Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa satu bulan dalam kalender Hijriah itu bisa berjumlah 29 atau 30 hari. Nabi ﷺ memberikan isyarat dengan tangannya untuk menjelaskan bahwa bulan itu terkadang 29 hari, dan beliau menahan satu jari untuk menunjukkan angka 29. Ini adalah dalil penting bahwa penetapan awal bulan tidak bisa dipastikan selalu 30 hari, melainkan harus melihat hilal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Puasa, Bab "Bulan yang Berjumlah Dua Puluh Sembilan", nomor 1084, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، - رضى الله عنه - أَنَّهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ اعْتَزَلَ نِسَاءَهُ شَهْرًا فَخَرَجَ إِلَيْنَا فِي تِسْعٍ وَعِشْرِينَ فَقُلْنَا إِنَّمَا الْيَوْمُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ . فَقَالَ " إِنَّمَا الشَّهْرُ " . وَصَفَّقَ بِيَدَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَحَبَسَ إِصْبَعًا وَاحِدَةً فِي الآخِرَةِ .
Terjemahan ringkas:
Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah ﷺ mengasingkan diri dari istri-istrinya selama sebulan, lalu beliau keluar menemui kami pada hari ke-29. Kami berkata: 'Sesungguhnya hari ini adalah hari ke-29.' Maka beliau bersabda: 'Bulan itu (bisa 29 hari),' sambil beliau menepukkan kedua tangannya tiga kali, namun menahan satu jarinya pada tepukan yang terakhir."
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Baqarah [2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)."
Ayat ini menunjukkan bahwa penetapan bulan Ramadhan dan ibadah puasa terkait dengan kalender bulan (Hijriah), yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan, bukan matahari.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa bulan itu bisa 29 hari, dan isyarat Nabi ﷺ dengan jari adalah untuk menjelaskan makna tersebut kepada para sahabat.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits-hadits tentang jumlah hari dalam sebulan dan menjelaskan bahwa penetapan awal bulan harus berdasarkan ru'yatul hilal (melihat bulan sabit).
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Konteks Historis
Rasulullah ﷺ pernah mengasingkan diri dari istri-istrinya selama satu bulan penuh. Ini terjadi karena ada peristiwa yang membuat beliau bersumpah untuk tidak mendekati istri-istrinya selama sebulan. Setelah bulan itu berlalu, beliau keluar menemui para sahabat pada hari ke-29. Para sahabat mengira hari itu sudah masuk hari ke-30, namun Nabi ﷺ menjelaskan bahwa bulan itu ternyata hanya 29 hari.
2. Isyarat Nabi ﷺ dengan Tangan
Nabi ﷺ menepukkan kedua tangannya tiga kali, dan pada tepukan ketiga beliau menahan satu jarinya. Ini adalah isyarat visual yang sangat jelas: 10 + 10 + 9 = 29. Beliau mengajarkan bahwa satu bulan itu bisa 29 hari, dan ini adalah pengajaran langsung dengan metode yang mudah dipahami.
3. Pelajaran tentang Penetapan Awal Bulan
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa bulan Hijriah tidak selalu 30 hari, melainkan bisa 29 hari. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika kalian terhalang oleh mendung, maka sempurnakanlah bulan Sya'ban menjadi 30 hari." (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Hikmah dari Peristiwa Ini
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ berinteraksi dengan para sahabat dengan penuh kelembutan. Beliau tidak marah ketika para sahabat mengira hari itu sudah 30 hari, melainkan dengan tenang menjelaskan bahwa bulan itu 29 hari.
5. Pelajaran tentang Ibadah dan Kehidupan
Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa dalam kehidupan rumah tangga pun, Nabi ﷺ memberikan contoh bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara yang baik. Beliau tidak keluar dari rumah dengan kemarahan, melainkan dengan ketenangan dan memberikan penjelasan yang baik kepada umatnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengasingkan diri dari istri-istrinya, para sahabat seperti Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu sangat khawatir. Umar berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau menceraikan istri-istrimu?" Nabi ﷺ menjawab: "Tidak, aku hanya bersumpah untuk tidak mendekati mereka selama sebulan."
Ketika masa sebulan itu selesai, Nabi ﷺ keluar menemui para sahabat pada hari ke-29. Para sahabat yang hadir mengira hari itu sudah masuk hari ke-30, namun Nabi ﷺ dengan bijaksana menjelaskan bahwa bulan itu hanya 29 hari. Beliau memberikan isyarat dengan tangannya agar para sahabat memahami dengan jelas.
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk selalu tenang dalam menghadapi situasi, memberikan penjelasan dengan cara yang baik, dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Beliau juga mengajarkan bahwa ilmu itu harus disampaikan dengan cara yang mudah dipahami oleh orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Bulan Hijriah bisa 29 atau 30 hari — kita tidak boleh memastikan jumlah hari dalam sebulan kecuali dengan melihat hilal atau menyempurnakan bulan sebelumnya menjadi 30 hari.
- Gunakan metode yang mudah dipahami — Nabi ﷺ mengajarkan dengan isyarat tangan, menunjukkan bahwa menyampaikan ilmu harus dengan cara yang sesuai dengan kondisi pendengar.
- Tetap tenang dan bijaksana — Dalam menghadapi perbedaan pendapat atau kesalahpahaman, kita harus mencontoh Nabi ﷺ yang menjelaskan dengan lembut tanpa kemarahan.
- Hidup berpegang pada sunnah — Dalam urusan ibadah seperti puasa dan hari raya, kita harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan sekadar perkiraan atau kebiasaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.