Penjelasan Hadits Muslim No. 1101 tentang Waktu berbuka puasa saat matahari terbenam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa waktu berbuka puasa adalah ketika matahari benar-benar telah terbenam dan malam mulai datang dari arah timur. Nabi ﷺ tidak menunggu lama setelah matahari hilang, bahkan ketika sebagian sahabat masih merasa "masih ada siang", beliau tetap menyuruh segera berbuka. Ini menunjukkan bahwa syariat Islam itu mudah dan tidak memberatkan, serta berbuka tepat pada waktunya adalah sunnah yang dianjurkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar:

QS. Al-Baqarah [2]: 187

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Terjemahan: "Dan makanlah serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam."

Ayat ini menjadi dalil utama bahwa batas akhir puasa adalah datangnya malam (matahari terbenam), bukan sekadar hilangnya cahaya matahari secara samar.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa berbuka dilakukan setelah matahari terbenam secara yakin, dan isyarat Nabi ﷺ dengan tangannya menegaskan dua arah: terbenamnya matahari di barat dan datangnya malam dari timur.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini menggambarkan peristiwa ketika Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan (safar) di bulan Ramadan. Setelah matahari terbenam, beliau langsung memerintahkan seorang sahabat untuk turun dan menyiapkan makanan berbuka. Sahabat tersebut ragu dan berkata, "Wahai Rasulullah, masih ada siang." Ini menunjukkan bahwa secara pandangan mata, cahaya masih tampak terang. Namun Nabi ﷺ mengulangi perintahnya, dan setelah makanan siap, beliau langsung meminumnya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangan: jika matahari telah terbenam dari satu arah (barat) dan malam telah datang dari arah lain (timur), maka orang yang berpuasa telah masuk waktu berbuka.

Pemahaman para ulama dalam daftar:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah penting: pertama, disunnahkan menyegerakan berbuka ketika matahari telah terbenam. Kedua, yang menjadi patokan adalah terbenamnya matahari (ghurub), bukan hilangnya cahaya secara sempurna. Ketiga, isyarat Nabi ﷺ menunjukkan bahwa datangnya malam dari timur adalah tanda pasti matahari telah terbenam.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits serupa dari riwayat lain menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa tidak perlu menunggu gelap total; cukup dengan terbenamnya matahari, maka waktu berbuka telah masuk.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Baqarah [2]: 187 menjelaskan bahwa "ilal lail" (sampai malam) berarti sampai matahari terbenam. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah ijma' (kesepakatan) para ulama.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah orang yang paling bersemangat menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, dan ini merupakan rahmat Allah bagi hamba-Nya.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam kitab syarah hadits menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang ragu apakah matahari sudah terbenam atau belum, maka dia tidak boleh berbuka sampai yakin. Namun jika sudah yakin terbenam, maka segera berbuka meskipun langit masih terang.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama membahas tentang orang yang berada di tempat tinggi atau di pesawat. Namun prinsip dasarnya tetap sama: jika matahari telah terbenam menurut pandangan orang tersebut, maka dia berbuka. Syeikh al-Utsaimin menegaskan bahwa patokan adalah terbenamnya matahari di tempat orang itu berada, bukan di tempat lain.

Yang paling kuat:

Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai dengan zhahir hadits: berbuka dilakukan ketika matahari telah terbenam secara yakin, dan tidak perlu menunggu gelap total. Ini adalah madzhab jumhur ulama dari kalangan empat imam dan yang lainnya.

Story Telling

Dikisahkan dalam hadits ini bahwa Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu menceritakan pengalaman beliau bersama Nabi ﷺ dalam perjalanan. Ketika matahari terbenam, Nabi ﷺ memerintahkan seorang sahabat untuk menyiapkan makanan berbuka. Sahabat itu masih melihat cahaya terang dan berkata, "Wahai Rasulullah, masih ada siang." Namun Nabi ﷺ dengan lembut namun tegas mengulangi perintahnya. Sahabat itu pun turun dan menyiapkan makanan dari jelai yang dipanggang. Nabi ﷺ meminumnya, lalu memberi isyarat dengan tangan beliau: "Jika matahari telah terbenam dari sini dan malam telah datang dari sini, maka orang yang berpuasa telah berbuka."

Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa syariat ini mudah. Beliau tidak ingin memberatkan umatnya dengan menunggu lebih lama. Bahkan ketika secara pandangan masih tampak terang, beliau tetap menyegerakan berbuka karena matahari telah terbenam. Ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, karena berbuka tepat waktu adalah rahmat dan meringankan beban orang yang berpuasa.

Kesimpulan Praktis

  1. Waktu berbuka adalah saat matahari terbenam, bukan saat gelap total. Jika matahari telah terbenam secara yakin, segeralah berbuka.
  2. Menyegerakan berbuka adalah sunnah yang dianjurkan oleh Nabi ﷺ dan para ulama.
  3. Jika ragu apakah matahari sudah terbenam atau belum, maka tunggu sampai yakin, karena ibadah puasa harus berdasarkan keyakinan.
  4. Jangan menunda berbuka tanpa alasan syar'i, karena itu menyelisihi sunnah Nabi ﷺ.
  5. Isyarat Nabi ﷺ mengajarkan bahwa datangnya malam dari timur dan terbenamnya matahari di barat adalah tanda pasti waktu berbuka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?