Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 1050 tentang Manusia tidak akan puas dengan harta dunia

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu yang mengingatkan bahwa sifat tamak manusia tidak akan pernah puas dengan harta dunia, sekalipun ia memiliki dua lembah penuh emas, ia tetap menginginkan yang ketiga. Satu-satunya yang bisa mengisi "perut" keserakahan manusia hanyalah tanah kubur. Ini adalah peringatan keras agar kita tidak tenggelam dalam cinta dunia dan lupa akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 1050, dari jalur Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Makna hadits ini juga dikuatkan oleh sabda Nabi ﷺ dalam riwayat lain:

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim:

"Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan lembah kedua. Dan seandainya ia memiliki dua lembah, niscaya ia akan menginginkan lembah ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya." (HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. At-Takatsur [102]: 1-2

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ﴿١﴾ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ﴿٢﴾

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur."

Penjelasan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (7/107) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya kecintaan manusia terhadap harta dan betapa sulitnya merasa cukup. Beliau berkata: "Ini adalah permisalan yang sangat tepat tentang ketamakan manusia. Manusia tidak akan pernah puas dengan harta, dan satu-satunya yang menghentikan ambisinya adalah kematian."

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (11/256) menambahkan bahwa makna "tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah" adalah bahwa manusia akan terus menumpuk harta hingga ajal menjemput, lalu tanah kuburlah yang menjadi tempat tinggal abadinya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat kehidupan dunia dan sifat dasar manusia. Berikut penjelasan rincinya:

1. Sifat Tamak Manusia

Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu mengingatkan bahwa manusia tidak akan pernah puas dengan harta. Jika ia memiliki satu lembah, ia ingin dua. Jika dua, ia ingin tiga. Ini adalah fitrah manusia yang lemah, sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. Al-Ma'arij [70]: 19)

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam (1/456) menjelaskan bahwa ketamakan ini adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Beliau berkata: "Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan. Semakin banyak harta, semakin besar keinginan untuk menambahnya, dan semakin lalai dari mengingat Allah."

2. Makna "Tidak Ada yang Memenuhi Perut Anak Adam Kecuali Tanah"

Ini adalah metafora yang sangat kuat. Maksudnya, manusia akan terus mengejar harta hingga ajal menjemput. Ketika ia mati dan dikubur, barulah ambisinya berhenti. Tanah kuburlah yang menjadi "pengisi" terakhir bagi keserakahannya.

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (8/468) saat menafsirkan QS. At-Takatsur mengatakan: "Ayat ini dan hadits ini saling menguatkan. Manusia terus bermegah-megahan dengan harta, anak, dan kedudukan, hingga mereka mati dan masuk kubur. Di sanalah mereka sadar, namun sudah terlambat."

3. Peringatan Agar Hati Tidak Keras

Dalam hadits ini, Abu Musa juga mengingatkan para qurra' (pembaca Al-Qur'an) agar tidak panjang angan-angan (thul al-amal) yang menyebabkan hati menjadi keras. Ini adalah nasihat yang sangat penting. Membaca Al-Qur'an seharusnya melembutkan hati, bukan sebaliknya.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya umurmu adalah hari-harimu. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi. Maka janganlah engkau tertipu dengan panjangnya angan-angan." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dunya dalam Qishar Al-Amal)

4. Hikmah dari Kisah Surah yang Dilupakan

Abu Musa menyebutkan bahwa dulu ada surah yang panjang seperti surah At-Taubah (Bara'ah) yang berisi ayat tentang larangan tamak, dan surah lain yang berisi ayat tentang larangan berkata tanpa berbuat. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an sejak awal telah memperingatkan umat Islam tentang bahaya cinta dunia dan kemunafikan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu hari, sahabat mulia Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu melihat sekelompok orang yang sedang sibuk mengumpulkan harta. Beliau lalu berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya aku melihat kalian seperti orang yang sedang berlomba mengumpulkan pasir. Kalian kira pasir itu akan bermanfaat bagi kalian? Demi Allah, tidak ada yang bisa memenuhi perut kalian kecuali tanah." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Dunya dalam Az-Zuhd)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para sahabat sangat memahami hakikat dunia. Mereka tidak tertipu oleh gemerlapnya harta, karena mereka yakin bahwa akhiratlah yang kekal.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari sifat tamak dalam diri – Setiap manusia memiliki potensi tamak. Maka, latihlah diri untuk qana'ah (merasa cukup) dan bersyukur atas apa yang dimiliki.
  2. Jangan panjang angan-angan – Ingatlah bahwa kematian bisa datang kapan saja. Jangan menunda taubat dan jangan sibuk mengumpulkan harta hingga lupa ibadah.
  3. Perbanyak sedekah – Cara terbaik mengobati ketamakan adalah dengan memberi. Sedekah membersihkan harta dan hati.
  4. Jadikan Al-Qur'an sebagai pengingat – Bacalah Al-Qur'an dengan tadabbur, agar hati menjadi lembut dan tidak keras.
  5. Jangan berkata tanpa berbuat – Ayat yang diingat Abu Musa mengingatkan agar kita konsisten antara ucapan dan perbuatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.