Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengisahkan tentang turunnya firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 79 sebagai bantahan terhadap kaum munafik yang mencela dua golongan sahabat yang bersedekah: (1) orang yang bersedekah dengan harta yang banyak, dan (2) orang miskin yang bersedekah dengan hasil jerih payahnya yang sedikit. Hadits ini mengajarkan bahwa Allah menilai keikhlasan dan usaha seorang hamba, bukan jumlah atau besarnya sedekah. Celaan orang-orang munafik tidak akan mengurangi pahala di sisi Allah, bahkan justru menjadi sebab turunnya pujian dari Allah bagi para sahabat tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an (QS. At-Taubah [9]: 79)
Teks Arab (dengan harakat lengkap):
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۗ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Terjemahan: "(Yaitu) orang-orang yang mencela para pemberi sedekah sukarela di antara orang-orang beriman, dan orang-orang yang tidak menemukan (untuk disedekahkan) kecuali sekadar kemampuan (hasil kerja keras) mereka, lalu mereka (orang-orang munafik) menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih."
2. Hadits Riwayat Muslim
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Zakat, Bab "Mengangkat dengan Upah yang Disedekahkan dan Larangan Keras untuk Mengurangi Sedekah", nomor 1018, dari sahabat Abu Mas'ud 'Uqbah bin 'Amr Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.
3. Kaitan dengan Ulama dari Daftar
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa yang disebutkan dalam hadits Abu Mas'ud ini, dan beliau menyebutkan beberapa riwayat tentang sebab turunnya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menjelaskan bahwa ayat ini mencela perbuatan orang-orang munafik yang menghina kaum mukminin yang bersedekah, baik yang kaya maupun yang miskin.
Penjelasan Rinci
Latar Belakang Kisah
Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk bersedekah. Saat itu, para sahabat yang bekerja sebagai buruh angkut (mereka biasa memikul barang di pasar Madinah) ikut serta bersedekah.
Abu 'Aqil radhiyallahu 'anhu bersedekah dengan setengah sha' kurma (sekitar 1,5 kg). Beliau termasuk orang yang tidak mampu, dan setengah sha' itu adalah hasil jerih payahnya yang sangat ia butuhkan.
Kemudian datang seorang sahabat lain yang membawa sedekah yang lebih banyak dari itu. Maka orang-orang munafik mulai mencela dengan dua tuduhan sekaligus:
- Mereka mencela Abu 'Aqil yang bersedekah sedikit: "Sesungguhnya Allah tidak butuh dengan sedekah orang ini" — seakan-akan sedekahnya sia-sia karena terlalu sedikit.
- Mereka mencela sahabat yang bersedekah banyak: "Orang ini tidak melakukan apa-apa kecuali hanya riya' (pamer)" — seakan-akan sedekahnya tidak ikhlas.
Bagaimana Ulama Memahami Ayat Ini
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah Ta'ala membalas celaan mereka dengan firman-Nya: "Allah akan membalas penghinaan mereka" — maksudnya, Allah akan membalas mereka dengan balasan yang setimpal di dunia dan akhirat. Di akhirat, mereka akan mendapatkan azab yang pedih.
Imam Ibnu Katsir menukil dari para ulama salaf bahwa ayat ini adalah pujian dari Allah untuk kedua golongan tersebut:
- Golongan Al-Muththawwi'in (orang-orang yang bersedekah dengan sukarela dan banyak), dan
- Golongan yang tidak menemukan kecuali hasil jerih payahnya — mereka bersedekah sesuai kemampuan, dan Allah menerima sedekah mereka.
Pelajaran Penting dari Hadits
Pertama: Sedekah Tidak Dilihat dari Jumlahnya
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bersedekah sesuai kemampuan, meskipun sedikit. Yang terpenting adalah keikhlasan dan usaha maksimal seorang hamba.
Kedua: Bahaya Mencela Orang yang Beramal
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mencela orang yang beramal kebaikan adalah perbuatan yang sangat tercela. Ini merupakan sifat orang-orang munafik yang disebut dalam Al-Qur'an.
Ketiga: Sikap Terhadap Orang yang Beramal
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa seorang mukmin seharusnya mendoakan kebaikan bagi saudaranya yang beramal, bukan mencela atau meremehkan amalnya. Jika kita tidak bisa beramal seperti dia, minimal kita tidak menghalangi atau merendahkan amalnya.
Keempat: Keikhlasan adalah Kunci Diterimanya Amal
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa amal yang sedikit namun ikhlas lebih dicintai Allah daripada amal yang banyak namun tercampur riya'. Inilah yang dicontohkan oleh Abu 'Aqil yang bersedekah setengah sha' dengan penuh keikhlasan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah ﷺ sangat gembira. Beliau bersabda kepada para sahabat yang dicela oleh orang-orang munafik itu:
"Sesungguhnya Allah telah membenarkan niat kalian berdua dan telah menurunkan ayat tentang kalian berdua."
Kisah ini menunjukkan betapa Allah menjaga hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Ketika manusia mencela mereka, Allah justru membela dan memuji mereka di dalam Al-Qur'an yang akan dibaca sampai hari kiamat.
Lihatlah bagaimana Abu 'Aqil — seorang buruh yang hanya mampu bersedekah setengah sha' — namanya diabadikan dalam sejarah Islam dan disebut dalam kitab-kitab tafsir sebagai teladan. Sedangkan orang-orang munafik yang mencela, Allah sebutkan dalam Al-Qur'an sebagai orang-orang yang akan mendapatkan azab yang pedih.
Ini mengajarkan kita: jangan pernah meremehkan amal kebaikan orang lain, sekecil apa pun. Dan jangan pernah merasa amal kita lebih baik dari amal orang lain. Bisa jadi amal yang kita anggap kecil itu justru lebih dicintai Allah karena keikhlasannya.
Kesimpulan Praktis
- Bersedekahlah sesuai kemampuan, meskipun sedikit. Jangan menunda sedekah karena merasa jumlahnya kecil.
- Jangan pernah mencela atau meremehkan amal orang lain, karena bisa jadi amal mereka lebih ikhlas dan lebih dicintai Allah daripada amal kita.
- Jauhkan diri dari sifat riya' — beramal karena ingin dilihat manusia. Perbaiki niat dan sembunyikan amal kebaikan sebisa mungkin.
- Jika melihat orang beramal, doakan mereka dengan kebaikan, jangan menghina atau menuduh mereka riya'.
- Yakinlah bahwa Allah melihat usaha dan keikhlasan, bukan sekadar hasil dan jumlah yang tampak di mata manusia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.