Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1130 tentang Puasa Asyura sebagai syukur atas kemenangan Nabi Musa

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) adalah puasa yang disyariatkan. Awalnya, Rasulullah ﷺ mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut karena Allah memenangkan Nabi Musa 'alaihis salam atas Fir'aun. Beliau pun bersabda bahwa kaum muslimin lebih berhak dan lebih dekat kepada Nabi Musa, lalu memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Ini menunjukkan syariat kita mengakui dan mengagungkan hari kemenangan para nabi, serta menganjurkan puasa sebagai bentuk syukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Puasa, Bab Puasa Hari Asyura, nomor 1130, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Lafazh hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan riwayat tersebut.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Peristiwa kemenangan Nabi Musa atas Fir'aun disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 21 - "Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: 'Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk penasihatmu.'" (Ini adalah bagian dari kisah, namun ayat yang lebih spesifik tentang kemenangan Musa adalah QS. Asy-Syu'ara' [26]: 65-66)

Atau lebih tepatnya, firman Allah tentang selamatnya Musa dan tenggelamnya Fir'aun:

وَأَنْجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ

QS. Asy-Syu'ara' [26]: 65 - "Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya."

Penjelasan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya puasa Asyura. Beliau juga menukil bahwa hikmah puasa ini adalah untuk meneladani Nabi Musa dan bersyukur kepada Allah atas kemenangan tersebut. Adapun Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perintah puasa Asyura pada awalnya adalah wajib, kemudian setelah turun kewajiban puasa Ramadhan, hukumnya menjadi sunnah (mustahab).

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

  1. Kedekatan Kaum Muslimin dengan Para Nabi: Sabda Nabi ﷺ, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian" adalah bantahan halus kepada Yahudi. Ini menegaskan bahwa kaum muslimin adalah pengikut sejati seluruh nabi, termasuk Nabi Musa. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa iman kepada seluruh rasul adalah bagian dari akidah Islam, dan kita tidak membeda-bedakan mereka.
  2. Pensyariatan Puasa Asyura: Para ulama sepakat bahwa puasa Asyura hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan). Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat demikian. Adapun riwayat bahwa puasa ini awalnya wajib, disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam riwayat lain, kemudian di-naskh (dihapus hukum wajibnya) dengan turunnya perintah puasa Ramadhan.
  3. Bentuk Syukur kepada Allah: Puasa adalah bentuk syukur yang agung. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersyukur kepada Allah atas nikmat kemenangan yang diberikan kepada Nabi Musa. Ini mengajarkan kita agar memperingati hari-hari besar dengan ibadah, bukan dengan kemaksiatan atau perayaan yang melampaui batas.
  4. Perbedaan dengan Ahli Kitab: Dalam riwayat lain (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah), di akhir hayatnya Nabi ﷺ berkeinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi. Ini menunjukkan bahwa dalam ibadah yang bersifat ta'abbudi, kita diperintahkan untuk berbeda dari kebiasaan ahli kitab, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim.

Story Telling

Dahulu, di kota Madinah, ketika Rasulullah ﷺ baru tiba dari Makkah, beliau melihat pemandangan yang menarik perhatian. Beliau mendapati sekelompok orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, "Hari apa ini dan mengapa kalian berpuasa?"

Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Allah menenggelamkan Fir'aun dan bala tentaranya di laut. Maka kami berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur dan pengagungan kepada Allah."

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah ﷺ yang merupakan saudara seiman Nabi Musa—karena sama-sama bertauhid—bersabda dengan penuh keyakinan, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian." Maka beliau pun memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa pada hari itu.

Kisah ini menunjukkan betapa indahnya ajaran Islam. Kita tidak hanya menghormati nabi kita sendiri, tetapi juga menghormati seluruh nabi Allah. Dan cara menghormati mereka adalah dengan mengikuti petunjuk mereka, yaitu bertauhid dan bersyukur kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Jika mampu, kita juga dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu'a) untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi.
  2. Jadikan ibadah sebagai bentuk syukur. Ketika mendapat nikmat atau kemenangan, perbanyaklah puasa, shalat, dan doa, bukan malah berfoya-foya.
  3. Cintai seluruh nabi. Kita wajib mengimani dan mencintai semua rasul tanpa membeda-bedakan, karena mereka semua adalah utusan Allah yang membawa risalah tauhid.
  4. Jauhi sikap berlebihan (ghuluw). Jangan menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung atau perayaan yang berlebihan, karena tidak ada tuntunannya dari Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.