda fisik seperti sujud di atas air dan tanah, karena itu adalah kekhususan Nabi ﷺ. Fokuslah pada ibadah dan ketakwaan.
- Ikutilah pemahaman para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibn Rajab, dan Ibn Katsir, yang menegaskan bahwa Lailatul Qadar berpindah-pindah dan wajib dicari di seluruh sepuluh malam terakhir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.