Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang larangan keras melakukan perbuatan-perbuatan yang menyerupai kebiasaan orang-orang jahiliyah ketika tertimpa musibah, yaitu: meratap dengan suara keras (al-shalq), mencukur rambut karena kesedihan (al-halq), dan merobek-robek pakaian (al-syaqq). Rasulullah ﷺ berlepas diri dari orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan itu adalah dosa besar yang harus dijauhi, karena bertentangan dengan sikap sabar dan ridha terhadap takdir Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab Tahrimu Darbi al-Khudud wa Syarqi al-Tsiyab wa al-Du'a bi Da'wa al-Jahiliyyah (Bab Mengharamkan Menampar Pipi, Merobek Pakaian, dan Berdoa dengan Doa Jahiliyah), no. 104. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jana'iz, Bab Ma Yuhra min al-Niyahah 'ala al-Mayyit, no. 1294, dari jalur lain.
Dalil Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa musibah adalah ujian dari Allah, dan sikap yang benar adalah bersabar, bukan berputus asa atau melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang seperti meratap dan merobek pakaian.
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (2/120) menjelaskan bahwa al-shalqah adalah wanita yang berteriak dengan suara keras dan melengking ketika tertimpa musibah. Al-haliqah adalah wanita yang mencukur rambutnya karena musibah. Al-syaqqah adalah wanita yang merobek pakaiannya karena musibah. Beliau menegaskan bahwa semua perbuatan ini adalah haram dan termasuk dosa besar.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (3/164) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebencian yang sangat terhadap perbuatan-perbuatan tersebut, dan bahwa pelakunya diancam dengan berlepas dirinya Rasulullah ﷺ darinya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan dari Abu Burdah bin Abi Musa al-Asy'ari, bahwa ayahnya, Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, pernah sakit keras hingga pingsan. Ketika itu, salah seorang wanita dari keluarganya berteriak keras karena melihat kondisinya yang kritis. Abu Musa tidak mampu menjawab karena lemahnya. Ketika sadar, beliau segera mengingkari perbuatan wanita tersebut dan menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang Rasulullah ﷺ juga berlepas diri darinya.
Rasulullah ﷺ berlepas diri dari tiga perbuatan:
- Al-Shalqah (الصَّالِقَةُ): Wanita yang berteriak dengan suara keras dan melengking ketika tertimpa musibah. Ini termasuk meratapi mayat dengan suara keras yang menjadi kebiasaan orang jahiliyah.
- Al-Haliqah (الْحَالِقَةُ): Wanita yang mencukur rambutnya karena kesedihan atas musibah. Ini adalah bentuk berlebihan dalam bersedih yang dilarang, karena mencerminkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
- Al-Syaqqah (الشَّاقَّةُ): Wanita yang merobek-robek pakaiannya karena kesedihan. Ini juga termasuk perbuatan berlebihan yang dilarang.
Pandangan Ulama:
- Imam al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab Ma Yuhra min al-Niyahah 'ala al-Mayyit (Bab yang Diharamkan dari Meratapi Mayat), menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan ini termasuk dalam kategori meratap yang diharamkan.
- Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam 'Uddat al-Shabirin menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk menjaga kesempurnaan iman dan kesabaran seorang hamba. Ketika seseorang tertimpa musibah, ia harus bersabar dan mengucapkan istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), bukan melakukan perbuatan yang menunjukkan kemarahan terhadap takdir Allah.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh al-Shalihin (4/89) menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan ini termasuk dosa besar karena Rasulullah ﷺ berlepas diri dari pelakunya. Berlepas diri dari Nabi ﷺ berarti pelakunya berada dalam bahaya besar, dan ini menunjukkan betapa buruknya perbuatan tersebut.
Hikmah Larangan:
- Musibah adalah ujian dari Allah yang harus dihadapi dengan sabar dan ikhlas.
- Meratap dan merobek pakaian menunjukkan ketidakridhaan terhadap qadha dan qadar Allah.
- Perbuatan-perbuatan tersebut adalah warisan budaya jahiliyah yang harus dijauhi oleh umat Islam.
- Sikap yang benar adalah bersabar, berdoa, dan mengharap pahala dari Allah.
Story Telling
Ada kisah indah tentang kesabaran seorang sahabat yang bisa kita jadikan pelajaran. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 918) dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا
"Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintahkan Allah: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Allahumma'jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya), kecuali Allah akan memberikan ganti yang lebih baik baginya."
Ummu Salamah berkata: "Ketika Abu Salamah (suaminya) wafat, aku mengucapkan doa itu sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah ﷺ. Maka Allah menggantikannya dengan suami yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah ﷺ sendiri."
Kisah ini menunjukkan bahwa kesabaran dan doa yang diajarkan Nabi ﷺ akan mendatangkan kebaikan, berbeda dengan perbuatan meratap dan merobek pakaian yang justru mendatangkan murka Allah.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi tiga perbuatan yang Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya: berteriak keras saat musibah, mencukur rambut karena sedih, dan merobek pakaian.
- Bersabar dan mengucapkan istirja' ketika tertimpa musibah, karena itu adalah sikap yang dicintai Allah.
- Berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Allahumma'jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha.
- Hibur keluarga yang tertimpa musibah dengan mengingatkan mereka untuk bersabar dan tidak berlebihan dalam bersedih.
- Jadikan musibah sebagai sarana introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai alasan untuk berputus asa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.