Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 107 tentang Larangan sombong, zina tua, dan pemimpin dusta

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang tiga golongan manusia yang akan mendapatkan kemurkaan Allah pada Hari Kiamat, yaitu mereka yang tidak akan diajak bicara, tidak disucikan, tidak dilihat oleh Allah dengan pandangan rahmat, dan mendapatkan azab yang pedih. Ketiganya adalah: orang tua yang berzina, pemimpin yang berdusta, dan orang miskin yang sombong. Ini adalah peringatan keras agar kita menjaga diri dari dosa-dosa besar yang disebutkan, terutama di usia senja, saat memegang amanah kepemimpinan, dan ketika berada dalam kondisi kekurangan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, Bab "Penjelasan tentang Beratnya Larangan Menggandengkan Pakaian dan Memberikan Hadiah dengan Mengharapkan Balasan serta Menyatakan Tiga Orang yang Tidak Akan Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Kiamat" (no. 107), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Terdapat juga riwayat lain dalam Shahih Muslim (no. 108) yang menyebutkan tiga golongan lain, yaitu: orang yang menggandengkan pakaiannya (isbal/khusy'ah), orang yang memberi hadiah tetapi menyebut-nyebut pemberiannya (al-mannan), dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu. Ini menunjukkan bahwa larangan tersebut sangat berat.

Allah Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur [24]: 4)

Ayat ini menunjukkan betapa besarnya dosa zina, dan jika pelakunya sudah tua, maka dosanya lebih besar lagi karena ia telah menginjak usia yang seharusnya menjadikannya lebih bertakwa.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan makna hadits ini dengan sangat mendalam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa "tidak diajak bicara" (لا يُكَلِّمُهُمُ) berarti Allah murka kepada mereka dan tidak memberikan penghormatan berupa pembicaraan yang baik. Adapun "tidak disucikan" (لا يُزَكِّيهِمْ) berarti Allah tidak membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka dan tidak menerima amal-amal mereka. Sedangkan "tidak dilihat" (لا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ) menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim adalah tidak dilihat dengan pandangan rahmat dan kasih sayang, bukan berarti Allah tidak melihat mereka secara mutlak, karena Allah melihat segala sesuatu.

1. Syaikhun Zani (Orang Tua yang Berzina)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dosa zina yang dilakukan oleh orang tua lebih berat daripada yang dilakukan oleh orang muda. Alasannya, orang tua telah memiliki akal yang matang, pengalaman hidup yang panjang, dan seharusnya lebih takut kepada Allah. Ia telah melewati masa muda yang penuh syahwat, sehingga seharusnya syahwatnya sudah mereda. Jika ia masih berzina di usia tua, ini menunjukkan bahwa ia tidak memiliki rasa malu dan tidak menghormati usianya sendiri. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menambahkan bahwa orang tua yang berzina telah mengkhianati kepercayaan Allah yang memberinya umur panjang untuk beribadah, tetapi ia gunakan untuk bermaksiat.

2. Malikun Kadzdzab (Raja/Pemimpin yang Pendusta)

Yang dimaksud adalah pemimpin yang berdusta dalam perkataannya, mengingkari janjinya, dan menipu rakyatnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dusta seorang pemimpin lebih berbahaya daripada dusta rakyat biasa, karena kebohongannya akan menyesatkan banyak orang dan merusak kepercayaan publik. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menegaskan bahwa pemimpin yang jujur adalah pondasi keamanan dan kesejahteraan rakyat, sedangkan pemimpin yang dusta adalah sumber kekacauan dan kehancuran.

3. 'Ailun Mustakbir (Orang Miskin yang Sombong)

Kata "عائل" berarti orang yang memiliki tanggungan keluarga tetapi kekurangan harta, atau orang miskin. Sombong pada orang miskin lebih tercela daripada sombong pada orang kaya, karena orang miskin tidak memiliki alasan untuk berbangga dengan harta atau kedudukan. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya, dan ketika penyakit ini menimpa orang yang tidak memiliki kelebihan duniawi, maka itu menunjukkan kebodohan dan kehinaan dirinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Istiqamah menyebutkan bahwa kesombongan adalah pangkal dari kezaliman dan penolakan terhadap kebenaran.

Para ulama juga menyebutkan bahwa ketiga sifat ini memiliki kesamaan: semuanya adalah bentuk dari ghuluw (melampaui batas) dan melanggar fitrah. Orang tua yang berzina melampaui batas syahwatnya, pemimpin yang dusta melampaui batas amanahnya, dan orang miskin yang sombong melampaui batas kemampuan dirinya.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat, tidak dilihat, dan tidak disucikan, serta bagi mereka azab yang pedih: seorang laki-laki yang memiliki kelebihan air di padang pasir, lalu ia menolak memberikannya kepada musafir; seorang laki-laki yang membaiat seorang pemimpin hanya untuk kepentingan dunia, jika diberi ia ridha dan jika tidak diberi ia marah; dan seorang laki-laki yang menawarkan dagangannya setelah Ashar dengan sumpah palsu, 'Demi Allah, barang ini dibeli dengan harga sekian', padahal tidak demikian." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa dosa-dosa yang berkaitan dengan hak Allah dan hak hamba sangat berat. Namun, dalam hadits yang kita bahas, dosa-dosa tersebut lebih berat lagi karena melibatkan pelanggaran terhadap fitrah dan akal sehat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi zina di segala usia, terutama di usia tua. Jika seseorang telah berzina di masa mudanya, hendaknya ia segera bertaubat dengan taubat nasuha, karena Allah Maha Pengampun.
  2. Jadilah pemimpin yang jujur, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat. Kejujuran adalah modal utama kepemimpinan yang berkah.
  3. Hindari kesombongan dalam kondisi apa pun, terutama ketika kita sedang kekurangan. Kesombongan adalah sifat iblis yang menyebabkan ia diusir dari surga.
  4. Perbanyak istighfar dan taubat, karena tidak ada seorang pun yang luput dari dosa. Pintu taubat terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
  5. Jaga lisan dan perbuatan dari dusta, karena dusta adalah pangkal dari segala keburukan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.