Penjelasan Hadits Muslim No. 1151 tentang Larangan berkata kotor dan berbuat jahil saat berpuasa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dan perbuatan dari hal-hal kotor serta kebodohan. Jika seseorang dicela atau diajak bertengkar saat berpuasa, hendaknya ia menahan diri dan cukup mengatakan "aku sedang berpuasa" sebagai benteng dari kemarahan. Ini menunjukkan bahwa puasa mendidik akhlak, bukan sekadar ritual menahan lapar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Zuhair bin Harb dari Sufyan bin 'Uyainah, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A'raj. Imam Muslim menempatkannya dalam Kitab ash-Shiyam, bab tentang menjaga lisan bagi orang yang berpuasa.

Teks hadits:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

Terjemahan: "Jika salah seorang di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berbuat bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau memeranginya, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.'"

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar makna hadits ini:

QS. Al-Baqarah [2]: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan, dan ketakwaan mencakup menahan diri dari yang haram termasuk menjaga lisan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan puasa memiliki dimensi akhlak, bukan hanya menahan makan dan minum.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama, larangan "rafats" (perkataan kotor). Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "rafats" mencakup perkataan kotor, ucapan yang mengarah pada syahwat, dan segala ucapan yang tidak pantas. Beliau menegaskan bahwa larangan ini berlaku umum, namun lebih ditekankan bagi orang yang berpuasa karena puasa adalah ibadah yang menuntut kesucian jiwa.

Kedua, larangan "jahl" (berbuat bodoh). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa "jahl" di sini mencakup perbuatan sia-sia, bertengkar, dan segala tindakan yang tidak mencerminkan akhlak mulia. Beliau mengaitkan hal ini dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain bahwa "puasa adalah perisai" (HR. Bukhari dan Muslim), sehingga orang yang berpuasa harus menjaga perisai tersebut dengan akhlak yang baik.

Ketiga, ucapan "inni sha'im" (aku sedang berpuasa). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan dua pendapat ulama: sebagian memahami bahwa ucapan ini diucapkan dalam hati sebagai pengingat diri, dan sebagian lain memahami diucapkan dengan lisan sebagai pemberitahuan kepada orang yang mencela. Beliau menguatkan bahwa keduanya bisa digabungkan — hati mengingat dan lisan menyatakan — agar tidak terjerumus dalam pertengkaran.

Keempat, pengulangan "inni sha'im" dua kali. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa pengulangan ini menunjukkan penekanan dan penguatan niat, sekaligus sebagai cara meredam emosi. Ini adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) Nabi ﷺ agar umatnya mampu menahan diri.

Kelima, kaitan dengan hadits lain. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh pada puasanya dari makan dan minum." Hadits ini memperkuat bahwa puasa yang tidak disertai penjagaan lisan dan perbuatan adalah puasa yang kurang sempurna pahalanya.

Perbedaan pendapat ulama: Sebagian ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak memandang bahwa ucapan "inni sha'im" diucapkan dengan lisan. Sementara Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di'amah memandang bahwa itu adalah pengingat dalam hati. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah menggabungkan keduanya, sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab, karena hadits menyebutkan ucapan (qaala) yang menunjukkan lisan, namun tujuannya adalah menenangkan hati.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang mencela seseorang yang sedang berpuasa. Beliau menjawab dengan mengutip hadits ini dan berkata: "Orang yang berpuasa hendaknya menjadikan puasanya sebagai tameng, bukan sebagai alasan untuk membalas celaan." Beliau juga dikenal sangat menjaga lisannya, bahkan ketika seseorang mencacinya di pasar, beliau hanya tersenyum dan berlalu.

Dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata: "Puasa adalah tameng, selama ia tidak merobeknya dengan lisan atau tangannya." Beliau juga menasihati murid-muridnya: "Barangsiapa berpuasa namun lisannya masih kotor, maka ia hanya menahan lapar dan haus, tidak menahan dosa."

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan saat berpuasa — hindari perkataan kotor, dusta, ghibah, dan ucapan yang tidak bermanfaat.
  2. Jangan terpancing emosi — jika dicela atau diajak bertengkar, tahan diri dan jangan membalas.
  3. Ucapkan "inni sha'im" — baik dalam hati maupun lisan, sebagai pengingat dan benteng dari kemarahan.
  4. Pahami puasa sebagai pendidikan akhlak — bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala yang Allah larang.
  5. Perbanyak muhasabah — evaluasi diri setiap hari apakah lisan dan perbuatan kita sudah mencerminkan akhlak orang yang berpuasa.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?