Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang puasa yang paling utama dan seimbang. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka. Namun, beliau juga memberikan kabar gembira bahwa puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15) ditambah puasa Ramadhan, pahalanya seperti berpuasa setahun penuh. Hadits ini juga menyebutkan keutamaan besar puasa Arafah dan Asyura sebagai penghapus dosa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih -nya, Kitab Puasa, Bab Disunnahkannya Puasa Tiga Hari Setiap Bulan dan Puasa Hari Arafah, Asyura, Senin, dan Kamis, nomor 1162, dari sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.
Dalil dari Al-Qur'an yang terkait dengan keutamaan puasa secara umum adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Baqarah [2]: 183
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang agung dan telah disyariatkan kepada umat-umat terdahulu, termasuk Nabi Daud 'alaihis salam.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab puasa sunnah. Mari kita pahami poin-poin pentingnya:
- Awal Kisah dan Adab Sahabat: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang cara beliau berpuasa. Pertanyaan ini membuat beliau marah, karena bisa jadi pertanyaan itu diajukan dengan cara yang kurang sopan atau karena beliau khawatir umatnya akan memberatkan diri sendiri. Di sinilah kita melihat adab luar biasa dari Sayyidina 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. Beliau tidak ikut bertanya, tetapi langsung menenangkan Rasulullah ﷺ dengan kalimat-kalimat yang menunjukkan keridhaan total kepada Allah, Islam, dan Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah pelajaran adab yang sangat agung: ketika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai, kembalikanlah urusan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sikap ridha dan pasrah.
- Larangan Puasa Dahr (Sepanjang Tahun): Ketika 'Umar bertanya tentang orang yang berpuasa sepanjang tahun, Nabi ﷺ menjawab, "لا صام ولا أفطر" (Dia tidak berpuasa dan tidak berbuka). Maknanya, puasanya tidak diterima dan tidak bernilai di sisi Allah, atau dia tidak mendapatkan pahala puasa yang semestinya. Para ulama menjelaskan bahwa puasa dahr (terus-menerus setiap hari) adalah perbuatan yang dibenci, karena menyelisihi sunnah dan memberatkan diri. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa puasa dahr yang dimaksud adalah yang terus-menerus tanpa berbuka sama sekali, termasuk di hari-hari yang dilarang berpuasa (seperti hari raya). Adapun jika seseorang berpuasa sepanjang tahun kecuali hari-hari yang dilarang, maka ada perbedaan pendapat; sebagian ulama membolehkannya, namun yang lebih utama adalah tidak melakukannya karena menyelisihi keutamaan puasa Nabi Daud.
- Tingkatan Puasa: Hadits ini dengan indahnya mengajarkan tingkatan puasa:
- Puasa Dua Hari, Buka Satu Hari: Ini adalah tingkatan yang sangat berat. Nabi ﷺ bersabda, "Apakah ada yang mampu melakukan itu?" Ini menunjukkan bahwa puasa ini di luar kemampuan kebanyakan orang dan tidak disunnahkan.
- Puasa Satu Hari, Buka Satu Hari (Puasa Daud): Inilah puasa yang paling utama. Nabi ﷺ bersabda, "Itu adalah puasa Daud 'alaihis salam." Beliau juga bersabda dalam hadits lain, "Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Daud. Beliau tidur setengah malam, bangun sepertiganya, dan tidur seperenamnya. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari." (HR. Bukhari dan Muslim). Puasa ini adalah puncak keseimbangan antara hak badan dan hak ibadah.
- Puasa Satu Hari, Buka Dua Hari: Ini adalah puasa yang ringan. Nabi ﷺ bersabda, "Aku berharap aku diberi kekuatan untuk melakukan itu." Ini menunjukkan bahwa puasa ini juga baik, tetapi bukan yang paling utama.
- Puasa Tiga Hari Setiap Bulan: Kemudian Nabi ﷺ memberikan kabar gembira yang sangat besar. Beliau bersabda, "Tiga hari dari setiap bulan dan Ramadhan ke Ramadhan, maka itu adalah puasa sepanjang tahun." Ini adalah kabar gembira bagi yang tidak mampu berpuasa Daud. Puasa tiga hari setiap bulan (terutama tanggal 13, 14, dan 15 Hijriyah) pahalanya seperti puasa setahun penuh, karena satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Jika ditambah dengan puasa Ramadhan, maka pahalanya menjadi sempurna seperti puasa setahun penuh.
- Keutamaan Puasa Arafah dan Asyura: Di akhir hadits, Nabi ﷺ menyebutkan dua puasa sunnah yang sangat agung:
- Puasa Arafah (9 Dzulhijjah): Menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang. Ini adalah keutamaan yang sangat besar, tetapi khusus bagi yang tidak sedang berhaji. Bagi yang sedang berhaji (wuquf di Arafah), disunnahkan untuk tidak berpuasa agar kuat beribadah.
- Puasa Asyura (10 Muharram): Menghapus dosa tahun sebelumnya.
Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dosa yang dihapus dengan puasa Arafah dan Asyura adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, maka harus dengan taubat yang sungguh-sungguh. Ini adalah pemahaman yang penting agar kita tidak salah kaprah.
Story Telling
Kisah tentang puasa Nabi Daud 'alaihis salam adalah kisah yang sangat inspiratif. Beliau adalah seorang nabi dan raja yang sangat kuat, namun tetap menjaga keseimbangan ibadah. Beliau tidak pernah meninggalkan puasa sehari dan tidak pernah berpuasa sehari. Ini adalah bentuk syukur dan kecintaan beliau kepada Allah.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah sering menyebutkan bahwa puasa Daud adalah puasa yang paling utama karena ia adalah puasa yang paling seimbang. Ia tidak memberatkan badan sehingga ibadah lain terbengkalai, dan tidak pula terlalu longgar sehingga hawa nafsu tidak terkendali. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk selalu menjaga keseimbangan dalam beribadah, tidak berlebihan dan tidak pula meremehkan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Keseimbangan: Dalam beribadah, jangan berlebihan hingga memberatkan diri, dan jangan pula meremehkan hingga meninggalkannya. Ikutilah sunnah Nabi ﷺ yang penuh keseimbangan.
- Amalkan Puasa Sunnah: Jika mampu, berpuasalah seperti puasa Nabi Daud (sehari puasa, sehari tidak). Jika tidak mampu, maka berpuasalah tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, 15 Hijriyah) dan jangan lupakan puasa Ramadhan.
- Raih Keutamaan Arafah dan Asyura: Perbanyaklah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) dan 10 Muharram (Asyura) untuk meraih penghapusan dosa-dosa kecil.
- Belajar Adab dari Umar: Ketika terjadi perselisihan atau kemarahan, kembalikanlah urusan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sikap ridha dan tenang, bukan dengan emosi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.