Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan tiga golongan yang akan mendapat ancaman berat pada Hari Kiamat: orang yang menahan kelebihan air dari musafir yang membutuhkan, orang yang bersumpah dusta demi menjual barang, dan orang yang berbai'at kepada pemimpin hanya demi keuntungan dunia. Mereka tidak diajak bicara, tidak dipandang, dan tidak disucikan oleh Allah, serta mendapat azab yang pedih. Ini menunjukkan bahwa dosa-dosa ini bukan sekadar pelanggaran biasa, tetapi menyangkut hak orang lain, kejujuran, dan keikhlasan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang disebutkan:
ثَلاَثٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemah ringkas: "Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat, tidak akan dilihat oleh-Nya, tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih."
Ayat yang sangat berkaitan dengan ancaman ini:
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(QS. Ali 'Imran [3]: 77)
Terjemah ringkas: "Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka tidak mendapat bagian di akhirat, Allah tidak akan berbicara dengan mereka, tidak akan melihat mereka pada Hari Kiamat, tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencakup orang yang menjual agama dan janjinya demi keuntungan duniawi, dan hadits Abu Hurairah ini termasuk contoh nyata dari ancaman tersebut. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa ancaman "tidak diajak bicara, tidak dipandang, dan tidak disucikan" adalah bentuk kemurkaan dan penghinaan yang sangat besar, bukan berarti Allah tidak mampu berbicara, tetapi Allah berpaling dari mereka karena kezaliman mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyebut tiga golongan secara khusus:
Pertama: Orang yang menahan kelebihan air di padang yang sunyi dari musafir.
Ini bukan sekadar pelit, tetapi menahan sesuatu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa orang ini memiliki air lebih dari kebutuhannya, sementara ada musafir yang hampir binasa karena kehausan, namun ia tetap menolak memberikannya. Ini termasuk kezaliman besar, karena air di tempat seperti itu bukan milik pribadi secara mutlak, tetapi kebutuhan darurat yang harus dibagi.
Kedua: Orang yang bersumpah dusta dalam jual beli setelah Ashar.
Ia bersumpah dengan nama Allah bahwa barang itu dibeli dengan harga tertentu, padahal dusta, agar pembeli percaya dan membelinya. Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa sumpah dusta dengan nama Allah adalah dosa besar, terlebih jika digunakan untuk memakan harta orang lain secara batil. Waktu setelah Ashar disebutkan karena pada waktu itu banyak orang berkumpul dan sumpah lebih mudah dipercaya, sehingga dosanya lebih berat.
Ketiga: Orang yang berbai'at kepada pemimpin hanya karena dunia.
Ia taat jika diberi harta atau jabatan, dan tidak taat jika tidak diberi. Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa bai'at dalam Islam adalah janji ketaatan kepada Allah, bukan transaksi duniawi. Jika seseorang berbai'at dengan niat mendapatkan keuntungan materi, maka ia telah merusak makna bai'at dan menjadikan agama sebagai alat mencari dunia.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa tiga golongan ini memiliki kesamaan: mereka semua mengorbankan hak Allah dan hak manusia demi kepentingan diri sendiri. Yang pertama menahan hak musafir, yang kedua menipu pembeli dengan sumpah dusta, dan yang ketiga mengkhianati janji bai'at demi dunia.
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa dosa-dosa yang berkaitan dengan hak manusia dan kejujuran adalah dosa yang sangat berat, karena menyangkut kezaliman dan penipuan. Beliau juga menjelaskan bahwa "tidak diajak bicara" berarti Allah tidak memberi mereka kemuliaan dan tidak menerima alasan mereka, sedangkan "tidak dipandang" berarti Allah tidak memberi rahmat, dan "tidak disucikan" berarti tidak dibersihkan dari dosa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sangat menjaga hadits-hadits tentang ancaman dosa, karena beliau ingin umat ini selamat. Suatu ketika beliau menyampaikan hadits ini kepada para tabi'in, dan Al-Hasan al-Bashri termasuk yang meriwayatkan dan mengajarkannya. Al-Hasan al-Bashri dikenal sering menangis ketika menyampaikan hadits tentang ancaman Hari Kiamat, dan beliau berkata: "Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan bai'atnya, maka ia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat."
Sufyan ats-Tsauri juga pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat dosa yang lebih berat daripada sumpah dusta, karena Allah menyebutkan ancaman khusus bagi pelakunya." Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat takut terhadap dosa-dosa yang berkaitan dengan kejujuran dan hak orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Jangan menahan kelebihan air atau kebutuhan pokok dari orang yang membutuhkan, terutama dalam keadaan darurat.
- Jangan bersumpah dusta dalam jual beli atau urusan apa pun, karena sumpah dengan nama Allah adalah perkara besar.
- Jangan berbai'at atau taat kepada pemimpin hanya karena dunia; niatkan ketaatan karena Allah.
- Bertaubatlah jika pernah melakukan salah satu dari tiga hal ini, dan kembalikan hak orang lain.
- Jagalah kejujuran dan keikhlasan dalam setiap muamalah, karena Allah melihat niat dan amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.