Bab Penjelasan Nasakh Ayat-Nya Dan bagi orang-orang yang mampu berpuasa, maka wajib membayar fidyah
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا بَكْرٌ، - يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ - عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ بُكَيْرٍ، عَنْ يَزِيدَ، مَوْلَى سَلَمَةَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، - رضى الله عنه - قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} كَانَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُفْطِرَ وَيَفْتَدِيَ . حَتَّى نَزَلَتِ الآيَةُ الَّتِي بَعْدَهَا فَنَسَخَتْهَا .
Salama bin Akwa' (Allah be pleased with him) melaporkan bahwa ketika ayat ini diturunkan: "Dan bagi orang-orang yang mampu berpuasa (tetapi tidak) fidyahnya adalah memberi makan seorang miskin" (ii. 183), (dia yang ingin berpuasa melakukannya) dan dia yang merasa enggan untuk berpuasa makan dan membayar fidyah sampai ayat yang membatalkannya diturunkan.
☝️ Salin kutipan hadits diatasDonasi operasional website
Rp 10,000
Rp 30,000
Rp 50,000
Rp 100,000
Rp 1,000,000
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rizki yang terbaik.” (QS. Saba’/34: 39)
