Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1167 tentang Mencari Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir ganjil

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting tentang keutamaan Lailatul Qadar dan bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir Ramadan, tepatnya pada malam-malam ganjil. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ awalnya beri'tikaf di sepuluh malam pertengahan Ramadan, kemudian Allah mengalihkan beliau untuk beri'tikaf di sepuluh malam terakhir. Kisah sujud Nabi ﷺ di atas air dan lumpur pada malam ke-21 menjadi penegasan bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar pada tahun tersebut, sekaligus bukti kebenaran mimpi beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Puasa, Bab Keutamaan Malam Lailatul Qadar, no. 1167, dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)."

(QS. Al-Qadr [97]: 1)

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini dijelaskan oleh para ulama besar dalam daftar rujukan kita. Di antaranya:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Lailatul Qadar berpindah-pindah (tidak tetap pada malam tertentu setiap tahunnya), dan bahwa pada tahun itu jatuh pada malam ke-21.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas panjang lebar tentang penetapan malam Lailatul Qadar dan bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir pada malam-malam ganjil.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya i'tikaf di sepuluh malam terakhir dan anjuran mencari Lailatul Qadar di malam-malam ganjil.

Penjelasan Rinci

1. Makna I'tikaf Nabi ﷺ di Sepuluh Pertengahan, Lalu Berpindah ke Sepuluh Terakhir

Dalam hadits ini, Abu Sa'id al-Khudri menceritakan bahwa Nabi ﷺ biasa beri'tikaf pada sepuluh malam pertengahan Ramadan. Namun pada tahun tersebut, beliau berdiri di hadapan manusia dan bersabda:

> "Sesungguhnya aku biasa beri'tikaf pada sepuluh malam ini (pertengahan), kemudian ditampakkan kepadaku untuk beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir. Maka siapa yang beri'tikaf bersamaku, hendaklah ia bermalam di tempat i'tikafnya."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perpindahan ini menunjukkan bahwa i'tikaf di sepuluh malam terakhir lebih utama daripada di pertengahan, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar. Ini juga menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh dalam beribadah di akhir Ramadan, karena di situlah puncak keberkahan.

Syaikh al-Utsaimin menambahkan bahwa perpindahan ini adalah bimbingan Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak berpuas diri dengan ibadah di awal atau pertengahan Ramadan, tetapi justru meningkatkan ibadah di akhir-akhirnya.

2. Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir pada Malam Ganjil

Nabi ﷺ bersabda:

> "Dan sungguh aku telah diperlihatkan malam ini (Lailatul Qadar), kemudian aku dilupakan (akan malam pastinya). Maka carilah ia di sepuluh malam terakhir pada setiap malam yang ganjil."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini dan hadits-hadits lain menunjukkan bahwa Lailatul Qadar berada di sepuluh malam terakhir, dan paling kuatnya pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29). Namun beliau juga menegaskan bahwa malam pastinya bisa berbeda-beda dari tahun ke tahun, sebagaimana Nabi ﷺ dilupakan akan malam pastinya pada tahun itu.

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar: agar seorang muslim bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya di satu malam saja. Ini adalah rahmat dari Allah agar kita memperbanyak ibadah.

3. Kisah Sujud di Atas Air dan Lumpur

Nabi ﷺ bersabda:

> "Dan sungguh aku melihat diriku bersujud di atas air dan lumpur."

Abu Sa'id al-Khudri kemudian berkata: "Maka hujan turun pada malam ke-21, dan masjid bocor di tempat shalat Rasulullah ﷺ. Aku melihat beliau, ketika selesai shalat Subuh, wajahnya basah oleh lumpur dan air."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bukti nyata bahwa pada tahun itu, Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21. Ini juga menunjukkan bahwa mimpi para nabi adalah benar dan merupakan wahyu, karena apa yang beliau ﷺ lihat dalam mimpi benar-benar terjadi.

Syaikh al-Utsaimin menambahkan bahwa kisah ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bisa jatuh pada malam ke-21, dan bahwa kejadian alam (seperti hujan) tidak mengurangi keutamaan malam tersebut. Bahkan, ini menjadi tanda bagi orang-orang yang hadir saat itu bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadar.

4. Pelajaran tentang I'tikaf

Hadits ini juga menunjukkan disyariatkannya i'tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa i'tikaf adalah ibadah yang sangat dianjurkan di sepuluh malam terakhir Ramadan, karena Nabi ﷺ melakukannya secara rutin dan konsisten.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa i'tikaf yang paling utama adalah di sepuluh malam terakhir, dan seorang yang beri'tikaf hendaknya menyibukkan diri dengan shalat, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan doa, serta menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil kisah yang sangat hidup. Bayangkanlah malam itu di Madinah. Langit mendung, hujan turun deras. Masjid Nabawi yang atapnya masih sederhana—terbuat dari pelepah kurma—mulai bocor di beberapa tempat. Air menetes tepat di area tempat Rasulullah ﷺ shalat.

Para sahabat melihat pemandangan yang mengharukan: Rasulullah ﷺ yang mulia, yang telah dijanjikan surga, sujud dengan khusyuk di atas lumpur. Wajahnya yang bersih itu basah terkena air dan lumpur, namun beliau tetap tenang dan khusyuk dalam shalat Subuh. Setelah selesai, para sahabat menyadari bahwa inilah malam yang beliau kabarkan—malam ke-21, malam Lailatul Qadar.

Abu Sa'id al-Khudri yang meriwayatkan hadits ini adalah saksi mata peristiwa tersebut. Beliau melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Nabi ﷺ keluar dari shalat Subuh dengan wajah berlumur lumpur. Ini bukan dongeng, tetapi fakta sejarah yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits.

Hikmah dari kisah ini: betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap ibadah di malam-malam terakhir Ramadan. Beliau tidak merasa cukup dengan ibadah di pertengahan bulan, tetapi justru meningkatkan ibadah di akhir bulan. Dan ketika beliau bersujud di atas lumpur, itu bukanlah penghalang baginya untuk tetap khusyuk. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak menjadikan kondisi yang kurang nyaman sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak shalat, dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ.
  2. Carilah Lailatul Qadar di malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29), namun jangan tinggalkan malam-malam genap, karena malam pastinya bisa berbeda dari tahun ke tahun.
  3. Hidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, terutama shalat malam (qiyamul lail) dan doa. Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah radhiyallahu 'anha:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkanlah aku."

(HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

  1. Lakukan i'tikaf di sepuluh malam terakhir bagi yang mampu, karena itu adalah sunnah Nabi ﷺ yang rutin beliau lakukan.
  2. Jangan jadikan kondisi yang kurang nyaman sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah. Jika Nabi ﷺ tetap khusyuk sujud di atas lumpur, maka kita pun hendaknya tetap semangat beribadah dalam kondisi apa pun.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.